Pertama Geli, Berikutnya Suka: Saat Mahasiswa Asing Belajar Menanam Padi dan Tangkap Ikan Summer Course UNNES di Desa Wisata Kandri

FOLKSTIME.ID – Hamparan sawah di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, pada Kamis 7 Mei 2026 tampak berbeda dari biasanya. Suasana persawahan dipenuhi tawa dan rasa penasaran ratusan mahasiswa internasional yang sedang mengikuti program Summer Course Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang atau UNNES.

Topi caping berwarna-warni dikenakan para peserta saat mereka turun langsung ke area persawahan. Lumpur sawah yang biasanya menjadi rutinitas petani lokal, kali ini justru dijadikan ruang belajar budaya oleh mahasiswa dari berbagai negara.

Kegiatan budaya tersebut diketahui diikuti sekitar 134 hingga 136 peserta dari 28 negara. Berbagai budaya Indonesia diperkenalkan melalui rangkaian aktivitas seperti membatik khas Semarang, belajar tari tradisional, melukis topi caping, hingga praktik menanam padi secara langsung di sawah Desa Wisata Kandri.

Program itu tidak hanya dirancang sebagai wisata budaya biasa. Ruang interaksi lintas negara juga sengaja dibangun agar nilai inklusivitas, toleransi, dan pertukaran perspektif global dapat dirasakan secara langsung oleh para peserta.


Pengalaman Pertama Menanam Padi Dialami Mahasiswa Asal Pakistan

Keceriaan tampak diperlihatkan Kiran, mahasiswa pertukaran asal Pakistan, saat dirinya mencoba menanam padi untuk pertama kali. Dengan perlahan, bibit padi ditanam mengikuti garis lurus sesuai arahan instruktur dari Desa Wisata Kandri.

Sesekali, langkahnya terlihat ragu ketika kaki mulai tenggelam ke lumpur sawah. Namun rasa canggung itu perlahan berubah menjadi antusiasme.

“Awal kali masuk ke tanah, geli. Tapi setelah melakukan cara menanam padi jadi menyenangkan,” ungkapnya sambil tersenyum bahagia.

Pengalaman tersebut disebut menjadi momen baru yang sangat berkesan selama mengikuti Summer Course UNNES di Semarang.

Menurut Kiran, proses menanam padi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kerapian dan pola penanaman justru menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.

“Awalnya saya kira cuma tinggal memasukkan ke tanah, tapi ternyata harus rapi,” tambahnya.

Kegiatan itu pun memperlihatkan bagaimana budaya agraris Indonesia diperkenalkan secara langsung kepada mahasiswa internasional melalui pengalaman nyata, bukan hanya teori di dalam kelas.


Caping Tradisional Disulap Menjadi Kanvas Warna-Warni

Sebelum turun ke sawah, para peserta terlebih dahulu mengikuti kelas melukis topi caping tradisional. Caping yang biasanya digunakan petani saat bekerja di bawah terik matahari, kali ini diubah menjadi media ekspresi seni oleh para mahasiswa asing.

Beragam gambar dan warna dituangkan di permukaan caping. Motif bunga, corak abstrak, hingga pola tradisional tampak digambar dengan penuh ketelitian.

Mahasiswa asal Sudan Afrika Utara, Radwa, diketahui melukis bunga merah dengan titik-titik kecil pada caping miliknya. Aktivitas itu disebutnya menjadi pengalaman budaya yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Kegiatan melukis caping sengaja dipadukan dengan aktivitas pertanian agar peserta tidak hanya memahami simbol budaya Indonesia, tetapi juga merasakan langsung penggunaannya dalam kehidupan masyarakat desa.

Setelah selesai dihias, caping tersebut kemudian dipakai para peserta saat memasuki area persawahan.


Mahasiswa Sudan Mengaku Baru Mengetahui Cara Menanam Padi

Pengalaman baru juga dirasakan Radwa ketika mengikuti praktik menanam padi bersama peserta lain. Ia mengaku baru mengetahui teknik dasar bercocok tanam yang selama ini hanya dilihat melalui media.

“Saya baru tahu cara menanam padi, ternyata harus berjalan mundur,” ujarnya.

Teknik berjalan mundur memang diperkenalkan agar bibit padi yang sudah ditanam tidak terinjak kembali. Bagi sebagian peserta asing, aktivitas sederhana itu justru menjadi pengalaman unik yang sulit ditemukan di negara asal mereka.

Selain menanam padi, kegiatan menangkap ikan di area persawahan juga menjadi aktivitas yang paling ditunggu para peserta internasional. Kehidupan masyarakat pedesaan Indonesia diperkenalkan secara langsung melalui aktivitas luar ruang yang bersifat interaktif.


Summer Course UNNES Disebut Jadi Strategi Internasionalisasi Kampus

Program Summer Course UNNES 2026 diketahui menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus. Melalui kegiatan budaya, jejaring global antarmahasiswa dari berbagai negara diupayakan terus diperluas.

Wakil Dekan Bidang Riset, Bisnis, dan Kerja Sama FIPP UNNES, Siti Nuzulia, menjelaskan bahwa target internasionalisasi terus didorong melalui berbagai program pertukaran dan kegiatan akademik internasional.

“Target kami adalah mendatangkan 190 mahasiswa asing ke UNNES, khususnya ke Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi,” kata Siti Nuzulia.

Menurutnya, keberagaman peserta menjadi sarana penting untuk membangun pemahaman tentang toleransi dan inklusivitas global.

“Salah satu tujuannya adalah mengumpulkan mahasiswa dari berbagai negara supaya mereka bisa saling bertukar ide dan perspektif baru tentang perbedaan,” jelasnya.

Para peserta diketahui berasal dari berbagai disiplin ilmu. Tidak hanya pendidikan, tetapi juga manajemen hingga teknik. Sebagian di antaranya sedang menjalani studi di Indonesia melalui program beasiswa dan pertukaran pelajar, sementara lainnya datang sebagai relawan internasional.

“Tidak semuanya mahasiswa. Ada yang volunteering ke Indonesia kemudian mereka join dengan acara ini,” tambahnya.


Budaya Lokal Semarang Dijadikan Jembatan Pertemuan Mahasiswa Dunia

Tema budaya dipilih dalam Summer Course UNNES di Semarang karena dinilai mampu mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang negara. Tahun ini menjadi penyelenggaraan kedua dengan peserta yang berasal dari Prancis, Belanda, Chad, Mali, Nigeria, Filipina, Kamboja, Mesir, Pakistan, India, dan sejumlah negara lainnya.

Rangkaian kegiatan disusun menggunakan konsep budaya dan aktivitas luar ruang. Pada hari pertama, peserta diperkenalkan dengan budaya Semarang melalui tari tradisional dan membatik khas Semarang. Hari kedua kemudian difokuskan di Desa Wisata Kandri melalui berbagai aktivitas pertanian dan budaya desa.

Di tengah derasnya modernisasi global, budaya lokal justru diperlihatkan sebagai ruang yang mampu menyatukan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia.

Sawah, caping, batik, dan tarian tradisional tidak lagi dipandang sekadar identitas budaya lokal. Dalam Summer Course UNNES 2026, seluruh elemen tersebut diposisikan sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di mata dunia internasional.

Melalui interaksi sederhana di tengah lumpur sawah Desa Wisata Kandri, nilai kebersamaan lintas budaya tampak dibangun secara alami. Bahasa dan negara boleh berbeda, tetapi pengalaman belajar budaya Indonesia berhasil dirasakan bersama oleh para peserta internasional.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID- Tersangka kasus dugaan penc*bulan terhadap santriwati di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Ashari (52), berhasil ditangkap aparat kepolisian setelah sempat buron. Ashari ditangkap tim gabungan Polresta Pati bersama Polda Jawa Tengah di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah, pada Kamis (7/5) pagi. Tersangka diketahui merupakan pengasuh Pondok Pesantren Ndholo Kusumo yang berada di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Polisi telah menetapkan Ashari sebagai tersangka sejak 28 April 2026. Kuasa hukum korban menyebut jumlah korban dugaan pencabulan mencapai sekitar 50 santriwati. Namun hingga kini, pihak kepolisian mengaku baru menerima laporan resmi dari sejumlah korban dan masih terus mendalami kemungkinan adanya korban lain. Dalam menjalankan aksinya, tersangka diduga menggunakan doktrin tarikah yang mengharuskan para murid patuh sepenuhnya kepada guru. Doktrin tersebut diduga dimanfaatkan pelaku untuk mengendalikan para korban. Selain itu, korban yang sebagian besar merupakan anak yatim piatu dan berasal dari keluarga kurang mampu disebut kerap mendapat ancaman akan dikeluarkan dari pondok pesantren apabila menolak permintaan tersangka. Pelaku juga diduga menyalahgunakan statusnya sebagai tokoh agama dengan mengklaim diri sebagai “wali” atau keturunan Nabi guna memperoleh kepatuhan dari para pengikutnya. Kasus ini sebelumnya memicu perhatian luas masyarakat lantaran penanganannya dinilai lambat. Laporan dugaan pencabulan disebut telah masuk sejak pertengahan 2024. Kondisi tersebut memicu kemarahan sejumlah elemen masyarakat dan organisasi keagamaan di Pati. Pada awal Mei 2026, massa sempat menggeruduk pondok pesantren tempat tersangka mengajar sebagai bentuk protes atas lambannya proses hukum. Saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap tersangka dan membuka kemungkinan adanya tambahan korban maupun pengembangan perkara lainnya. Video : Polresta Pati #pati #pondok #pesantren #kyai #jateng

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Artikel Menarik Lainnya