FOLKSTIME.ID – Selasa petang itu, 31 Maret 2026, suasana di kediaman Hendrar Prihadi terasa lebih hidup dari biasanya. Pintu rumahnya terbuka lebar, seolah sudah tahu akan kedatangan tamu yang bukan sekadar singgah, tapi membawa cerita.
Tak lama, hadir Agustina Wilujeng bersama jajaran pejabat eselon II. Senyum hangatnya mengalir begitu saja, mencairkan suasana. Pertemuan itu tidak terasa seperti agenda resmi pemerintahan, melainkan seperti bab kecil dalam cerita panjang tentang tradisi, rasa hormat, dan kesinambungan kepemimpinan.
Hendi—sapaan akrab Hendrar Prihadi—tampak sumringah. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang sederhana, namun tulus. Di sampingnya, sang istri, Krisseptiana, atau yang akrab disapa Tia Hendi, turut menyambut dengan kehangatan khas suasana Lebaran.
“Kalau ujian ya enggak lah, beliau kan sudah berlatih, sudah mumpuni,” ujar Hendi santai. Ucapannya ringan, tapi sarat keyakinan—seperti seseorang yang tahu betul estafet kepemimpinan kini berada di tangan yang tepat.
Bagi Hendi, kunjungan itu bukan sekadar formalitas. Ada makna yang lebih dalam—tentang menghargai yang telah berlalu, sekaligus merawat yang sedang berjalan.
“Ini agenda yang bagus dan memberi apresiasi. Kalau tidak salah, ini sudah kali kedua beliau saat Lebaran menyambangi mantan wali kota seperti saya,” katanya, dengan nada penuh penghargaan.
Di ruang tamu itu, percakapan mengalir tanpa sekat. Tidak ada bahasa yang kaku, tidak ada pesan terselubung yang berat. Semua terasa seperti keluarga yang lama tak bersua—hangat, ringan, dan apa adanya.
Obrolan mereka sederhana: cerita arus mudik, kabar sehari-hari, hingga mendengarkan apa saja yang telah dilakukan oleh wali kota saat ini. Sesekali diselingi tawa kecil yang membuat waktu berjalan tanpa terasa.
“Kita lebih banyak mendengar apa yang sudah dilakukan wali kota selama ini. Ya, saling ngecek kabar juga,” tutur Hendi.
Di sela cerita, Hendi juga berbagi tentang kehidupannya kini. Setelah tak lagi disibukkan jabatan publik, ia memilih menjalani hari dengan prinsip sederhana—tetap bermanfaat.
“Saya hari ini ya harus melakukan sesuatu yang bermanfaat. Entah itu untuk kesehatan, kebersamaan, atau juga ekonomi rumah tangga,” ujarnya.
Baginya, hidup harus terus bergerak. Diam terlalu lama justru membuat hari kehilangan makna.
“Supaya nggak bosan ya, kalau di rumah terus juga nggak,” tambahnya sambil tersenyum.
Menariknya, ketika ditanya soal masukan untuk pemerintahan yang telah berjalan hampir setahun, Hendi justru memilih untuk tidak banyak berkomentar. Ia percaya, arah sudah ditentukan sejak awal.
“Beliau sudah punya visi misi waktu kampanye, dan masyarakat sudah memilih. Artinya sudah diterima, tinggal dijalankan,” tegasnya.
Pertemuan itu pun berakhir tanpa seremoni berlebihan. Tidak ada jarak, tidak ada sekat jabatan. Yang tertinggal justru rasa hangat—sebuah potret sederhana tentang bagaimana silaturahmi mampu menjahit kembali hubungan, melampaui waktu dan posisi.
Di tengah hiruk pikuk Lebaran, kisah ini hadir sebagai pengingat: bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal kekuasaan, melainkan tentang menghargai jejak masa lalu dan menjaga hubungan yang tulus di masa kini.







