FOLKSTIME.ID – Layanan darurat 110 di Polres Purworejo tak pernah benar-benar sunyi. Di balik dering telepon yang masuk tanpa henti, terselip ancaman laten: panggilan iseng yang berpotensi mengganggu respons terhadap situasi darurat yang nyata.
Investigasi terhadap operasional call center ini mengungkap bahwa tidak semua panggilan yang masuk berujung pada penanganan kasus.
Sebagian justru berhenti sebagai panggilan tanpa suara, telepon yang langsung dimatikan, hingga ulah anak-anak yang bermain ponsel. Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi petugas yang dituntut tetap siaga dalam setiap kondisi.
Operator senior layanan 110 Polres Purworejo, Bripka Candra Nurmalita, mengakui bahwa panggilan prank masih kerap terjadi di tengah arus laporan masyarakat yang sah.
Dalam satu sisi, petugas harus menyaring informasi dengan cepat, namun di sisi lain tetap tidak boleh mengabaikan satu pun panggilan yang masuk.
“Kadang kami menerima panggilan prank, telepon langsung dimatikan, atau anak-anak yang bermain ponsel. Ini bisa merugikan karena di saat bersamaan mungkin ada laporan yang benar-benar membutuhkan bantuan,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Dari penelusuran, setiap panggilan tanpa terkecuali tetap diperlakukan sebagai potensi kondisi darurat.
Operator diwajibkan menggali informasi sedetail mungkin sebelum meneruskan laporan ke petugas di lapangan.
Prosedur ini menjadi standar untuk memastikan tidak ada laporan yang terabaikan, meski risiko “alarm palsu” selalu ada.
Situasi menjadi lebih kompleks ketika penelepon berada dalam kondisi panik. Dalam kondisi tersebut, kemampuan operator untuk tetap tenang menjadi faktor krusial.
Mereka harus mampu menenangkan penelepon sekaligus mengumpulkan informasi penting dalam waktu singkat.
“Saat masyarakat panik, kami harus tetap tenang untuk memastikan informasi yang disampaikan jelas dan bisa segera ditindaklanjuti,” kata Candra.
Di tingkat Polda, peran operator 110 dipandang sebagai titik awal dari seluruh respons kepolisian.
Kasatgas Humas OKC 2026 Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, menegaskan bahwa kecepatan dan ketepatan informasi dari operator menentukan efektivitas penanganan di lapangan.
“Operator 110 menjadi garda terdepan. Mereka memastikan informasi tersampaikan dengan cepat, tepat, dan akurat,” ujarnya.
Namun, maraknya panggilan iseng dinilai bukan sekadar gangguan teknis, melainkan persoalan kesadaran publik.
Setiap panggilan yang tidak bertanggung jawab berpotensi menghambat penanganan kasus nyata, bahkan bisa berdampak pada keselamatan jiwa.
Karena itu, kepolisian mengimbau masyarakat untuk menggunakan layanan darurat secara bijak. Layanan 110 dirancang sebagai jalur cepat pertolongan, bukan sekadar fasilitas komunikasi biasa.
“Setiap panggilan memiliki konsekuensi. Gunakan layanan 110 untuk keadaan darurat agar penanganan bisa maksimal dan tidak menghambat laporan lain yang lebih membutuhkan,” tegas Artanto.
Di tengah keterbatasan dan tekanan yang dihadapi, para operator tetap bekerja dalam senyap, menjaga lini pertama pelayanan.
Satu panggilan bisa berarti perbedaan antara respons cepat atau keterlambatan fatal. Dan di antara dering yang masuk, mereka tak pernah tahu mana yang sekadar lelucon, dan mana yang menyangkut nyawa.






