Ramadan di Unwahas: Antara Ibadah, Lomba, dan Strategi Mendekat ke Masyarakat

FOLKSTIME.ID – Bulan Ramadan selalu menjadi ruang bagi berbagai institusi untuk menunjukkan kepedulian sosial.

Namun di balik kegiatan yang tampak sederhana, sering kali tersimpan upaya membangun kedekatan dengan masyarakat.

Hal itu pula yang terlihat dalam kegiatan Gebyar Ramadan yang digelar Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang melalui ZCorner di Kampus 2 Gunungpati, Sabtu (7/3/2026).

Acara yang dikemas dalam konsep Kampung Ramadan tersebut menghadirkan beragam kegiatan bernuansa religius dan sosial.

Mulai dari lomba mewarnai untuk anak-anak, lomba adzan, pembagian takjil Ramadan, hingga bazar sembako murah yang ditujukan bagi masyarakat sekitar kampus.

Sejak pagi, kawasan ZCorner dipenuhi anak-anak yang antusias mengikuti lomba mewarnai. Sementara di sudut lain, peserta lomba adzan bergantian melantunkan panggilan salat dengan suara merdu.

Aktivitas sederhana itu membuat area kampus terasa lebih hidup dari biasanya.

Namun kegiatan ini tidak hanya sekadar lomba atau pembagian makanan berbuka. Di baliknya terdapat pesan yang lebih besar tentang bagaimana kampus mencoba membangun relasi sosial dengan masyarakat di sekitarnya.

Wakil Rektor I Unwahas, Dr. Nur Cholid, menilai kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata keterlibatan kampus dalam kehidupan sosial masyarakat.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak bisa hanya berkutat pada aktivitas akademik semata. Kampus juga memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kegiatan yang bermanfaat secara langsung bagi lingkungan sekitar.

“Melalui kegiatan ini, UNWAHAS tidak hanya fokus pada pengembangan akademik, tetapi juga berupaya hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan sosial dan keagamaan yang memberikan manfaat langsung,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan arah baru yang mulai banyak ditempuh perguruan tinggi di Indonesia, membangun citra sebagai kampus yang dekat dengan masyarakat.

Hal senada disampaikan Wakil Rektor III Unwahas, Dr. Ratih Pratiwi, yang menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus, mahasiswa, dan masyarakat.

Menurutnya, kegiatan seperti Kampung Ramadan tidak hanya menjadi ajang perayaan keagamaan, tetapi juga ruang pembelajaran sosial bagi mahasiswa.

“Kolaborasi seperti ini penting agar kegiatan kampus tidak eksklusif. Mahasiswa bisa belajar langsung berinteraksi dan memberikan kontribusi kepada masyarakat,” jelasnya.

Di sisi lain, kegiatan ini juga berkaitan dengan pengembangan ekosistem kewirausahaan kampus.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pusat Karir, Kewirausahaan, Alumni, dan Magang (PKKAM) Unwahas, Dr. Dian Listiarini.

Ia menyebut ZCorner dirancang bukan hanya sebagai ruang kegiatan sosial, tetapi juga sebagai wadah kolaborasi antara mahasiswa, alumni, dan masyarakat dalam mengembangkan usaha serta kegiatan produktif.

“Kami berharap ZCorner dapat menjadi ruang kolaborasi antara kampus, mahasiswa, alumni, dan masyarakat dalam mengembangkan kegiatan kewirausahaan sekaligus kegiatan sosial yang memberi manfaat luas bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Bazar sembako murah yang digelar dalam kegiatan ini menjadi salah satu contoh pendekatan tersebut.

Selain membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau, kegiatan ini juga membuka ruang interaksi antara civitas akademika dengan warga sekitar.

Meski terlihat sederhana, pendekatan seperti ini menunjukkan bagaimana kampus mulai memanfaatkan momentum Ramadan sebagai media membangun hubungan sosial sekaligus memperkuat peran pengabdian kepada masyarakat.

Di tengah semakin ketatnya persaingan antar perguruan tinggi, kedekatan dengan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.

Karena itu, kegiatan seperti Kampung Ramadan di ZCorner tidak hanya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.

Lebih dari itu, ia bisa menjadi indikator bagaimana kampus mencoba keluar dari “menara gading” dan hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Jika dikelola secara konsisten, ruang seperti ZCorner berpotensi berkembang menjadi pusat aktivitas sosial, kewirausahaan, sekaligus pemberdayaan masyarakat yang nyata.

Bukan hanya bagi civitas akademika Unwahas, tetapi juga bagi warga di sekitar Gunungpati yang selama ini menjadi tetangga terdekat kampus.

Artikel Menarik Lainnya