FOLKSTIME.ID – Di saat berbagai persoalan sosial terus menjadi sorotan publik, mulai dari kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan hingga menguatnya gesekan akibat perbedaan pandangan di masyarakat, Forum SEMAR (Senin Malam di Serambi) hadir sebagai ruang dialog yang mempertemukan beragam elemen masyarakat di Kota Semarang, Senin malam (8/6/2026).
Kegiatan yang digagas Santri Ndalan (Sandal) Nusantara tersebut kembali digelar untuk ketiga kalinya dengan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang agama, budaya, profesi, dan komunitas.
Forum ini menjadi ajang diskusi terbuka yang menekankan pentingnya persaudaraan, toleransi, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Pengasuh Pondok Pesantren Santri Ndalan, Muchammad Nur Huda, mengatakan keberadaan SEMAR berangkat dari kebutuhan menghadirkan ruang perjumpaan di tengah masyarakat yang semakin beragam.
Menurutnya, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh atau bermusuhan. Justru, melalui dialog yang sehat, masyarakat dapat membangun hubungan yang lebih erat.
“SEMAR ini bertujuan menyatukan perbedaan. Dari yang tidak saling mengenal menjadi mengenal, dari yang jauh menjadi dekat, dan dari yang sebelumnya memiliki jarak bisa menjadi sahabat,” ujarnya.
Gus Huda menegaskan bahwa semangat tersebut juga menjadi fondasi Santri Ndalan Nusantara.
Komunitas yang ia asuh tidak membatasi keanggotaan berdasarkan agama maupun status sosial. Siapa pun yang memiliki keinginan untuk belajar dan memperbaiki diri diberi ruang untuk bergabung.
Ia menilai semangat keterbukaan tersebut sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar kehidupan berbangsa di Indonesia.
“Kita hidup dalam bangsa yang memiliki banyak perbedaan, baik budaya, agama, maupun tradisi. Karena itu, Pancasila harus menjadi pedoman perilaku masyarakat agar keberagaman tidak berubah menjadi konflik,” katanya.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, Gus Huda juga menyinggung fenomena kekerasan seksual yang belakangan menyeret sejumlah oknum pengelola pesantren.
Ia menyebut kasus-kasus tersebut sebagai peristiwa yang sangat memprihatinkan karena mencoreng kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan keagamaan.
Meski demikian, ia mengingatkan agar publik tidak serta-merta menggeneralisasi seluruh pesantren.
Menurutnya, masih banyak pesantren yang menjalankan fungsi pendidikan dan pembinaan moral sesuai ajaran agama.
“Tidak semua pesantren seperti yang diberitakan. Banyak pesantren yang tetap istiqamah mengajarkan ilmu agama dan akhlak dengan baik,” ujarnya.
Sebagai bentuk pencegahan, Gus Huda mendorong pemerintah untuk memperkuat pengawasan terhadap lembaga pesantren.
Menurutnya, keberadaan regulasi seperti Perda Pesantren harus diikuti dengan pengawasan yang aktif demi memastikan lingkungan pendidikan yang aman bagi para santri.
Bahkan, ia menyatakan pesantren yang terbukti melakukan praktik kekerasan seksual seharusnya mendapatkan tindakan tegas.
“Kalau memang terbukti melakukan tindakan seperti itu, lebih baik dibubarkan agar tidak menimbulkan korban-korban berikutnya,” tegasnya.
Selain itu, ia mengingatkan para orang tua agar lebih selektif dalam memilih lembaga pendidikan bagi anak-anak mereka.
Menurutnya, kualitas guru, kejelasan keilmuan, dan integritas pengasuh harus menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan menitipkan anak ke pesantren.
Melalui forum SEMAR, berbagai isu yang berkembang di masyarakat tidak hanya dibahas sebagai persoalan yang harus dikritisi, tetapi juga dicari jalan keluarnya melalui dialog dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Bagi Gus Huda, ruang pertemuan semacam ini menjadi penting untuk menjaga persatuan di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.
“Kalau nilai-nilai Pancasila benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka masyarakat akan lebih mudah menerima perbedaan dan terhindar dari berbagai bentuk kekacauan sosial,” pungkasnya.






