FOLKSTIME.ID – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang resmi memasuki babak baru kepemimpinan setelah Prof Dr Musahadi dilantik sebagai Rektor UIN Walisongo Semarang.
Pelantikan berlangsung khidmat di Jakarta dan dipimpin langsung oleh Nasruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia.
Pelantikan ini menandai dimulainya kepemimpinan baru di kampus yang dikenal sebagai “Kampus Kemanusiaan dan Peradaban”.
Sebelum dipercaya memimpin universitas tersebut, Prof Musahadi menjabat sebagai Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) di UIN Walisongo Semarang.
Transformasi kepemimpinan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat integrasi ilmu agama dengan sains dan teknologi melalui konsep Unity of Sciences yang selama ini menjadi fondasi pengembangan akademik kampus.
Dalam amanat pelantikannya, Menteri Agama menegaskan bahwa pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) tidak hanya dituntut memiliki kapasitas akademik, tetapi juga harus mampu menjadi teladan moral sekaligus penggerak birokrasi yang efisien.
Menurut Menag, kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi keagamaan harus mampu membangun kolaborasi lintas lembaga, baik dengan kementerian maupun institusi lain, guna memperkuat posisi PTKN sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan moderasi beragama.
“Pemimpin kampus harus mampu membangun kolaborasi, bukan kompetisi yang saling mematikan. Sinergi dengan kementerian dan lembaga lain adalah kunci untuk menjadikan PTKN sebagai rujukan global,” tegasnya.
Di dunia akademik, nama Prof Musahadi dikenal luas sebagai pakar hukum Islam. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Islam dan kerap menjadi rujukan dalam berbagai diskursus keislaman kontemporer.
Salah satu gagasan yang banyak diperbincangkan adalah konsep “Fikih Prasmanan”, yang ia angkat dalam pidato pengukuhan profesor. Konsep tersebut menjadi refleksi kritis terhadap fenomena disrupsi pengetahuan agama di era digital, di mana otoritas keilmuan semakin bergeser ke ruang siber.
Sebagai akademisi, Prof Musahadi memiliki rekam jejak yang panjang di tingkat nasional maupun internasional. Ia aktif dalam berbagai forum ilmiah global serta terlibat dalam kajian resolusi konflik, mediasi, dan pengembangan studi hukum Islam kontemporer.
Salah satu karya pentingnya berjudul Mediasi dan Resolusi Konflik di Indonesia, yang menegaskan kepakarannya dalam menjembatani teks keagamaan dengan realitas sosial yang plural.
Kiprahnya dalam jaringan akademik internasional juga terlihat dari keterlibatannya sebagai reviewer di sejumlah jurnal ilmiah bereputasi. Pengalaman riset lintas negara, termasuk penelitian mengenai identitas muslim diaspora di Belanda, turut memperkuat kapasitasnya dalam mendorong internasionalisasi kampus.
Dengan latar belakang akademik dan kepemimpinan yang dimiliki, Prof Musahadi diharapkan mampu mengakselerasi visi Smart and Green Campus yang selama ini diusung UIN Walisongo.
Pengalamannya sebagai mantan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi diprediksi akan membawa inovasi teknologi dalam tata kelola universitas, sekaligus tetap menjaga nilai spiritualitas yang menjadi ciri khas kampus Walisongo.
Pelantikan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kualitas akademik, meningkatkan jumlah publikasi ilmiah bereputasi internasional, serta memastikan UIN Walisongo terus menjadi ruang inklusif yang merawat keberagaman dan dialog keilmuan di tengah masyarakat.






