FOLKSTIME.ID — Mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah UIN Salatiga mendalami strategi ketahanan keluarga rentan saat melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di BKKBN, Rabu (29/4/2026).
Kunjungan ini mendapat perhatian langsung dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, yang hadir bersama jajaran pejabat kementerian.
Kampus Siapkan Agen Perubahan
Dekan Fakultas Dakwah UIN Salatiga, Adang Kuswaya, menegaskan bahwa KKL menjadi sarana mahasiswa memahami arah kebijakan pembangunan sosial berbasis keluarga.
“Isu ketahanan keluarga menjadi perhatian utama kami. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga disiapkan menjadi agen perubahan di masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, lulusan PMI diharapkan mampu berkontribusi langsung dalam penguatan keluarga di tingkat akar rumput.
Menteri Wihaji: Siap Kolaborasi dengan Kampus
Dalam suasana hangat, Menteri Wihaji yang juga alumnus STAIN Salatiga menyambut rombongan dengan penuh antusias.
“Menerima kunjungan dari adik-adik UIN Salatiga ini seperti pulang ke rumah. Kami sangat terbuka untuk kolaborasi antara kementerian dan kampus,” ungkapnya.
Soroti Tantangan Demografi dan Fenomena Childfree
Dalam sesi pemaparan, Wihaji menekankan pentingnya menyiapkan kualitas penduduk di tengah dinamika demografi, termasuk fenomena childfree yang berkembang di kalangan generasi muda.
Ia menjelaskan bahwa penguatan keluarga menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang tangguh dan berdaya saing.
Delapan Fungsi Keluarga Jadi Fondasi
Wihaji juga menyoroti pentingnya implementasi delapan fungsi keluarga, seperti fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, dan perlindungan.
“Penguatan fungsi keluarga harus dilakukan dengan pendekatan psikologi sosial agar mampu mencetak generasi yang empati dan tangguh,” jelasnya.
Bedah Konsep Keluarga Rentan
Lebih lanjut, kementerian memaparkan konsep keluarga rentan berdasarkan regulasi terbaru.
“Keluarga rentan adalah mereka yang tidak mampu beradaptasi dan memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsi keluarga secara optimal,” terang Wihaji.
Ia menyebut kerentanan bisa bersumber dari faktor ekonomi, sosial, hingga psikologis yang berpotensi memicu ketidakharmonisan.
Mahasiswa Didorong Turun ke Lapangan
Di akhir sesi, Wihaji mendorong mahasiswa PMI untuk berperan aktif dalam pendampingan masyarakat.
“Mahasiswa harus hadir memberikan solusi nyata agar keluarga mampu keluar dari siklus kerentanan,” tegasnya.
Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif yang memperkaya wawasan mahasiswa terkait kebijakan dan praktik pembangunan keluarga di Indonesia. (Rin)







