Petis Bumbon Jadi Primadona Buka Puasa di Semarang, Ludes Ratusan Telur Setiap Hari

FOLKSTIME.ID- Bulan Ramadan selalu identik dengan tradisi berburu takjil menjelang waktu berbuka puasa. Beragam kuliner musiman bermunculan di berbagai sudut kota, mulai dari makanan ringan hingga hidangan berat. Di antara deretan sajian tersebut, petis bumbon kembali mencuri perhatian warga sebagai menu favorit untuk berbuka.

Setiap sore, kawasan Alun-Alun Masjid Agung Semarang dipadati penjual makanan dan minuman. Lapak-lapak berjejer menawarkan aneka pilihan, namun salah satu yang paling ramai diserbu pembeli adalah warung petis bumbon. Kuliner khas Semarang ini dikenal sebagai hidangan berat dengan cita rasa gurih manis yang khas dan menggugah selera.

Petis bumbon merupakan olahan sambal goreng yang dipadukan dengan petis sehingga menghasilkan rasa legit dan kaya rempah. Keunikan utamanya terletak pada penggunaan telur bebek sebagai bahan dasar. Telur dimasak bersama bumbu dalam waktu lama hingga teksturnya padat dan bumbu meresap sempurna sampai ke bagian dalam.

Salah seorang warga Semarang, Dinda, mengaku hampir setiap Ramadan menyempatkan diri membeli petis bumbon untuk menu berbuka.

“Rasanya enak, bumbunya benar-benar meresap sampai ke dalam telur. Harganya juga masih terjangkau, jadi setiap puasa pasti beli. Sudah seperti menu wajib,” ujarnya saat ditemui menjelang waktu berbuka, Sabtu 28 Februari 2026.

Menurutnya, selain rasa yang khas, porsi yang cukup mengenyangkan membuat petis bumbon cocok dijadikan hidangan utama setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Sementara itu, Tissa, pemilik warung petis bumbon, mengatakan permintaan meningkat signifikan selama Ramadan. Dalam sehari, ia rata-rata menghabiskan sekitar 100 butir telur bebek.

“Kalau hari biasa sekitar 100 butir telur habis. Tapi kalau Jumat sampai Minggu bisa lebih dari itu karena pembelinya meningkat,” jelasnya.

Ia menambahkan, proses memasak petis bumbon membutuhkan waktu tidak sebentar. Untuk menghasilkan telur dengan rasa yang maksimal, proses memasak bisa memakan waktu hingga tiga jam.

“Telurnya harus dimasak lama supaya bumbu benar-benar meresap dan matang sempurna. Itu yang bikin rasanya beda,” katanya.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp12.000 hingga Rp25.000 per porsi, tergantung jumlah dan tambahan lauk yang dipilih pembeli. Dengan harga tersebut, petis bumbon dinilai masih ramah di kantong berbagai kalangan.

Tissa mengaku telah berjualan petis bumbon selama kurang lebih 30 tahun. Usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang telah dijalankan secara turun-temurun sejak generasi kakek dan neneknya. Setiap hari selama Ramadan, ia mulai berjualan pukul 16.00 WIB hingga sekitar pukul 22.30 WIB.

Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan penjualan bagi pedagang kuliner, tetapi juga menjadi ruang pelestarian makanan tradisional daerah. Petis bumbon, yang tetap diminati dari masa ke masa, menjadi bukti bahwa cita rasa khas lokal masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Dengan konsistensi rasa, harga terjangkau, serta proses pengolahan yang mempertahankan resep turun-temurun, petis bumbon terus bertahan sebagai salah satu ikon kuliner berbuka puasa di Semarang.(tya)

Artikel Menarik Lainnya