FOLKSTIME.ID – Menjelang Idul Fitri 2026, Kota Semarang menghadapi dinamika sosial yang semakin intens. Peningkatan aktivitas organisasi kemasyarakatan (ormas) selama bulan Ramadan hingga masa libur Lebaran membawa dua sisi sekaligus: semangat pelayanan masyarakat di satu sisi, serta potensi kerawanan keamanan di sisi lain.
Aktivitas masyarakat yang meningkat, khususnya pada malam hari hingga menjelang sahur, memicu bertambahnya laporan gangguan ketertiban. Pemerintah Kota Semarang melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) mencatat berbagai bentuk aktivitas yang perlu diantisipasi, mulai dari tawuran, fenomena “kreak”, hingga balap liar di jalanan.
Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Bambang Pramushinto, mengatakan pihaknya secara rutin menerima laporan situasi keamanan dari Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) serta tim pemantau wilayah.
“Setiap saat kami menerima laporan dari FKDM dan tim WASDI. Memang ada sebagian laporan yang terkategori kriminal, seperti tawuran, kreak, dan balap liar,” kata Bambang.
Selain itu, laporan terkait gesekan antarkelompok masyarakat juga sempat muncul. Namun menurutnya, insiden tersebut masih bersifat kecil dan tidak melibatkan organisasi kemasyarakatan secara resmi.
“Gesekan yang terjadi sebenarnya hanya antar kelompok masyarakat saja, tidak membawa identitas atau bendera ormas,” ujarnya.
Di tengah dinamika tersebut, pemerintah kota menilai peran ormas justru sangat strategis dalam menjaga stabilitas sosial selama Ramadan. Banyak organisasi yang aktif melakukan kegiatan sosial, mulai dari kegiatan membangunkan sahur, bakti sosial, hingga berbagai kegiatan pelayanan masyarakat lainnya.
Namun demikian, Bambang menekankan bahwa kegiatan tersebut harus tetap memperhatikan ketertiban lingkungan agar tidak menimbulkan gangguan baru bagi masyarakat.
“Kalau aktivitasnya untuk pelayanan masyarakat tentu bagus, misalnya keliling membangunkan sahur. Tapi harus dipastikan tidak mengganggu warga atau menimbulkan gesekan dengan kelompok lain,” jelasnya.
Menurutnya, kunci utama dalam menjaga kondusivitas adalah peran kepemimpinan di dalam organisasi. Para koordinator dan pimpinan ormas diminta aktif melakukan pembinaan kepada anggotanya agar setiap kegiatan berjalan tertib dan tidak berujung konflik.
“Lider organisasi harus aktif melakukan pembinaan secara terus-menerus. Niatnya mungkin baik, tetapi kalau terlalu gaduh atau tidak terkoordinasi bisa mengganggu masyarakat,” tambahnya.
Selain isu keamanan, situasi Kota Semarang juga diwarnai oleh meningkatnya laporan bencana akibat cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Beberapa laporan yang masuk berkaitan dengan kejadian pohon tumbang dan tanah longsor di sejumlah wilayah.
Meski demikian, pemerintah kota tetap melihat peningkatan aktivitas ormas sebagai potensi positif dalam memperkuat partisipasi masyarakat. Bahkan setelah Idul Fitri, sejumlah organisasi berencana menggelar berbagai kegiatan ekonomi dan sosial, termasuk penyelenggaraan bazar untuk masyarakat.
Kesbangpol menegaskan bahwa pada prinsipnya pemerintah mendukung kegiatan tersebut selama dikomunikasikan dengan baik dan memiliki izin dari pihak berwenang.
“Selama kegiatan itu untuk membantu masyarakat dan dikomunikasikan dengan pihak yang berwenang, tentu kami mendukung,” ujar Bambang.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap peran organisasi kemasyarakatan, Pemerintah Kota Semarang juga merencanakan penyelenggaraan Ormas Expo. Kegiatan ini akan menjadi ruang bagi berbagai organisasi untuk menampilkan kreativitas dan kontribusi mereka kepada masyarakat.
Dengan meningkatnya aktivitas sosial menjelang Idul Fitri, pemerintah berharap seluruh elemen masyarakat dapat menjaga situasi tetap kondusif. Sinergi antara pemerintah, ormas, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar Ramadan dan Lebaran di Kota Semarang berlangsung aman, tertib, dan penuh kebersamaan.(mus)







