FOLKSTIME.ID -Penguatan kapasitas perempuan penghayat kepercayaan di Jawa Tengah telah dilaksanakan melalui agenda “Penguatan Kapasitas Perempuan Penghayat: Merawat Tradisi, Menjaga Bumi” yang diselenggarakan di Semarang, dengan fokus pada penguatan ekosistem Puan Hayati Jawa Tengah, kemandirian ekonomi, pelestarian budaya, serta penguatan spiritualitas dan pengembangan UMKM perempuan penghayat.
Penguatan Ekosistem Perempuan Penghayat di Semarang
Kegiatan yang melibatkan organisasi Puan Hayati Jawa Tengah tersebut telah difasilitasi melalui kerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah sebagai ruang konsolidasi untuk memperkuat identitas kepercayaan, ketahanan ekonomi, serta keberlanjutan nilai tradisi lokal.
Tiga Pilar: Spiritualitas, Budaya, dan UMKM
Penguatan program telah dirancang dengan pendekatan terintegrasi, di mana aspek spiritualitas Penghayat Kepercayaan, pelestarian kebudayaan, dan pengembangan kelompok usaha perempuan dijadikan satu kesatuan strategi. Materi mengenai UMKM, pemasaran produk, serta strategi peningkatan daya saing usaha telah diberikan untuk memperluas akses ekonomi komunitas.
Kemandirian Ekonomi dan Penguatan Nilai Tradisi
Kemandirian ekonomi perempuan penghayat telah ditegaskan sebagai fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan komunitas di tengah perubahan sosial.
“Penguatan ekonomi telah didorong agar kelompok usaha Puan Hayati dapat dibentuk dan diperkuat, termasuk strategi pemasaran yang lebih luas. Namun nilai-nilai ajaran luhur Penghayat Kepercayaan tetap dijadikan pegangan utama agar ekonomi dan spiritualitas berjalan seimbang,” ujar Ketua Puan Hayati Jawa Tengah, Dwi Utami.
Penguatan Kapasitas dan Wawasan Akademik
Dalam kegiatan tersebut, narasumber dari kalangan akademisi dan peneliti telah dilibatkan untuk memperluas perspektif peserta mengenai relasi budaya, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat Jawa.
Sejumlah pemateri telah dihadirkan, di antaranya Samsul Maarif yang akrab disapa Ancu, Asep dari Center for Religious and Cross-cultural Studies UGM, serta Godham dari Universitas Negeri Semarang, dengan sesi diskusi yang dimoderatori oleh Ceprudin.
“Budaya dan spiritualitas tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Jawa. Seluruh aktivitas ekonomi dan sosial telah dijalankan dengan landasan etika dan nilai budi luhur. Ketika fondasi ini diperkuat, maka keberlangsungan usaha dan kehidupan sosial akan menjadi lebih terarah,” jelas Samsul Maarif atau Ancu.
Melalui agenda ini, ekosistem perempuan penghayat kepercayaan di Jawa Tengah telah diarahkan untuk semakin mandiri secara ekonomi, berdaya dalam pelestarian budaya, serta tetap menjaga harmoni antara manusia, tradisi, dan lingkungan dalam satu kesatuan nilai keberlanjutan.(mus)







