FOLKSTIME.ID – Siapa sangka tempurung kelapa, jerami padi, hingga limbah sawit yang kerap dianggap sampah ternyata bisa disulap menjadi pupuk organik inovatif bernilai tinggi.
Di tangan lima mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri Fakultas Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip), limbah-limbah tersebut menjelma menjadi Granubis, inovasi yang sukses meraih Juara II dalam ajang Krenova dan Rise Award 2026 yang digelar Pemerintah Kota Semarang, Selasa (28/4/2026).
Granubis merupakan singkatan dari Granular dan Biosilika. Produk ini dirancang sebagai pupuk organik untuk memulihkan kesuburan lahan pascabanjir di Kota Semarang yang selama ini menjadi persoalan serius bagi sektor pertanian.
Tim inovator muda tersebut terdiri dari Luis Ibanez Sitinjak sebagai ketua, bersama Mayada Jannati, Kholis Na’imah, Al Fariza, dan Marisha Yosepa Br Siburian. Mereka dibimbing oleh Dr. Ir. Fahmi Arifan ST, M.Eng, MM, IPM ASEAN Eng.
Ketua tim, Luis Ibanez Sitinjak, mengatakan ide Granubis berawal dari keresahan melihat lahan terdampak banjir yang menjadi kurang produktif.
“Jadi kami mengikuti lomba ini dengan mengusung judul Granubis, sebuah solusi inovatif untuk lahan pasca banjir di Semarang,” ujar Luis.
Menurutnya, tanah pascabanjir mengalami penurunan kualitas sehingga tanaman sulit tumbuh optimal. Karena itu, timnya mencari alternatif dengan memanfaatkan limbah biomasa lokal.
“Ketika kita menanam tanaman di lahan pasca banjir itu, banyak tanaman yang kurang efektif. Maka dari itu kami menemukan solusi dengan memanfaatkan biomasa lokal atau sampah organik lokal di Semarang,” katanya.
Dalam proses produksinya, tempurung kelapa dan jerami diolah menjadi biokar dan biosilika, sedangkan limbah sawit dimanfaatkan sebagai nutrisi organik tambahan. Semua bahan tersebut diramu melalui penelitian dan formulasi khusus di laboratorium.
Menariknya, seluruh bahan baku didapat dari wilayah Semarang. Bahkan, limbah sawit diperoleh dari kawasan Candi Golf yang memiliki pohon sawit sebagai tanaman hias.
“Semua bahan baku kami ambil dari Semarang. Sawit itu pun ternyata dari Semarang, karena di daerah Candi Golf ada yang menanam sawit menjadi tanaman hias. Jadi kami mengambil sampah sawit itu dari situ,” ungkap Luis.
Di balik keberhasilan tersebut, ada perjuangan panjang yang harus dilalui. Dalam waktu persiapan hanya sekitar satu bulan, tim harus melakukan observasi lapangan, mengumpulkan bahan baku, melakukan studi literatur, dan serangkaian uji coba di laboratorium.
“Persiapan lomba itu kurang lebih satu bulan. Setelah mengetahui lomba ini kami mulai mengamati inovasi apa yang bisa kami lakukan,” katanya.
Luis berharap Granubis bisa dikembangkan lebih lanjut melalui program inkubasi dari Pemerintah Kota Semarang agar tak berhenti sebagai karya lomba.
“Untuk penerapannya sendiri mungkin perlu bantuan pemerintah. Kami mengetahui juga kalau di Krenova ini kita mendapat fasilitas inkubasi. Terutama bagi tiga besar nanti akan diinkubasi lagi oleh Pemerintah Kota Semarang,” ujarnya.
Sementara itu, dosen pembimbing Dr. Fahmi Arifan menilai Granubis sangat relevan dengan kebutuhan pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan.
“Alhamdulillah ikut senang karena persiapannya cukup singkat. Lomba Krenova ini diadakan setiap tahun oleh Pemkot Semarang. Makanya kita mengambil tema tentang ketahanan pangan,” katanya.
Menurut Fahmi, produk ini berpotensi besar untuk digunakan petani di lahan perkebunan maupun pertanian seperti padi dan jagung.
“Nantinya Granubis ini bisa diimplementasikan ke petani-petani, baik di perkebunan maupun di lahan pertanian seperti padi, jagung, dan beberapa tanaman lainnya,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi kegigihan mahasiswanya yang harus berkali-kali melakukan eksperimen untuk menemukan formula terbaik.
“Suka dukanya memang mereka butuh waktu untuk di laboratorium. Mereka harus mencoba-coba formula yang pas,” katanya.
Kemenangan di Krenova 2026 menjadi langkah awal bagi Granubis untuk melangkah lebih jauh.
Dari limbah organik yang dianggap tak bernilai, kini lahir pupuk juara yang membawa harapan baru bagi lahan pertanian pascabanjir di Semarang.







