FOLKSTIME.ID — Kemeriahan Pawai Ogoh-Ogoh Semarang 2026 telah disaksikan ribuan warga yang memadati sepanjang rute dari Balai Kota hingga Simpang Lima, dengan partisipasi sekitar 1.500 peserta dari berbagai unsur lintas agama dan budaya yang turut dilibatkan dalam parade tersebut sebagai representasi nyata harmoni sosial di Kota Semarang.
Kegiatan Pawai Ogoh-Ogoh lintas agama ini digelar sebagai bagian dari penguatan identitas Kota Semarang sebagai kota toleran, di mana berbagai elemen masyarakat dari latar belakang agama, organisasi keagamaan, hingga komunitas penghayat kepercayaan telah diikutsertakan dalam satu ruang ekspresi budaya bersama yang menonjolkan nilai kebersamaan.
Partisipasi berbagai kelompok kesenian turut dihadirkan dalam pawai tersebut, mulai dari Beleganjur, Barongsai, Rebana, hingga Topeng Ireng, yang secara kolaboratif ditampilkan untuk memperkuat narasi keberagaman sekaligus menjadi daya tarik utama dalam Pawai Ogoh-Ogoh Semarang tahun ini.
“Wajah Kota Semarang hari ini telah ditunjukkan melalui kesetaraan yang dijadikan sebagai kekuatan sosial, di mana Pawai Ogoh-Ogoh ini telah dimaknai sebagai refleksi upaya manusia dalam membersihkan diri dari sifat negatif guna menjaga keseimbangan hidup, dan nilai tersebut telah dihadirkan dalam ruang lintas agama sebagai bentuk komitmen bersama untuk merawat harmoni kota,” ujar Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng.
Kolaborasi Lintas Daerah dan Budaya
Kemeriahan pawai semakin diperkuat dengan dihadirkannya empat Ogoh-Ogoh utama yang didukung oleh solidaritas Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dari Semarang, Kendal, hingga Jepara, yang secara bersama-sama telah berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan acara tersebut.
Selain itu, interaksi budaya juga ditunjukkan saat rombongan pawai mencapai kawasan Simpang Lima, di mana filosofi Warak Ngendok sebagai simbol akulturasi budaya Semarang kembali diperkenalkan kepada masyarakat sebagai representasi perpaduan nilai-nilai etnis dan kepercayaan yang telah lama hidup berdampingan.
Pengakuan Nasional Kota Toleran
Prestasi Kota Semarang sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia kembali ditegaskan melalui capaian peringkat tiga nasional dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang dirilis oleh SETARA Institute, yang dinilai sebagai hasil dari konsistensi dalam menjaga kerukunan di tengah heterogenitas masyarakat perkotaan.
“Capaian tersebut telah dianggap sebagai anugerah luar biasa bagi Kota Semarang sebagai kota metropolitan yang sangat heterogen, sekaligus membuktikan bahwa di tengah kompleksitas kota besar, masyarakatnya mampu menjadi teladan toleransi bagi daerah lain di Indonesia,” tegas Agustina.
Dampak Ekonomi dan Agenda Mendatang
Berbagai kegiatan karnaval keagamaan seperti Dugderan hingga Karnaval Paskah disebut telah memberikan dampak langsung terhadap penguatan sektor ekonomi dan pariwisata, sehingga keberlanjutan agenda serupa dinilai penting untuk terus dikembangkan.
“Berbagai karnaval keagamaan yang telah digelar hingga saat ini telah memberikan bukti bahwa kerukunan lintas agama di Semarang berdampak langsung pada penguatan ekonomi dan pariwisata, sehingga kondisi kota yang damai dan kondusif harus terus dijaga untuk mendukung kemajuan bersama,” imbuhnya.
Sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-479 Kota Semarang, agenda Semarang Night Carnival (SNC) yang akan digelar pada 2 Mei mendatang juga telah disiapkan dengan menghadirkan delegasi internasional dari Jepang, Korea, Belanda, hingga Maroko, yang diharapkan dapat semakin memperkuat posisi Semarang di kancah global.
“Masyarakat diharapkan dapat terus menjaga semangat kebersamaan ini dan menjadikan perbedaan sebagai energi kolaborasi, sekaligus turut menyampaikan kepada khalayak luas bahwa Semarang siap menyambut dunia melalui Semarang Night Carnival sebagai tuan rumah yang nyaman dan rukun bagi semua,” pungkasnya.(tya)







