FOLKSTIME.ID – Sinergi lintas BUMN kembali diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pengembangan dryport berbasis rel di KEK Industropolis Batang. Kolaborasi ini dinilai menjadi langkah konkret dalam membangun rantai logistik nasional yang terintegrasi dari kawasan industri hingga pelabuhan.
Proyek strategis ini melibatkan PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KEK Industropolis Batang) sebagai bagian dari Danareksa, bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah, serta Perumda Aneka Usaha Kabupaten Batang.
Penandatanganan dilakukan di Ballroom Gedung Pengelola KEK Industropolis Batang dan dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah. Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Ali Murtopo Simbolon, menilai kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam agenda nasional menekan biaya logistik.
“Integrasi antarmoda, khususnya berbasis rel dan pelabuhan, menjadi kunci efisiensi logistik nasional,” ujarnya.
Dalam skema ini, dryport akan berfungsi sebagai simpul penghubung antara kawasan industri dengan jaringan pelabuhan laut. Barang dari tenant industri akan dikonsolidasikan di dryport sebelum didistribusikan melalui jalur kereta api menuju pelabuhan, sehingga menciptakan alur distribusi yang lebih cepat dan efisien.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyebut peran kereta api dalam proyek ini akan menjadi tulang punggung distribusi barang. Menurutnya, moda rel mampu menghadirkan kapasitas besar dengan biaya lebih efisien serta dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan transportasi jalan.
Sementara itu, Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, menegaskan bahwa kehadiran dryport akan memperluas layanan pelabuhan hingga ke dalam kawasan industri. Hal ini memungkinkan proses ekspor-impor dilakukan lebih dekat dengan sumber produksi.
Dryport yang akan dibangun di atas lahan sekitar 30 hektare ini dirancang memiliki kapasitas awal 600.000–650.000 TEUs per tahun, dengan potensi pengembangan hingga 1 juta TEUs. Kapasitas tersebut diharapkan mampu mengakomodasi pertumbuhan industri di kawasan sekaligus meningkatkan daya saing logistik nasional.
Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Ngurah Wirawan, menegaskan bahwa proyek ini menjadi bagian dari strategi kawasan dalam membangun ekosistem industri yang lengkap. Menurutnya, kehadiran fasilitas logistik modern menjadi faktor penting dalam menarik investasi berkualitas.
Di sisi lain, Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menilai sinergi antar-BUMN dan pemerintah daerah akan mempercepat pembangunan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pengembangan dryport akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari tahap perencanaan dan studi kelayakan pada 2026, dilanjutkan pembangunan fisik pada 2027–2028, hingga operasional penuh yang akan disesuaikan dengan kebutuhan industri.
Melalui kolaborasi ini, KEK Industropolis Batang diharapkan tidak hanya menjadi pusat manufaktur, tetapi juga simpul logistik modern yang mampu menghubungkan industri nasional dengan pasar global secara lebih efisien.







