Taj Yasin Genjot RDF di Jateng, Semen Gresik Siap Serap Sampah Rembang Mulai April 2026

Folkstime.id – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mendorong percepatan pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai solusi konkret penanganan sampah sekaligus penguatan energi terbarukan di Jawa Tengah.

Dorongan itu disampaikan Taj Yasin saat menerima audiensi jajaran direksi PT Semen Gresik di ruang kerjanya, Kantor Wakil Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, persoalan sampah tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan konvensional. Pengolahan berbasis teknologi seperti RDF dinilai mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni pengurangan timbunan sampah dan penyediaan bahan bakar alternatif bagi industri.

“Pengelolaan sampah ini menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Kita perlu langkah konkret di daerah, salah satunya melalui pemanfaatan RDF,” ujar Taj Yasin.

Ia menegaskan, isu sampah juga menjadi perhatian langsung Presiden RI, Prabowo Subianto. Karena itu, pemerintah daerah diminta mempercepat sinergi dengan sektor industri agar hasil olahan sampah dari kabupaten/kota dapat terserap optimal.

Taj Yasin menekankan pentingnya keterlibatan industri dalam rantai pengelolaan sampah terpadu. Menurutnya, tanpa dukungan industri sebagai offtaker, proses pengolahan sampah menjadi RDF akan sulit berkelanjutan.

“Peran industri sangat penting, terutama dalam menyerap hasil olahan sampah dari daerah. Ini bukan hanya soal pengelolaan lingkungan, tetapi juga soal energi dan keberlanjutan,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Semen Gresik, Gatot Mardiana, menyatakan perusahaannya tengah mempercepat kesiapan infrastruktur guna mendukung pemanfaatan RDF sebagai substitusi bahan bakar fosil di pabrik semen.

Ia mengungkapkan, saat ini perusahaan telah menjalin kerja sama dengan enam kabupaten/kota di Jawa Tengah. Dari sejumlah daerah tersebut, Kabupaten Rembang menjadi proyek percontohan dengan progres paling signifikan.

“Secara teknis kami sudah siap. Untuk wilayah Rembang, jika tidak ada kendala, produksi akan dimulai pada April 2026 dan ditargetkan mulai masuk ke pasar pada awal 2027,” jelas Gatot.

Kendati demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan dalam tahap implementasi, terutama terkait sinkronisasi kesiapan antara pemerintah kabupaten/kota sebagai pengolah sampah dan industri sebagai pengguna RDF.

Menurut Gatot, standar kualitas RDF harus memenuhi spesifikasi teknis industri agar dapat digunakan secara optimal sebagai bahan bakar alternatif dalam proses produksi semen.

“Tantangan utamanya adalah memastikan kesiapan kedua belah pihak berjalan beriringan, baik dari sisi teknologi pengolahan maupun standar bahan bakar yang dibutuhkan industri,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemanfaatan RDF bukan sekadar memenuhi target administratif pengurangan sampah, tetapi merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menekan emisi karbon.

“Kami sudah melakukan investasi untuk mendukung pemakaian daripada RDF itu sendiri,” pungkasnya.

Dengan percepatan ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap skema pengolahan sampah berbasis RDF dapat menjadi model kolaborasi antara pemerintah daerah dan industri. Selain mengurangi beban tempat pembuangan akhir, langkah tersebut juga diharapkan mampu mempercepat transisi energi bersih serta menekan emisi karbon di sektor industri.(tya)

Artikel Menarik Lainnya