FOLKSTIME.ID – Kegiatan pesantren kilat selama Ramadan biasanya diisi dengan kajian keagamaan dan pembinaan ibadah. Namun pendekatan berbeda dilakukan oleh SMK PGRI Batang dengan mengintegrasikan pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan keagamaan tersebut. Para siswa didorong untuk membuat konten digital bernuansa Islami yang dipublikasikan melalui media sosial.
Program yang baru pertama kali digelar itu justru mendapat sambutan positif dari para siswa. Hal ini karena platform digital seperti TikTok, Instagram, dan media sosial lain sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari generasi muda.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK PGRI Batang, Astika Rahmi Diah Utami, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengarahkan kebiasaan siswa di dunia digital agar lebih produktif dan bernilai edukatif selama bulan suci Ramadan.
“Tujuannya agar selaras dengan kebiasaan gen z yang kerap kali memanfaatkan untuk berselancar di dunia maya, namun kali ini diarahkan lebih edukatif dan islami,” kata Astika saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (10/3/2026).
Menurut dia, siswa diberikan kebebasan menentukan tema konten yang akan dibuat selama masih berkaitan dengan momentum Ramadan. Konten tersebut dapat berupa pesan moral, ajakan beribadah, hingga kampanye perilaku positif.
Ia mencontohkan salah satu tema yang cukup populer di kalangan siswa adalah kampanye “anti mokel” atau ajakan untuk tidak membatalkan puasa sebelum waktunya. Selain itu terdapat pula konten yang mengajak warganet memperbanyak ibadah serta menjaga sikap selama berpuasa.
“Bagi siswa yang masih kesulitan menentukan konsep, kami arahkan membuat konten ajakan positif seperti anti mokel, ajakan beribadah, atau pesan moral lainnya,” jelasnya.
Astika menambahkan, pemilihan konsep konten digital Islami juga disesuaikan dengan kompetensi yang dipelajari siswa, khususnya pada jurusan bisnis digital. Melalui kegiatan ini, siswa dilatih memanfaatkan teknologi informasi secara tepat guna sekaligus meningkatkan kreativitas mereka dalam memproduksi konten.
“Dipilihnya tema konten digital Islami karena sejalan dengan materi pembelajaran siswa jurusan bisnis digital, agar seluruhnya mampu memanfaatkan teknologi informasi secara tepat guna,” ujarnya.
Selain relevan dengan pembelajaran di sekolah, kegiatan tersebut juga dinilai dapat memberikan bekal bagi siswa ketika memasuki dunia kerja, terutama di bidang pemasaran digital.
“Kalau dikaitkan dengan dunia kerja, sisi positifnya ketika anak diminta perusahaan memproduksi konten islami sudah terbiasa dan mampu memenuhi permintaan konsumen,” tambah Astika.
Hal senada disampaikan salah satu wali kelas, Muhammad Khotibul Umam. Ia menyebut kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kreativitas siswa dalam membuat konten, tetapi juga melatih kemampuan komunikasi mereka.
Menurutnya, keterampilan komunikasi sangat penting bagi siswa yang nantinya akan terjun ke bidang pemasaran digital atau industri kreatif.
“Selama Ramadan siswa dilatih pembiasaan memproduksi konten Islami. Ini berdampak positif bagi kemampuan komunikasi ketika mereka masuk ke dunia kerja, khususnya di bidang pemasaran,” kata Umam.
Ia juga menilai generasi muda saat ini sangat akrab dengan teknologi informasi. Oleh karena itu, pesan-pesan keagamaan yang dikemas secara singkat melalui media digital dinilai lebih mudah diterima oleh kalangan remaja.
“Selain kemampuan komunikasi yang baik, kecakapan pemanfaatan teknologi informasi juga bisa terlihat sejauh mana kemajuannya. Apalagi gen z sangat dekat dengan teknologi informasi, jadi pesan keagamaan yang singkat jauh lebih mengena di benak dan hati mereka,” ungkapnya.
Sementara itu, dua siswa peserta kegiatan, Sifa dan Natalia, mengaku kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertama mereka membuat konten edukatif bernuansa Islami. Meski membutuhkan persiapan lebih, keduanya merasa tertantang untuk menyampaikan pesan positif kepada pengguna media sosial.
Mereka memilih membuat konten yang berisi ajakan berbuat baik selama bulan Ramadan, seperti menjaga ibadah serta menghindari perilaku negatif.
“Bikinnya konten ajakan untuk berbuat hal positif, misalnya salat, tidak menggunjing teman saat puasa dan lainnya,” ujar salah satu siswa.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap siswa tidak hanya aktif menggunakan media sosial untuk hiburan, tetapi juga mampu memanfaatkannya sebagai sarana penyebaran pesan positif dan edukatif selama Ramadan. Selain itu, keterampilan produksi konten digital diharapkan menjadi bekal tambahan bagi siswa dalam menghadapi kebutuhan dunia kerja di era digital.(Pemkab Batang)







