FOLKSTIME.ID – Suasana hangat dan penuh keakraban telah mewarnai kegiatan halalbihalal yang digelar di Aula Lantai 3 Dekanat Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang pada Rabu (1/4/2026). Kegiatan tersebut dihadiri oleh sivitas akademika sebagai bagian dari tradisi pasca-Ramadan untuk mempererat hubungan dan membersihkan hati.
Dalam kegiatan itu, tausiah disampaikan oleh M. In’amuzzahidin Masyhudi yang menekankan pentingnya halalbihalal sebagai sarana mengurai persoalan yang kerap muncul dalam dinamika jabatan di lingkungan kampus.
Halalbihalal sebagai Momentum Mengurai Konflik
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa makna halalbihalal berasal dari kata “halla” yang berarti mengurai sesuatu yang kusut. Kondisi tersebut dianalogikan dengan relasi antarindividu yang dapat merenggang akibat kompetisi jabatan.
Hubungan yang sempat mengalami ketegangan, khususnya dalam proses pemilihan jabatan struktural, disebut perlu dikembalikan pada suasana harmonis melalui momentum ini.
Pada alinea keempat, narasumber menegaskan:
“Semoga hubungan kita yang sempat kusut karena urusan jabatan—seperti daftar jadi wakil dekan atau dekan tapi tidak diterima—bisa terurai,” ujar Gus In’am.
Peringatan Bahaya “Bangkrut di Akhirat”
Lebih lanjut, diingatkan bahwa ambisi jabatan tidak seharusnya ditempuh dengan cara yang merugikan orang lain. Disebutkan bahwa jabatan tidak hanya ditentukan oleh usaha manusia, melainkan juga oleh takdir dan legitimasi formal.
Fenomena “bangkrut di akhirat” atau muflis turut disoroti sebagai peringatan moral. Kondisi tersebut dijelaskan sebagai keadaan seseorang yang kehilangan pahala akibat perilaku buruk terhadap sesama, seperti mencaci atau menyakiti.
Di era digital, interaksi yang berpindah ke media sosial dan pesan instan dinilai memperbesar potensi pelanggaran etika komunikasi. Oleh karena itu, penggunaan teknologi diimbau tetap mengedepankan nilai-nilai kesantunan.
Teladan Literasi dari Kiai Sholeh Darat
Sementara itu, sambutan disampaikan oleh Edy Purwanto yang mengaitkan nilai pendidikan dengan sejarah literasi lokal. Disampaikan bahwa keteladanan Sholeh Darat menjadi inspirasi dalam pengembangan keilmuan.
Upaya penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon disebut sebagai strategi cerdas dalam menghadapi keterbatasan pada masa kolonial. Dari proses pembelajaran tersebut, nilai-nilai pencerahan turut diwariskan kepada tokoh seperti Raden Ajeng Kartini.
Konsep “Minadzulumati ilan nur” atau keluar dari kegelapan menuju cahaya disebut menjadi inspirasi besar dalam perjuangan pemikiran.
Pererat Silaturahmi Sivitas Akademika
Kegiatan yang mengusung tema “Memelihara Akhlak Mulia Buah Puasa Ramadan” ini telah diinisiasi sebagai ruang silaturahmi antara pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga purnatugas.
Ketua panitia, Indrajati Kunwijaya, menyampaikan bahwa kebersamaan dalam forum tersebut diharapkan mampu memperkuat solidaritas internal kampus.
Di akhir acara, doa bersama telah dipanjatkan sebagai bentuk harapan agar seluruh sivitas akademika dapat kembali menjalankan aktivitas dengan hati yang bersih serta hubungan yang semakin harmonis.(mus)






