fOLKSTIME.ID – Deru kendaraan roda dua mulai terdengar pelan di atas jembatan gantung baru yang membelah Sungai Beringin, RW 7 Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan, Kota Semarang. Setelah berbulan-bulan warga dipaksa bertahan dengan akses darurat dan rakit sederhana, kini jalur penghubung antarpermukiman itu akhirnya bisa kembali digunakan dengan lebih aman.
Jembatan gantung yang dibangun oleh Kodim 0733/Kota Semarang tersebut telah rampung dikerjakan dan mulai dimanfaatkan warga untuk menjalankan aktivitas harian. Infrastruktur itu dibangun dengan konstruksi beton, besi, kayu, serta tali sling yang dirancang lebih kuat menghadapi arus sungai.
Keberadaan jembatan baru itu disambut lega oleh warga. Sebab sebelumnya akses utama di kawasan RW 7 sempat terputus akibat banjir bandang yang menerjang wilayah tersebut beberapa waktu lalu.
Akibat putusnya jembatan lama, mobilitas warga sempat lumpuh. Aktivitas bekerja, bersekolah, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari harus dilakukan dengan cara menyeberang menggunakan gethek atau rakit sederhana di Sungai Beringin.
Dibangun Sekitar Satu Bulan oleh TNI
Pembangunan jembatan gantung tersebut diketahui memakan waktu sekitar satu bulan. Dengan panjang kurang lebih 30 meter dan lebar sekitar 1,2 meter, jembatan itu kini berdiri kokoh di tengah perkampungan warga.
Akses tersebut dirancang untuk dapat dilalui pejalan kaki, sepeda motor, hingga gerobak pengangkut barang milik warga.
Keberadaan jembatan dinilai sangat vital karena menjadi penghubung utama aktivitas masyarakat di kedua sisi Sungai Beringin. Terlebih letaknya berada di tengah permukiman sehingga lebih mudah dijangkau warga dari berbagai arah.
Selama proses pembangunan berlangsung, akses sementara sebenarnya sempat dibuat secara swadaya menggunakan bambu. Namun jembatan darurat itu dinilai belum cukup aman terutama saat hujan deras mengguyur dan debit air sungai meningkat.
Warga Kini Merasa Lebih Aman
Rasa syukur disampaikan warga setelah jembatan permanen itu selesai dibangun. Kekhawatiran saat melintas di atas jembatan bambu kini perlahan mulai hilang.
“Warga berterimakasih dibangunnya jembatan ini, apalagi letaknya ditengah perkampungan,” kata Mudhofin, warga RW 7 Tambaksari, Minggu (10/5).
Menurutnya, jembatan darurat dari bambu memang masih digunakan sebagian warga. Namun saat arus sungai membesar, banyak warga memilih menunggu karena takut melintas.
Kondisi itu bahkan kerap memicu antrean panjang pada pagi dan sore hari ketika aktivitas warga sedang padat.
“Tentu merasa lebih aman ya, karena kontruksinya lebih kuat. Jembatan baru ini ada ditengah, jadi warga di sisi Utara juga lebih dekat, selain itu juga nggak perlu antri di jembatan darurat,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana sebuah infrastruktur sederhana ternyata memiliki dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Tidak hanya mempersingkat waktu tempuh, keberadaan jembatan juga menghadirkan rasa aman yang sebelumnya hilang akibat bencana.
Sungai Beringin Pernah Putuskan Akses Warga
Sebelumnya, banjir bandang yang menerjang kawasan Sungai Beringin menyebabkan jembatan lama rusak parah hingga tidak dapat digunakan. Akses keluar masuk warga RW 7 Tambaksari pun sempat terisolasi.
Dalam kondisi darurat, warga bergotong royong membangun jembatan bambu sebagai jalur sementara. Meski sederhana, jembatan itu menjadi satu-satunya penghubung antarwilayah ketika aktivitas ekonomi warga harus tetap berjalan.
Anak-anak sekolah terpaksa melewati jalur darurat tersebut setiap hari. Begitu pula warga yang bekerja dan membawa kebutuhan pokok menggunakan gerobak sederhana.
Situasi tersebut menjadi perhatian berbagai pihak karena dinilai membahayakan keselamatan masyarakat, terutama saat musim hujan tiba.
Inisiasi Dandim 0733/KS Diapresiasi DPRD Kota Semarang
Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, menyebut pembangunan jembatan gantung itu merupakan hasil inisiasi Komandan Kodim 0733/KS Kolonel Inf Priyo Handoyo.
Usulan pembangunan disebut telah diajukan langsung ke pemerintah pusat melalui paparan yang dilakukan pihak Kodim.
“Pak Dandim melakukan paparan di pusat, kemudian disetujui dan dibangun. Kalau menunggu anggaran APBD mungkin terlalu lama, kami tentu sangat berterimakasih,” katanya.
Menurut pria yang akrab disapa Pilus itu, kehadiran jembatan baru menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak masyarakat yang selama ini terkendala akses.
“Tentu warga sangat bahagia, jembatan ini lebih aman untuk akses sekolah, bekerja, ataupun aktivitas lainnya,” bebernya.
Ia juga menjelaskan bahwa lokasi pembangunan dipilih di tengah kawasan permukiman agar dapat menjangkau lebih banyak warga.
Jembatan Baru Jadi Simbol Bangkitnya Warga Tambaksari
Rampungnya pembangunan jembatan gantung di Tambaksari Mangkang Wetan bukan sekadar menghadirkan sarana penyeberangan baru. Lebih dari itu, jembatan tersebut menjadi simbol bangkitnya kehidupan warga setelah sempat terpuruk akibat banjir bandang.
Kini aktivitas masyarakat kembali berjalan normal. Anak-anak dapat berangkat sekolah tanpa rasa takut, pedagang lebih mudah membawa barang dagangan, dan warga tak lagi bergantung pada rakit penyeberangan.
Di tengah kondisi cuaca yang masih kerap berubah, keberadaan jembatan dengan konstruksi lebih kuat itu diharapkan mampu menjadi akses aman bagi warga dalam jangka panjang.
Pembangunan yang dilakukan secara cepat oleh TNI tersebut pun mendapat apresiasi luas dari masyarakat karena dianggap mampu menjawab kebutuhan mendesak warga tanpa harus menunggu proses panjang penganggaran daerah.(tya)







