Mahasiswa dari 28 Negara Belajar Batik hingga Turun ke Sawah di Semarang, Summer Course UNNES 2026 Jadi Sorotan Dunia

FOLKSTIME.ID– Suasana siang di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, mendadak dipenuhi warna-warni caping tradisional yang dihias oleh ratusan mahasiswa asing. Tawa peserta Summer Course Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNNES 2026 terdengar bersahutan di tengah cuaca tropis Kota Semarang yang terik.

Caping yang biasanya dikenakan petani saat bekerja di sawah, kali ini dijadikan media kreatif dalam kegiatan budaya internasional yang digelar Universitas Negeri Semarang (UNNES). Melalui program Summer Course UNNES 2026, budaya lokal Semarang diperkenalkan kepada mahasiswa internasional dari berbagai belahan dunia.

Sebanyak 134 hingga 136 peserta dari 28 negara diketahui mengikuti program tersebut. Mereka berasal dari Prancis, Belanda, Chad, Mali, Nigeria, Filipina, Kamboja, Mesir, Pakistan, India, hingga Sudan.

Kegiatan budaya yang disusun selama dua hari itu tidak hanya dijadikan agenda akademik semata. Interaksi lintas budaya sengaja dibangun agar mahasiswa asing dapat memahami kehidupan masyarakat Indonesia secara langsung.

Desa Wisata Kandri Dipilih karena Budaya Pedesaan Masih Terjaga

Desa Wisata Kandri di Gunungpati dipilih sebagai lokasi utama kegiatan luar ruang karena suasana pedesaan dan budaya agrarisnya dinilai masih kuat dipertahankan. Aktivitas khas masyarakat desa pun diperkenalkan kepada peserta internasional.

Mereka tidak hanya diajak membatik dan belajar tari tradisional khas Semarang, tetapi juga turun langsung ke area persawahan hingga menangkap ikan bersama warga.

Kegiatan tersebut dirancang sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia yang dikemas melalui pengalaman langsung.

Caping tradisional kemudian dipakai para peserta saat memasuki area sawah. Simbol budaya agraris Indonesia itu diperkenalkan sebagai bagian penting kehidupan masyarakat pedesaan.

Di tengah arus modernisasi global, budaya lokal Semarang justru ditampilkan sebagai ruang pertemuan lintas negara dan lintas perspektif.

Radwa Mahasiswa Asal Sudan Kagum dengan Proses Batik Indonesia

Di antara ratusan peserta, perhatian tertuju kepada Radwa, mahasiswa asal Sudan, Afrika Utara. Ia terlihat serius melukis bunga merah lengkap dengan corak titik-titik kecil di permukaan caping miliknya.

Warna merah disebut dipilih karena menjadi warna favoritnya.

“Saya menggambar beberapa bunga, bunga-bunga dan hanya beberapa titik dan hanya sebuah garis tepi. Warna favorit saya adalah merah,” ujar Radwa kepada Diswayjateng.id, Kamis, 7 Mei 2026.

Pengalaman mengikuti Summer Course UNNES di Semarang disebut menjadi momen budaya yang sulit dilupakan.

Kekagumannya justru muncul saat dirinya mengikuti proses membatik khas Semarang. Menurutnya, batik Indonesia tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki proses pembuatan yang rumit dan penuh ketelitian.

“Aku sangat menyukainya. Aku merasa lebih menghargai batik karena prosesnya sangat panjang dan sulit, dan hasilnya juga sangat cantik,” katanya.

Tari Tradisional Indonesia Disebut Indah tetapi Sulit Dipraktikkan

Selain membatik, peserta internasional juga diperkenalkan dengan tarian tradisional khas Semarang. Gerakan tari yang terlihat lembut ternyata tidak mudah diikuti peserta asing.

Hal itu diakui langsung oleh Radwa. Ia mengaku sempat mengira tarian Indonesia terlihat sederhana ketika ditonton. Namun kesan tersebut berubah setelah dirinya ikut mempraktikkan gerakannya secara langsung.

“Tarian ini sangat sulit. Tapi sangat indah. Terlihat lambat dan mudah dari luar, tapi ketika dicoba, ternyata sangat sulit,” ujarnya sambil tertawa.

Kegiatan budaya itu kemudian menjadi ruang interaksi yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara dengan tradisi Indonesia secara lebih dekat.

Cuaca Panas Semarang Justru Dinikmati Mahasiswa Asing

Cuaca panas Kota Semarang ternyata tidak dianggap mengganggu oleh peserta internasional. Suasana tropis Indonesia justru disebut memberi pengalaman berbeda dibanding negara asal mereka.

Radwa bahkan mengaku menikmati cahaya matahari Semarang yang menurutnya membuat suasana terlihat indah untuk diabadikan dalam foto.

“Cuacanya panas tapi mataharinya bagus dan foto-fotonya terlihat bagus dalam cuaca seperti ini,” katanya.

Pengalaman tinggal dan mengikuti aktivitas desa tersebut disebut memberikan kesan baru bagi sebagian besar peserta yang belum pernah bersentuhan langsung dengan kehidupan pertanian Indonesia.

Mahasiswa Belanda Jatuh Cinta dengan Lapis Pandan dan Keramahan Warga Indonesia

Kesan mendalam juga dirasakan Jayla, peserta asal Belanda berusia 19 tahun. Berbagai pengalaman budaya selama mengikuti Summer Course UNNES disebut memberinya pengalaman baru yang tidak ditemui di negaranya.

“Aku sangat menyukainya. Aku sangat menikmati makanannya. Ada banyak orang yang sangat baik dan sungguh menyenangkan berada di Indonesia,” kata Jayla.

Kuliner Indonesia menjadi salah satu hal yang paling disukai peserta asal Belanda tersebut. Dari berbagai makanan yang dicicipi, lapis pandan disebut menjadi favoritnya.

“Aku sangat menyukai lapis pandan. Aku sangat menyukainya,” ujarnya.

Program Summer Course UNNES 2026 bahkan diberikan nilai tinggi olehnya.

“Saya kasih angkanya sembilan,” katanya.

Melukis Caping Jadi Aktivitas Favorit Peserta Internasional

Bagi Jayla, caping tradisional Indonesia menjadi benda budaya yang baru pertama kali dikenalnya. Aktivitas melukis caping pun disebut menjadi pengalaman kreatif yang paling menyenangkan selama kegiatan berlangsung.

“Aku sangat menyukainya dan aku sangat suka melukis,” ucapnya.

Caping-cap ing yang sebelumnya polos kemudian dipenuhi gambar bunga, pola warna-warni, hingga berbagai simbol khas negara peserta.

Kegiatan sederhana tersebut justru menciptakan ruang interaksi hangat antar mahasiswa asing dari berbagai budaya.

UNNES Targetkan 190 Mahasiswa Asing dalam Program Internasional

Wakil Dekan Bidang Riset, Bisnis, dan Kerjasama FIPP UNNES, Siti Nuzulia, menjelaskan bahwa Summer Course UNNES merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus.

Sebanyak 190 mahasiswa asing ditargetkan dapat terlibat dalam berbagai program internasional di lingkungan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi UNNES.

“Target kami adalah mendatangkan 190 mahasiswa asing ke UNNES, khususnya ke Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi,” kata Siti Nuzulia.

Program summer course disebut menjadi salah satu upaya memperluas jejaring internasional sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia global.

Peserta yang terlibat juga berasal dari disiplin ilmu berbeda, mulai dari pendidikan, manajemen, hingga teknik.

Sebagian peserta diketahui sedang menempuh studi di Indonesia melalui program pertukaran pelajar dan beasiswa internasional. Namun terdapat pula peserta yang datang sebagai relawan internasional.

“Tidak semuanya mahasiswa. Ada yang volunteering ke Indonesia kemudian mereka join dengan acara ini,” tambahnya.

Inklusivitas dan Toleransi Global Dibangun Lewat Budaya Lokal Semarang

Tema budaya sengaja dipilih dalam Summer Course UNNES 2026 karena dinilai mampu mempertemukan mahasiswa lintas negara dan latar belakang.

Keberagaman peserta disebut menjadi sarana penting untuk membangun pemahaman tentang toleransi dan inklusivitas global.

“Salah satu tujuannya adalah mengumpulkan mahasiswa dari berbagai negara supaya mereka bisa saling bertukar ide dan perspektif baru tentang perbedaan,” jelas Siti Nuzulia.

Melalui kegiatan membatik, melukis caping, belajar tari tradisional, hingga turun ke sawah, mahasiswa internasional tidak hanya diperkenalkan pada budaya Indonesia secara simbolis.

Pengalaman hidup masyarakat desa justru dihadirkan secara nyata agar dapat dipahami langsung oleh peserta asing.

Sawah dan Budaya Lokal Semarang Jadi Diplomasi Budaya Indonesia

Kegiatan menangkap ikan di area persawahan menjadi salah satu aktivitas yang paling ditunggu peserta internasional. Pengalaman tersebut dirancang bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari pengenalan kehidupan masyarakat Indonesia kepada dunia internasional.

Budaya lokal Semarang akhirnya tidak hanya diposisikan sebagai tradisi daerah semata. Melalui Summer Course UNNES 2026, batik, caping, tari tradisional, hingga sawah Desa Wisata Kandri diperlihatkan sebagai wajah diplomasi budaya Indonesia.

Dari Desa Wisata Kandri, mahasiswa asing tidak hanya membawa foto dan pengalaman perjalanan. Mereka juga membawa cerita tentang keramahan masyarakat Indonesia, kekayaan budaya lokal, dan keberagaman yang dapat dipersatukan melalui tradisi.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID – Penanganan cepat tanah longsor Kalialang di Kecamatan Gunungpati dipastikan telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang dengan fokus utama pada keselamatan warga terdampak. Peristiwa tanah longsor Kalialang Gunungpati tersebut telah menyebabkan empat kepala keluarga atau 11 jiwa harus diungsikan ke lokasi yang lebih aman sejak awal Mei, setelah pergerakan tanah dinilai membahayakan permukiman. Langkah penanganan longsor Kalialang Semarang juga telah diperkuat melalui pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, mulai dari logistik harian hingga penyediaan air bersih agar aktivitas warga tetap berjalan secara layak di tengah kondisi darurat. “Yang paling penting saat ini warga dalam kondisi aman. Kami tidak ingin penanganan ini berlarut. Apa yang bisa dilakukan di tingkat kota, langsung kami kerjakan agar warga tidak harus menunggu,” ujar Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, saat peninjauan di lokasi, Selasa (5/5). Selengkapnya… https://folkstime.id/gerak-cepat-pemkot-semarang-tangani-longsor-kalialang-11-warga-diungsikan-dan-mitigasi-disiapkan/ #semarang #agustina #jateng #longsor #semarangstory

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Artikel Menarik Lainnya