FOLKSTIME.ID – Pemadaman listrik yang terjadi di wilayah Semarang dan sekitarnya memberikan dampak serius terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya sektor bengkel dan usaha laundry di Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Sejumlah pelaku usaha mengaku mengalami penurunan produksi, keterlambatan layanan, hingga kerugian omzet akibat seluruh aktivitas usaha yang sangat bergantung pada pasokan listrik.
Bengkel di Gunungpati Mengaku Produksi Terhenti Total
Salah satu usaha yang terdampak adalah bengkel Gagego di kawasan Patemon. Aktivitas produksi dilaporkan berhenti total selama pemadaman berlangsung karena seluruh peralatan kerja seperti mesin bubut, porting, hingga peralatan perakitan lainnya sepenuhnya menggunakan tenaga listrik.
Akibat gangguan tersebut, omzet harian bengkel mengalami penurunan drastis.
“Sehari biasanya bisa hampir 20-an omzet, kemarin cuma dapat 6,4. Anjlok,” ujar Fsiz Urhanul Hilal, admin bengkel Gagego, Minggu (21/6/2026).
Selain penurunan pendapatan, keterlambatan pengerjaan pesanan juga terjadi karena sistem produksi berbasis jadwal tidak dapat berjalan normal.
Keterlambatan Pesanan Picu Keluhan Pelanggan
Dampak lanjutan dari pemadaman listrik adalah meningkatnya komplain pelanggan. Banyak pesanan berbasis paket yang tidak dapat diselesaikan tepat waktu.
Menurut pihak bengkel, kondisi ini juga memengaruhi kualitas kerja karena menurunnya ritme dan kondisi kerja para mekanik.
“Kalau tidak mood, tidak bisa dipaksa, kualitas juga bisa turun. Jadi ya kacau,” tambahnya.
Pelaku usaha juga menyoroti kurangnya informasi terkait jadwal pemadaman yang membuat mereka kesulitan melakukan penyesuaian operasional.
Usaha Laundry di Patemon Juga Terdampak Signifikan
Tidak hanya bengkel, sektor usaha laundry di Patemon juga mengalami dampak serupa. Seluruh proses pencucian dan pengeringan pakaian terhenti saat listrik padam selama 3–4 jam.
Pemilik Bunda Laundry, Ida Nurkhasanah, menyebut keterlambatan tersebut berdampak langsung pada kepuasan pelanggan.
“Customer maunya tepat waktu, tapi jadi molor sampai 1 sampai 2 hari,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kapasitas produksi harian yang biasanya mencapai 20–30 kilogram pakaian tidak dapat terpenuhi secara optimal.
UMKM Harap Ada Perbaikan Manajemen Pemadaman Listrik
Pelaku usaha berharap adanya peningkatan transparansi dan penjadwalan pemadaman dari pihak terkait agar UMKM dapat mengatur ulang produksi dengan lebih baik.
Mereka menilai, meskipun pemadaman dilakukan karena alasan teknis atau manajemen pasokan, dampaknya di lapangan sangat besar bagi usaha kecil yang bergantung penuh pada listrik.
Ketergantungan Energi Jadi Tantangan Serius UMKM Semarang
Peristiwa ini kembali menegaskan tingginya ketergantungan UMKM terhadap stabilitas energi listrik, khususnya pada sektor bengkel dan laundry yang tidak memiliki alternatif operasional manual.
Jika gangguan listrik terus terjadi tanpa kepastian jadwal, maka risiko kerugian dan penurunan kepercayaan pelanggan diperkirakan akan semakin meningkat.(tya)







