FOLKSTIME.ID – Warga Desa Sidokerto, Kabupaten Pati menggelar kirab takbir keliling dengan menampilkan 19 replika beragam bentuk yang mencerminkan kreativitas lokal sekaligus semangat kolektif dalam menyambut Idulfitri, Jumat (20/3/2026) malam.
Arak-arakan tersebut berlangsung meriah meski digelar secara swadaya oleh masyarakat tanpa dukungan resmi pemerintah daerah, sementara puluhan kendaraan membawa replika berkeliling desa diiringi gema takbir yang terus berkumandang dari pengeras suara sepanjang perjalanan.
Berbagai bentuk replika dihadirkan dalam kirab tersebut, mulai dari miniatur masjid, tokoh pewayangan seperti Hanoman dan Gatotkaca, hingga figur modern berupa robot dan dinosaurus yang menarik perhatian anak-anak dan keluarga yang memadati tepi jalan desa sejak awal acara dimulai.
Berbagai Replika Unik
Selain itu, warga juga menampilkan simbol budaya dan religi seperti burung Garuda, naga, singa, gajah, ogoh-ogoh, figur Sunan Kalijaga, hingga replika Al-Qur’an yang diarak perlahan dalam suasana malam yang dipenuhi cahaya lampu kendaraan dan obor sederhana.
Dalam suasana temaram, replika ogoh-ogoh berwarna emas tampak bergerak perlahan mengikuti iring-iringan kendaraan, sementara lantunan takbir yang menggema menciptakan atmosfer religius yang menyatu dengan antusiasme warga yang menyaksikan dari berbagai sudut jalan desa.
Antusias Warga
Salah satu warga, Dian, mengatakan bahwa meskipun skala kirab tidak sebesar perayaan di pusat kota, justru keterlibatan langsung masyarakat memberikan kepuasan tersendiri bagi mereka yang menyaksikan maupun yang terlibat dalam proses pembuatannya.
“Kalau dulu di alun-alun memang besar dan megah, tapi ini buatan warga sendiri. Justru itu yang bikin puas melihatnya,” kata Dian.
Kirab takbir ini menjadi penanda datangnya Hari Raya Idulfitri bagi masyarakat setempat, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi dapat tetap bertahan melalui inisiatif warga meskipun tidak lagi terpusat di ruang-ruang publik perkotaan yang sebelumnya menjadi lokasi utama perayaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembatasan kegiatan takbiran di pusat kota membuat masyarakat di tingkat desa mengambil peran lebih besar untuk menjaga keberlangsungan tradisi, sehingga kegiatan seperti kirab di Sidokerto menjadi alternatif yang tetap menghadirkan kemeriahan Lebaran.
Rela Berkeliling Kampung
Seorang pemudik asal Semarang, Citra, mengaku sengaja mencari suasana takbiran keliling setelah tidak menemukan perayaan serupa di pusat kota, hingga akhirnya menemukan keramaian warga di desa tersebut dan memutuskan untuk ikut menyaksikan kirab.
“Dari tadi sudah keliling ke alun-alun, ternyata tidak ada tanda-tanda karnaval. Terus kita coba masuk ke kampung-kampung, dan melihat warga mulai berkumpul di tepi jalan. Dari situ kami yakin akan ada kirab yang melintas,” ujarnya.
Citra bersama keluarganya kemudian mengikuti arus kendaraan kirab hingga menuju wilayah Tlogowungu, bahkan mereka rela menunggu cukup lama di pinggir jalan demi menyaksikan setiap replika yang melintas dalam arak-arakan tersebut.
“Meski kirabnya sederhana, ini tetap jadi bagian dari kemeriahan Lebaran. Rasanya sayang kalau dilewatkan,” tambahnya.
Antusiasme serupa juga ditunjukkan warga lainnya yang sengaja berpindah lokasi dari satu desa ke desa lain untuk mencari suasana yang lebih ramai, seperti yang dilakukan Dian yang sebelumnya sempat mengunjungi wilayah lain sebelum akhirnya menetap di titik keramaian di Sidokerto.
“Tadi sudah ke Desa Winong, sekarang ke sini karena katanya lebih meriah,” ujarnya.
Kirab takbir di Desa Sidokerto dimulai sejak pukul 19.30 WIB dengan rute menyusuri jalan-jalan utama desa, sementara masyarakat dari berbagai usia tampak memenuhi sisi jalan untuk menyaksikan iring-iringan kendaraan yang bergerak perlahan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keberlangsungan tradisi tidak selalu bergantung pada skala besar atau dukungan institusi formal, karena partisipasi aktif masyarakat justru mampu menjaga nilai kebersamaan, kreativitas, dan spiritualitas dalam momentum keagamaan seperti Idulfitri.







