FOLKSTIME.ID — Upaya penyerapan aspirasi petani di Kabupaten Karanganyar dilakukan dengan pendekatan berbeda oleh Ahmad Luthfi, yang memilih metode dialog santai di angkringan sebagai strategi mendekatkan diri dengan masyarakat, khususnya petani, dalam rangka menyerap aspirasi petani secara langsung dan efektif.
Kegiatan tersebut dilakukan saat kunjungan kerja ke Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Rabu (8/4/2026), ketika dilakukan pengecekan kondisi Embung Alastuwo di Desa Wonolepo, yang menjadi salah satu infrastruktur penting dalam mendukung sektor pertanian.
Dalam kunjungan itu, pendekatan komunikasi informal dipilih agar suasana dialog terasa lebih cair, sehingga berbagai persoalan pertanian dapat disampaikan tanpa sekat, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah dan petani dalam mendukung program swasembada pangan.
“Ayo sekarang ngobrolnya sambil ngopi di warung, biar lebih santai,” ujar Ahmad Luthfi saat mengajak petani berdialog di sela pengecekan embung.
Dialog Santai di Tengah Terik Matahari
Di bawah terik matahari, suasana pertemuan justru dibuat lebih hangat melalui obrolan santai di angkringan sekitar Embung Alastuwo. Kebersamaan ditunjukkan tanpa jarak, ketika Gubernur didampingi oleh Bupati Karanganyar Rober Christanto duduk bersama para petani di kursi kayu sederhana.
Percakapan yang terjadi tidak hanya berisi candaan, tetapi juga membahas berbagai persoalan krusial di sektor pertanian. Dialog dibuka secara langsung oleh Ahmad Luthfi dengan gaya khas yang akrab.
“Mpun, sak niki permasalahane jenengan napa? Ini mumpung ada Gubernur sama Bupati,” ucapnya membuka ruang diskusi.
Keluhan Petani Disampaikan Langsung
Berbagai persoalan kemudian disampaikan oleh petani dan perwakilan gabungan kelompok tani (gapoktan), mulai dari kendala irigasi tersier dan sekunder yang belum optimal saat musim kemarau, kebutuhan sumur untuk pengairan, hingga keterbatasan alat pertanian seperti traktor dan pompa air.
Selain itu, gagal panen pada musim tanam pertama akibat curah hujan tinggi juga menjadi sorotan utama yang disampaikan dalam dialog tersebut.
Menanggapi hal itu, solusi langsung disampaikan oleh pemerintah provinsi melalui rencana bantuan anggaran.
Bantuan Rp4,1 Miliar untuk Sektor Pertanian
Disebutkan bahwa bantuan senilai sekitar Rp4,1 miliar akan dikucurkan pada Juni 2026 untuk Kabupaten Karanganyar. Bantuan tersebut direncanakan mencakup perbaikan jaringan irigasi, penyediaan alat mesin pertanian, hingga bantuan benih.
“Biar nanti distribusinya sama Bupati,” kata Ahmad Luthfi yang disambut ucapan terima kasih dari para petani.
Selain itu, kondisi ketersediaan pupuk juga turut ditanyakan, dan dijawab bahwa distribusi pupuk di wilayah tersebut relatif lancar.
Dorongan Swasembada Pangan 2026
Ditegaskan bahwa pada tahun 2026, program swasembada pangan menjadi prioritas utama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu, berbagai dukungan infrastruktur dan sarana produksi terus diperkuat.
“Pemprov sudah menyiapkan pompanya, tinggal nanti bapak-bapak cari sumber airnya. Kalau nanti ada puso atau gagal panen, ajukan asuransi ke kami nanti diteruskan ke Jasindo,” ujarnya.
Respons Positif dari Petani
Pendekatan yang dilakukan tersebut mendapatkan respons positif dari para petani. Salah satu perwakilan Gapoktan Sumber Rejeki Desa Sroyo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, menyampaikan apresiasinya terhadap metode dialog yang dinilai lebih membumi.
“Bagus, memperhatikan masyarakat kecil, terutama petani. Kalau petani diperhatikan, hasilnya akan optimal,” ungkapnya.
Dengan pendekatan dialog santai di angkringan, penyerapan aspirasi petani dinilai menjadi lebih efektif, sekaligus memperkuat komunikasi langsung antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendukung pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan.(mus)






