Setahun Kepemimpinan Agustina–Iswar, IPM Naik ke 85,80 dan Pengangguran Turun 4,66 Persen

Folkstime.id – Tepat satu tahun duet kepemimpinan Agustina Wilujeng bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin, Pemerintah Kota Semarang mencatatkan sejumlah indikator makro yang menunjukkan perbaikan signifikan. Mulai dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), angka kemiskinan, hingga tingkat pengangguran, seluruhnya bergerak ke arah positif sepanjang 2025.

Agustina menyebut fase tahun pertama ini sebagai fondasi untuk membangun kota yang bersih, tangguh, sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

“Pembangunan Semarang hari ini adalah tentang keseimbangan. Kita kejar pertumbuhan ekonomi, tapi kita juga harus pastikan rumah-rumah warga bersih dan lingkungan kita hijau. Semarang Bersih adalah fondasi kita menuju kota yang tangguh dan warganya sejahtera,” ujar Agustina, Sabtu 21 Februari 2026.

Data pembangunan menunjukkan IPM Kota Semarang pada 2025 mencapai 85,80. Angka tersebut meningkat dibanding 2020 yang berada di posisi 83,05. Capaian itu sekaligus menempatkan Semarang di atas rata-rata Provinsi Jawa Tengah maupun nasional.

Peningkatan IPM mencerminkan membaiknya akses pendidikan, layanan kesehatan, serta daya beli masyarakat. Pemerintah kota menilai tren ini menjadi indikator utama kualitas hidup warga yang terus membaik.

Penurunan angka kemiskinan juga terjadi secara bertahap dalam lima tahun terakhir. Pada 2020, persentase penduduk miskin tercatat 11,84 persen. Angka tersebut menurun berturut-turut menjadi 11,25 persen (2021), 10,98 persen (2022), 10,77 persen (2023), 10,19 persen (2024), hingga 9,71 persen dan kini diproyeksikan 9,36 persen pada 2025.

Pemerintah kota menyebut berbagai program pemberdayaan ekonomi berbasis kewilayahan dan dukungan terhadap pelaku UMKM menjadi faktor pendorong utama turunnya angka kemiskinan.

Dari sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka yang sempat menyentuh 9,54 persen pada 2020 saat pandemi, berhasil ditekan menjadi 4,66 persen pada 2024. Angka ini lebih rendah dibanding rata-rata Jawa Tengah sebesar 4,91 persen dan nasional 5,65 persen.

Pertumbuhan sektor usaha kecil, warung rakyat, serta ekonomi kreatif dinilai turut berkontribusi dalam membuka peluang kerja baru di tingkat lokal.

Kinerja ekonomi Kota Semarang juga menunjukkan tren stabil. Laju pertumbuhan berada di atas 5 persen dan sempat menyentuh 6,42 persen, melampaui pertumbuhan rata-rata Jawa Tengah. Pemerintah menilai stabilitas ini menjadi sinyal kuat daya tahan ekonomi daerah.

Salah satu program yang menjadi penopang kebijakan lingkungan sekaligus ekonomi adalah gerakan “Semarang Bersih”. Konsep ini tidak hanya menitikberatkan pada kebersihan kota, tetapi juga mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Jumlah bank sampah aktif meningkat dari 664 unit pada 2024 menjadi 857 unit pada 2025. Total sampah yang berhasil dikelola mencapai 1.705,7 ton.

Kolaborasi dengan PKK menghasilkan pengelolaan 1.080 ton sampah dengan perputaran dana mencapai Rp1,89 miliar. Dana tersebut menjadi tambahan penghasilan bagi warga yang rutin memilah dan menabung sampah. Sebanyak 1.906 tas pilah sampah juga telah didistribusikan untuk memudahkan pemilahan dari rumah.

Di lingkungan birokrasi, gerakan “ASN Wegah Nyampah” berhasil mengurangi timbulan sampah kantor hingga 4,3 ton per hari.

Pemerintah kota juga menambah 36 kontainer sampah sehingga total menjadi 454 unit, serta meningkatkan jumlah TPS dari 200 menjadi 237 unit. TPS3R bertambah dari 22 menjadi 26 unit. Selain itu, empat instalasi pengolahan air limbah (IPAL) domestik telah dibangun, termasuk di Taman RBRA Abdurrahman Saleh dan kawasan Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan.

Upaya penataan kota juga dilakukan melalui penghijauan. Sepanjang 2025, seluas 16,58 hektare lahan direhabilitasi dengan penanaman 46.510 bibit pohon.

Tiga taman baru dibangun, yakni Taman RBRA Abdurrahman Saleh, Taman Garoot, dan Taman Dinar Mas Meteseh. Sementara Taman Telaga Bodas serta Taman Jalan Bougenville Raya Sendangmulyo direvitalisasi.

Ruang terbuka hijau tersebut kini dimanfaatkan sebagai ruang interaksi keluarga, area bermain anak, hingga pusat aktivitas komunitas.

Memasuki tahun kedua kepemimpinan, Pemkot menyiapkan sejumlah target lanjutan. Di antaranya pengurangan plastik sekali pakai melalui pengawasan Peraturan Wali Kota Nomor 27 Tahun 2019, pengembangan aplikasi “ASN Wegah Nyampah” yang terintegrasi dengan penilaian kinerja, serta peningkatan jumlah bank sampah menjadi 1.468 unit.

Empat TPS3R tambahan akan dibangun, serta pembangunan IPAL TPA Jatibarang Tahap 1 mulai direalisasikan.

Di sektor penghijauan, pemerintah menargetkan rehabilitasi 17 hektare lahan baru dengan penanaman 50.000 bibit pohon di antaranya di Polder Mukthariyo Kidul, Pedurungan, dan sepanjang Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan.

Sejumlah taman lingkungan juga direncanakan dibangun di berbagai wilayah, termasuk Sampangan, Bulusan, Sendangmulyo, Rejosari, Gedawang, Ngaliyan, hingga Semarang Utara.

Agustina menegaskan, pembangunan kota tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri tanpa partisipasi warga.

“Kita ingin pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan kualitas lingkungan. Ketika warga terlibat, ketika komunitas bergerak, hasilnya nyata dan berkelanjutan,” tegasnya.(tya)

Artikel Menarik Lainnya