FOLKSTIME.ID – Anak-anak pengungsi korban tanah gerak di Dusun Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, dibuat sumringah dengan kedatangan Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Hj Nawal Arafah Yasin. Kehadiran tersebut disambut antusias oleh warga, khususnya anak-anak yang telah tinggal di pengungsian selama dua bulan.
Kunjungan itu tidak hanya dilakukan sebagai bentuk peninjauan, melainkan juga diisi dengan kegiatan berbagi mainan kepada anak-anak terdampak. Puluhan anak seperti Dika, Jasmine, dan David terlihat menerima berbagai jenis mainan yang kemudian langsung dimainkan bersama di lokasi pengungsian.
Anak-anak yang selama ini tinggal di Ponpes Bahrul Quran Al Munawwir tampak terhibur dengan perhatian yang diberikan. Mainan seperti mobil-mobilan, boneka, hingga alat masak diberikan untuk membantu mengurangi beban psikologis mereka selama berada di pengungsian.
“Mobil molen,” ujar Dika sambil menunjukkan mainan yang diterimanya, sembari merebahkan diri di pangkuan ibunya.
Ratusan Warga Masih Bertahan di Pengungsian
Posko pengungsian di lokasi tersebut diketahui menampung sebanyak 533 jiwa. Kebutuhan dasar para pengungsi, mulai dari layanan kesehatan, konsumsi, hingga fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), telah disediakan untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
Bencana tanah gerak yang terjadi pada 28 Januari 2026 telah menyebabkan kerusakan signifikan terhadap permukiman warga. Sedikitnya 143 rumah milik 176 kepala keluarga terpaksa ditinggalkan karena dinilai tidak lagi aman untuk dihuni.
Kehadiran Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen bersama sang istri juga disambut hangat oleh warga. Momen tersebut dimanfaatkan warga untuk berinteraksi langsung, termasuk berswafoto dengan tamu yang hadir.
Pemerintah Upayakan Pembangunan Hunian Sementara
Dalam kesempatan itu, bantuan berupa sembako dari Baznas Jawa Tengah juga disalurkan kepada para pengungsi. Pemerintah provinsi disebut terus berupaya memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus mempercepat penanganan pascabencana.
Pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak saat ini masih dalam tahap proses. Hal tersebut dikarenakan lokasi yang direncanakan merupakan lahan milik Perhutani, sehingga memerlukan kajian lebih lanjut agar tidak menimbulkan dampak lingkungan.
“Kami akan sangat berhati-hati, sehingga lokasinya nanti akan disurvei dan dilihat supaya tidak membahayakan lingkungan. Mari kita jaga bersama,” kata Taj Yasin.
Sementara itu, warga terdampak berharap pembangunan hunian sementara dapat segera direalisasikan agar mereka tidak berlama-lama tinggal di pengungsian.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terutama Ponpes Bahrul Quran yang bersedia menyediakan fasilitas sementara untuk tempat beristirahat. Harapannya, pembangunan huntara bisa dipercepat,” ujar Asro.(tya)







