FOLKSTIME.ID– Lebih dari satu abad lalu, tepatnya 1 April 1901, sebuah lembaga gadai negara pertama berdiri di Sukabumi, menjadi tonggak awal perjalanan panjang Pegadaian di Indonesia.
Dari masa kolonial hingga era digital, lembaga ini terus bertransformasi. Kini, di usianya yang ke-125, Pegadaian memilih merayakan jejak sejarahnya bukan dengan kemegahan, melainkan melalui aksi nyata yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Bagi Pegadaian, peringatan HUT ke-125 bukan sekadar seremoni. Perusahaan pelat merah ini menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan perhatian lebih.
Pada awal April 2026, suasana berbeda terasa di sejumlah panti asuhan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari program serentak yang dilakukan oleh 12 kantor wilayah Pegadaian di seluruh Indonesia, dengan total menyasar 125 panti asuhan.
Khusus di wilayah Jawa Tengah dan DIY, PT Pegadaian Kantor Wilayah XI Semarang menyalurkan bantuan kepada 10 lembaga sosial.
Mulai dari panti asuhan anak di Kudus, panti wredha di Ungaran, hingga rumah bayi di Kota Semarang, seluruhnya menjadi bagian dari rangkaian kegiatan bertajuk “125 Tahun Hadir MengEMASkan Harapan”.
Pemimpin PT Pegadaian Kanwil XI Semarang, M. Aries Aviani Nugroho, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi wujud nyata peran sosial perusahaan.
“Melalui momentum HUT ke-125 ini, kami ingin menghadirkan harapan dan kebahagiaan bagi masyarakat, khususnya mereka yang berada di panti asuhan. Kami berharap bantuan ini dapat memberikan dampak positif dan memperkuat semangat kebersamaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Pegadaian tidak hanya berperan sebagai lembaga keuangan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Adapun, penyaluran bantuan dilakukan melalui sinergi antara kantor wilayah dan kantor area, dengan menjangkau berbagai jenis lembaga sosial.
Di Yayasan Sekolah Kehidupan, salah satu penerima bantuan, suasana haru tak terelakkan. Pengurus yayasan, Fandy Prasetya Kusuma, menyampaikan rasa syukur atas kepedulian yang diberikan.
“Kami sangat berterima kasih kepada Pegadaian. Semoga menjadi berkah dan Pegadaian semakin sukses serta terus menebar manfaat bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Sedangakan sepuluh penerima manfaat tersebut, diantaranya Yayasan Sekolah Kehidupan, Panti Wredha Ungaran, Panti Sosial Asuh Anak Nurul Mursyid, Panti Sosial Anak Sunan Muria.
Kemudian, Panti Asuhan Budi Luhur Kudus, Rumah Bayi Nusantara Semarang, Yayasan Kiwari Sleman, Panti Asuhan Al-Ikhlas Tegal, Yayasan Darul Mustofa Ar-Rizqi Surakarta, serta Panti Asuhan Harapan Mulia Purwokerto.
Diketahui, cikal bakal Pegadaian lahir dari Bank Van Leening yang didirikan VOC di Batavia pada 20 Agustus 1746, sebuah lembaga kredit berbasis gadai yang melayani masyarakat dengan jaminan barang bergerak.
Setelah melewati berbagai perubahan kebijakan di era kolonial, pemerintah Hindia Belanda akhirnya menerbitkan Staatsblad No. 131 pada 12 Maret 1901, yang menetapkan bisnis gadai sebagai monopoli negara.
Maka pada 1 April 1901, pegadaian negara pertama resmi berdiri di Sukabumi, Jawa Barat dan tanggal itulah yang hingga kini diperingati sebagai hari lahir Pegadaian.
Tidak berhenti di situ. Di tengah gejolak perang kemerdekaan, Pegadaian tetap bertahan. Kantor pusatnya sempat berpindah-pindah, dari Jakarta ke Karanganyar, Kebumen, lalu ke Magelang sebelum akhirnya kembali ke ibu kota setelah Indonesia merdeka.
Dari Jawatan, berubah menjadi Perusahaan Negara (1961), Perusahaan Jawatan (1969), Perusahaan Umum (1990), hingga akhirnya menjadi Persero pada 2011.
Kini, sejak 2021, Pegadaian menjadi bagian dari Holding Ultra Mikro bersama BRI dan PNM, memperluas jangkauan layanan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Seratus dua puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar. Pegadaian telah melewati era kolonial, perang kemerdekaan, hingga transformasi digital. Dan di usianya yang matang, ia memilih memperingatinya dengan cara paling sederhana, datang, hadir, dan peduli. (Rin)







