800 Anggota PMR dari 68 Sekolah di Semarang Digembleng Jadi Duta Kemanusiaan, Public Speaking hingga Persiapan Jumbara 2027

FOLKSTIME.ID – Riuh semangat kemanusiaan memenuhi lingkungan SMK Negeri 7 Semarang pada Minggu (14/6/2026). Ratusan seragam Palang Merah Remaja (PMR) dari berbagai sekolah tampak memadati lokasi kegiatan. Sebanyak 800 anggota PMR dari 68 sekolah di Kota Semarang dipertemukan dalam ajang Youth Volunteer Gathering PMI Kota Semarang, sebuah kegiatan yang tidak hanya menjadi ruang berkumpul para relawan muda, tetapi juga wadah pembinaan untuk mencetak generasi penerus kemanusiaan.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Kemanusiaan PMI Kota Semarang tersebut dirancang untuk memperkuat kompetensi relawan muda melalui latihan gabungan, uji tanda kecakapan, hingga pelatihan public speaking. Berbagai kemampuan dasar hingga lanjutan diperkuat agar anggota PMR mampu menjalankan peran sebagai duta kemanusiaan PMI Kota Semarang di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Semangat kepedulian sosial yang menjadi fondasi gerakan kepalangmerahan tampak terus ditanamkan. Tidak hanya keterampilan teknis yang diasah, tetapi juga kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan penguatan karakter yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan kemanusiaan di masa depan.

Ketua Bidang Kerja Sama dan Kemitraan PMI Kota Semarang, Eddy Herry Purnomo, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memang disiapkan sebagai sarana evaluasi sekaligus pengembangan kapasitas anggota PMR.

“Diselenggarakan Youth Volunteer Gathering yang berisi latihan gabungan PMR dari Mula, Madya sampai Wira. Kemudian juga ada uji tanda kecakapan, yaitu ujian untuk pencapaian kecakapan tertentu teman-teman PMR. Ini dalam rangka mengevaluasi dan mengembangkan kompetensi mereka dalam menjadi duta-duta kemanusiaan,” ujar Eddy.

Youth Volunteer Gathering PMI Kota Semarang Jadi Ajang Pembentukan Karakter Relawan

Di tengah berbagai tantangan sosial yang terus berkembang, kebutuhan terhadap relawan muda yang memiliki kompetensi semakin besar. Karena itu, pola pembinaan yang dilakukan PMI tidak lagi hanya berfokus pada teori kepalangmerahan, melainkan juga diarahkan pada pembentukan karakter dan kemampuan beradaptasi.

Melalui Youth Volunteer Gathering, proses kaderisasi dilakukan secara berjenjang. Peserta dari tingkatan PMR Mula, Madya, hingga Wira dikumpulkan dalam satu forum besar agar terjadi transfer pengalaman dan semangat pengabdian antargenerasi.

Berbagai materi diberikan secara terstruktur. Uji tanda kecakapan diselenggarakan untuk mengukur sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi yang telah diterima selama proses pembinaan di sekolah masing-masing.

Kompetensi yang telah diperoleh kemudian dievaluasi melalui berbagai simulasi dan pengujian lapangan. Dengan cara tersebut, kemampuan relawan muda tidak hanya diketahui secara teoritis, tetapi juga dapat diukur melalui praktik nyata.

Public Speaking PMR Menjadi Senjata Baru Duta Kemanusiaan

Salah satu materi yang menarik perhatian dalam kegiatan tersebut adalah pelatihan public speaking bagi anggota PMR. Kemampuan berbicara di depan publik kini dipandang sebagai keterampilan penting yang harus dimiliki relawan muda.

Di era digital yang sarat informasi, pesan-pesan kemanusiaan dinilai perlu disampaikan secara efektif agar mampu menjangkau masyarakat luas. Oleh karena itu, kemampuan komunikasi publik mulai ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses pembinaan PMR.

Materi public speaking diberikan agar anggota PMR mampu menjadi agen perubahan yang dapat menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam aksi sosial dan kemanusiaan.

Menurut Eddy, kemampuan tersebut dibutuhkan karena seorang relawan tidak cukup hanya memahami nilai kemanusiaan, tetapi juga harus mampu mengajak orang lain untuk berpartisipasi.

“Yang menarik ada latihan public speaking untuk para duta kemanusiaan agar mereka tahu, mampu, dan paham menyampaikan misi-misi kemanusiaan serta menginfluence orang-orang untuk misi-misi kemanusiaan,” katanya.

Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan tersebut pun menunjukkan besarnya minat generasi muda terhadap aktivitas kepalangmerahan.

“Hari ini diikuti oleh 800 peserta dari 68 unit sekolah,” tambah Eddy.

Suara Kemanusiaan untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas

Tahun ini PMI Kota Semarang mengangkat tema “Sound for Humanity, Humanity for Elderly and People with Disability”.

Tema tersebut dipilih untuk memperkuat kepedulian terhadap kelompok lanjut usia serta penyandang disabilitas yang sering kali membutuhkan perhatian khusus dalam berbagai aktivitas sosial maupun kemanusiaan.

Melalui tema tersebut, suara kemanusiaan diharapkan dapat disebarluaskan oleh para relawan muda kepada masyarakat. Kesadaran mengenai pentingnya perlindungan kelompok rentan terus didorong agar semakin berkembang di lingkungan sekolah maupun komunitas.

Nilai empati, penghormatan terhadap martabat manusia, serta semangat pelayanan tanpa diskriminasi menjadi pesan utama yang ingin ditanamkan selama kegiatan berlangsung.

“Suara kemanusiaan untuk kemanusiaan para lansia dan orang yang memiliki kebutuhan khusus. Ini kita gelorakan dan kita kembangkan. Ini bagian dari Bulan Kemanusiaan PMI Kota Semarang,” ungkap Eddy.

Nilai-Nilai Pancasila Diperkuat dalam Pembinaan PMR

Momentum Bulan Kemanusiaan tahun ini bertepatan dengan peringatan Bulan Pancasila yang berlangsung sepanjang Juni. Karena itu, nilai-nilai Pancasila turut diintegrasikan dalam berbagai materi pelatihan.

Pendekatan tersebut dilakukan agar keterampilan yang dimiliki peserta tidak berdiri sendiri, melainkan dibangun di atas fondasi karakter kebangsaan yang kuat.

Prinsip gotong royong, kepedulian sosial, persatuan, serta penghormatan terhadap sesama menjadi bagian yang terus diperkenalkan dalam setiap tahapan pembinaan.

Nilai-nilai tersebut dianggap relevan dengan semangat kepalangmerahan yang mengedepankan kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang seseorang.

“Kebetulan ini juga rangkaian dengan Bulan Pancasila. Jadi nilai-nilai Pancasila akan dimasukkan dalam latihan gabungan maupun uji kompetensi,” jelas Eddy.

Dengan demikian, relawan muda tidak hanya dipersiapkan menjadi individu yang terampil, tetapi juga memiliki karakter sosial yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat.

Persiapan Jumbara PMR 2027 Mulai Dilakukan dari Sekarang

Selain menjadi sarana peningkatan kapasitas, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai langkah awal menuju Jambore PMR (Jumbara) 2027.

Ketua Bidang Anggota dan Relawan PMI Kota Semarang, Wiwit Rijanto, menyebut seluruh materi yang diberikan saat ini akan menjadi bekal penting bagi peserta yang nantinya berpeluang mengikuti Jumbara.

Berbagai kemampuan dasar sengaja diperkuat sejak dini agar peserta memiliki kesiapan ketika memasuki proses seleksi maupun pembinaan lanjutan.

“Ini sebenarnya modal awal untuk nanti di tahun 2027 ada Jumbara. Ini menjadi modal teman-teman atau adik-adik relawan untuk menuju sebagai peserta Jumbara nantinya,” kata Wiwit.

Menurutnya, peningkatan kapasitas harus dilakukan secara berkelanjutan agar kualitas relawan terus berkembang.

“Ini peningkatan kapasitas. Evaluasi dari materi yang diterima dari pelatih dan fasilitator kemudian diuji apakah benar mereka mampu,” ujarnya.

Uji Kecakapan PMR Tidak Hanya Menilai Peserta

Menariknya, proses evaluasi yang dilakukan dalam kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan kepada anggota PMR.

Kualitas para fasilitator juga ikut diukur melalui hasil uji kecakapan peserta. Dengan demikian, efektivitas metode pembelajaran dapat diketahui secara lebih objektif.

Pendekatan evaluasi dua arah tersebut dinilai penting untuk memastikan materi yang diberikan benar-benar dapat dipahami dan diterapkan oleh peserta.

“Uji ini sebenarnya bukan hanya untuk relawan, tetapi juga untuk fasilitator. Untuk melihat kemampuan para fasilitator dalam memberikan materi kepada adik-adik relawan itu bisa sampai atau tidak,” tutur Wiwit.

Hasil evaluasi tersebut nantinya akan digunakan sebagai bahan perbaikan dalam sistem pembinaan relawan PMI Kota Semarang.

“Di samping itu juga ini adalah bekal nanti pada saat kita mengadakan Jumbara,” imbuhnya.

PMI Kota Semarang Siapkan Bibit Unggul Relawan Masa Depan

Di balik pelaksanaan kegiatan berskala besar tersebut, terdapat misi jangka panjang yang sedang dibangun PMI Kota Semarang, yakni menjaga keberlanjutan kaderisasi relawan.

Ketersediaan relawan muda yang siap melanjutkan estafet organisasi kemanusiaan dipandang sebagai kebutuhan penting. Karena itu, proses pembinaan sejak usia sekolah terus diperkuat.

Masih ditemukannya anggota yang tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya menjadi tantangan tersendiri dalam proses kaderisasi.

“Keinginan kami ini adalah bibit-bibit unggul relawan untuk masa depan. Jadi harus berjenjang dari Mula ke Madya, Madya ke Wira,” kata Wiwit.

Ia mengakui masih terdapat peserta yang berhenti pada jenjang tertentu sehingga kesinambungan pembinaan perlu terus diperkuat.

“Karena kita lihat ada yang dari Mula ke Madya tidak lanjut. Ada yang ke Madya, Wira-nya tidak lanjut. Kemudian dari Wira ke KSR juga harus lanjut,” lanjutnya.

Kaderisasi Relawan PMI Berkelanjutan untuk Membantu Warga Semarang

Harapan besar disematkan kepada para anggota PMR yang saat ini sedang menjalani proses pembinaan. Mereka diproyeksikan menjadi relawan yang akan terus berkembang hingga memasuki jenjang Korps Sukarela (KSR) di perguruan tinggi.

Melalui kaderisasi yang berkelanjutan, kekuatan relawan PMI Kota Semarang di masa depan diharapkan dapat terus terjaga. Saat masyarakat membutuhkan bantuan, para relawan tersebut dapat dimobilisasi dengan cepat untuk menjalankan berbagai misi kemanusiaan.

Proses panjang yang dimulai dari PMR Mula, kemudian berlanjut ke Madya, Wira, hingga KSR, dipandang sebagai investasi sosial yang akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

“Harapan kami dengan adanya kegiatan seperti ini, adik-adik dari Mula bisa berjenjang ke Madya, dari Madya ke Wira, dan Wira nanti menjadi relawan KSR di perguruan tinggi,” ujar Wiwit.

“Yang mana nantinya bisa dimobilisasi oleh PMI Kota Semarang untuk membantu warga Kota Semarang. Intinya itu, berkelanjutan,” pungkasnya.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID – Inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dikembangkan di Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, diapresiasi langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat, saat dilakukan peninjauan ke Kebun Bulusan Edu Park, Selasa (2/6). Praktik pengelolaan sampah organik melalui teknologi BIOWASH PROMIC yang dikembangkan Yayasan Peduli Lingkungan Penghijauan Melindungi Bumi dari Polusi dinilai telah menunjukkan keberhasilan penerapan ekonomi sirkular berbasis masyarakat yang mampu menghasilkan manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomi. Dalam kunjungan tersebut, proses pengolahan sampah organik menjadi media tanam, pupuk, dan nutrisi tanaman ramah lingkungan diperlihatkan secara langsung kepada Menteri Lingkungan Hidup. Kawasan Kebun Bulusan Edu Park juga ditunjukkan sebagai pusat edukasi lingkungan, urban farming, penghijauan, serta pemberdayaan warga. Gerakan pengelolaan sampah yang berawal dari lingkungan RT 04 RW 04 Kelurahan Bulusan itu dinilai berhasil berkembang menjadi contoh nyata pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang sejalan dengan konsep ekonomi sirkular nasional. “Dari RT di Kota Semarang melahirkan satu gagasan bahwa ternyata sampah itu menguntungkan dan itulah ekonomi sirkular. Sampah bukan masalah, bahkan bisa menjadi bagian dari peningkatan kegiatan ekonomi,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat. Selengkapnya.. https://folkstime.id/menteri-lh-takjub-dengan-inovasi-sampah-warga-bulusan-semarang-dari-rt-jadi-motor-ekonomi-sirkular-nasional/ #menteri #lingkungan #semarang #jateng #sampah

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Artikel Menarik Lainnya