Mereka yang Memulangkan dalam Sunyi, Jejak Tak Kasatmata Relawan Pemburu Mayat di Balik Evakuasi Jenazah

FOLKSTIME.ID – Kota ini nyaris tak pernah benar-benar terlelap. Di balik hiruk pikuk jalanan dan lampu yang terus menyala, ada sisi lain yang jarang tersentuh: panggilan-panggilan darurat yang datang bukan sekadar membawa kabar kematian, tetapi juga meninggalkan jejak yang sulit dijelaskan nalar.

Bau busuk dari rumah kosong, tubuh tak bernyawa di pinggir rel, hingga jasad yang ditemukan di lorong sempit atau kebun—semua menjadi bagian dari keseharian sekelompok relawan yang menamakan diri Relawan Pemburu Mayat.

Namun penelusuran mendalam mengungkap, tugas mereka bukan sekadar evakuasi.

Ada pengalaman-pengalaman ganjil yang berulang. Konsisten. Dan menghantui.


Di Balik Prosedur yang Rapi

Komunitas ini terbentuk pada awal 2025, beranggotakan sekitar 10 orang relawan. Sebagian besar merupakan eks jaringan Bantuan Komunitas (Bankom) yang telah lama bekerja sama dengan kepolisian dan tim identifikasi forensik.

Secara prosedural, pekerjaan mereka jelas: mengamankan lokasi, menunggu olah tempat kejadian perkara (TKP), lalu mengevakuasi jenazah sesuai standar operasional.

Namun dari sejumlah wawancara dengan anggota, muncul pola yang tak tercatat dalam SOP.

“Tidak semua yang kita temukan itu… benar-benar selesai,” ujar Mujiono (62), salah satu anggota senior.

Ia mengisahkan penemuan jenazah di kawasan Jalan Diri, yang telah membusuk selama hampir 20 hari. Kondisi tubuh korban sudah jauh dari bentuk manusia.

Sebagian organ telah hancur.

Kepala tinggal setengah tengkorak.

Namun yang menjadi sorotan bukan hanya kondisi fisik jenazah.

“Waktu itu… seperti ada yang bergerak,” kata Mujiono, pelan. “Di bagian mata. Tapi kalau dilihat lagi, sudah tidak ada.”

Pernyataan itu sulit diverifikasi. Namun menariknya, pengalaman serupa tidak hanya dialami satu orang.


Ketukan Tanpa Sumber

Marsudi (64), anggota lain, menceritakan kejadian yang terjadi beberapa jam setelah evakuasi korban kecelakaan kereta di Kaligawe.

Korban ditemukan dalam kondisi terfragmentasi. Proses evakuasi dilakukan dengan mengumpulkan bagian tubuh satu per satu untuk memastikan kelengkapan sebelum diserahkan ke pihak berwenang.

Malam harinya, di rumahnya sendiri, Marsudi mengaku mengalami kejadian berulang.

Ketukan di pintu.

Tiga kali.

Saat pintu dibuka, tidak ada siapa pun.

Namun pada ketukan ketiga, ia mendengar suara.

“Terima kasih… saya sudah utuh.”

Tidak ada saksi lain. Tidak ada rekaman. Namun Marsudi menegaskan, pengalaman itu nyata.

Sejak saat itu, ia mengaku tidak pernah lagi tidur tanpa lampu.


Fenomena “Beban Tak Terlihat”

Investigasi juga menemukan pola lain: sensasi fisik yang dialami relawan usai evakuasi.

Mujiono mengungkapkan, dalam beberapa kasus, tubuhnya mendadak terasa sangat berat setelah mengangkat jenazah yang telah membusuk berhari-hari.

“Kita tidak bisa berdiri. Badan seperti ditindih,” ujarnya.

Fenomena ini terjadi bukan sekali.

Dalam satu kejadian, ia bahkan merasa seperti ada “sesuatu” yang ikut terbawa.

Meski tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, pengalaman tersebut konsisten muncul dalam beberapa kesaksian anggota.


Antara Fakta dan Yang Tak Terjelaskan

Secara medis dan psikologis, paparan terhadap kondisi ekstrem—bau menyengat, visual tubuh yang rusak, serta tekanan mental—dapat memicu halusinasi atau gangguan persepsi.

Namun, sejumlah relawan menolak sepenuhnya penjelasan tersebut.

“Kalau sekali mungkin halusinasi. Tapi kalau berulang, dengan cerita yang mirip?” ujar salah satu anggota yang enggan disebutkan namanya.

Hingga kini, tidak ada penelitian resmi yang secara khusus mengkaji fenomena ini dalam konteks relawan evakuasi jenazah.

Namun satu hal yang pasti: pengalaman-pengalaman tersebut membentuk cara mereka bekerja.

Beberapa relawan mengaku memiliki ritual pribadi sebelum dan sesudah evakuasi.

Sebagian lain memilih tidak langsung pulang setelah bertugas.

Ada pula yang selalu memastikan “sendirian” sebelum memasuki rumah.


Sisi Lain Kemanusiaan

Di tengah meningkatnya kasus kematian tak wajar dan berbagai peristiwa tragis di Kota Semarang, keberadaan Relawan Pemburu Mayat menjadi elemen penting dalam rantai penanganan darurat.

Mereka bekerja tanpa sorotan.

Tanpa status resmi.

Namun selalu hadir di garis depan—di titik di mana kehidupan telah berhenti, dan hanya tersisa sunyi.

Meski demikian, investigasi ini menunjukkan bahwa beban yang mereka tanggung bukan hanya fisik.

Ada dimensi lain yang tak kasatmata.

Yang tidak tertulis dalam laporan.

Dan mungkin… tidak pernah benar-benar pergi.


Di balik semua itu, para relawan tetap bertahan dengan satu keyakinan sederhana:

Setiap orang berhak pulang.

Namun dari jejak-jejak yang ditemukan, pertanyaan yang tersisa justru lebih dalam—

Apakah semua yang mereka pulangkan… benar-benar pergi?

Artikel Menarik Lainnya