FOLKSTIME.ID — Menghadapi ancaman musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino, Pemerintah Kota Semarang menyiapkan cadangan air bersih hingga 1 juta liter untuk menjaga kebutuhan warga di wilayah rawan kekeringan.
Langkah ini disiapkan sebagai bagian dari strategi mitigasi menghadapi potensi krisis air yang diperkirakan mencapai puncaknya pada pertengahan hingga akhir 2026. Kondisi cuaca yang tidak stabil juga mulai dirasakan masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyatakan bahwa penanganan kekeringan akan dilakukan melalui kerja sama lintas sektor, termasuk melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
“Mudah-mudahan begitu kita mendengar ada kekurangan air, kita bisa siapkan airnya,” ujarnya, Rabu (8/4).
Cuaca Ekstrem Mulai Terasa
Perubahan iklim yang terjadi belakangan ini telah memicu peningkatan suhu udara secara signifikan di wilayah Semarang. Kondisi tersebut diperkirakan akan terus berlangsung hingga puncak musim kemarau tiba.
Wali Kota mengingatkan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak lanjutan, seperti potensi kebakaran akibat kondisi lingkungan yang kering dan angin kencang.
“Jadi masyarakat harus aware ya. Walaupun kadang-kadang orang berasumsi ini cuaca tidak menentu, tapi ini sudah jelas bahwa kita harus menjaga,” tutur Agustina.
Pola Cuaca 2026 Dinilai Lebih Ekstrem
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, mengungkapkan bahwa pola cuaca tahun ini menunjukkan karakteristik yang lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya. Perubahan suhu drastis hingga hujan mendadak disertai angin kencang menjadi fenomena yang kerap terjadi.
“Kalau kita bandingkan dengan 2025, 2026 ini relatif fenomenal sekali. Ini cuaca panas, tiba-tiba nanti menjelang siang atau sore hujan deras disertai dengan angin kencang,” jelasnya.
Informasi dari BMKG menyebutkan bahwa musim kemarau diperkirakan mulai berlangsung pada Mei, meski potensi hujan masih dapat terjadi hingga April.
Distribusi Air Sesuai Permintaan Warga
Sebagai langkah konkret, BPBD telah menyiapkan distribusi air bersih sebanyak 1 juta liter yang akan disalurkan berdasarkan kebutuhan warga di wilayah terdampak kekeringan.
“Kapanpun permintaan warga, di manapun nanti akan kita kirim sesuai permintaan warga,” kata Endro.
Fenomena suhu panas yang meningkat dijelaskan terjadi akibat posisi matahari yang mendekati garis khatulistiwa serta minimnya tutupan awan, sehingga paparan panas menjadi lebih intens.
Rowosari Jadi Prioritas Penanganan
Berdasarkan pemetaan kawasan rawan bencana, wilayah Rowosari menjadi prioritas utama dalam penanganan kekeringan. Hal ini disebabkan keterbatasan akses jaringan air bersih di kawasan tersebut.
Upaya pengeboran sumur dalam yang dilakukan sebelumnya tidak membuahkan hasil optimal karena justru ditemukan kandungan gas, sehingga distribusi air tangki menjadi solusi utama.
“Rowosari masih menjadi prioritas pertama. Kendalanya di sana PDAM belum bisa masuk,” ungkap Endro.
Selain itu, wilayah lain seperti Wonosari di Kecamatan Ngaliyan serta sebagian kawasan Gunungpati juga masuk kategori rawan, meski sebagian sudah mulai terjangkau jaringan air.
Imbauan Hemat Air dan Jaga Lingkungan
Pemerintah daerah terus mendorong langkah mitigasi untuk menekan dampak kekeringan agar tidak meluas. Masyarakat juga diimbau berperan aktif dalam menjaga lingkungan serta menghemat penggunaan air bersih.
Dengan kesiapan logistik serta koordinasi antarinstansi, diharapkan dampak El Nino di Kota Semarang dapat diminimalkan, khususnya bagi warga di daerah yang selama ini kesulitan mendapatkan akses air bersih.(tya)







