Teater Gema UPGRIS berhasil meraih Juara 2 cabang monolog Peksimida Jawa Tengah 2026 melalui pertunjukan "Pidato" karya Putu Fajar Arcana.

Teater Gema UPGRIS berhasil meraih Juara 2 cabang monolog Peksimida Jawa Tengah 2026 melalui pertunjukan "Pidato" karya Putu Fajar Arcana.

FOLKSTIME.ID – Posisi Juara II cabang lomba monolog pada Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah 2026 berhasil diraih Teater Gema Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melalui penampilan monolog berjudul Pidato karya Putu Fajar Arcana yang dipentaskan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Prestasi Teater Gema UPGRIS tersebut dipastikan setelah penampilan berdurasi sekitar 10 menit yang diperankan Eng Muchakam di bawah arahan sutradara Shendi memperoleh penilaian terbaik kedua dari dewan juri. Kompetisi seni mahasiswa tingkat Jawa Tengah itu diikuti 33 perguruan tinggi dengan persaingan ketat pada setiap cabang yang diperlombakan.

Pada cabang monolog, posisi juara pertama diraih Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, sedangkan Teater Gema UPGRIS menempati peringkat kedua. Capaian tersebut sekaligus memperkuat posisi UPGRIS sebagai salah satu perguruan tinggi yang konsisten mengembangkan pembinaan seni pertunjukan melalui Teater Gema.

“Prestasi ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas berkesenian serta melahirkan karya-karya teater yang kreatif dan kompetitif,” kata Pembina Teater Gema UPGRIS Ahmad Ripai, Jumat (17/7).

Menurut Ahmad Ripai, hasil yang diperoleh merupakan buah dari proses latihan yang dijalankan secara disiplin dan berkesinambungan, mulai dari pendalaman karakter, penguatan teknik keaktoran hingga penyempurnaan unsur artistik sebelum pementasan dilakukan.

Ia menegaskan, capaian tersebut tidak terlepas dari kekompakan seluruh anggota tim yang selama masa persiapan menunjukkan komitmen tinggi dalam menghadirkan penampilan terbaik di hadapan dewan juri.

“Pencapaian ini lahir dari proses panjang yang tidak dapat dipisahkan dari disiplin latihan, kekompakan tim, serta komitmen seluruh anggota Teater Gema dalam mempersiapkan penampilan terbaik,” ujarnya.

Menurutnya, Peksimida menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membangun jejaring seni dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah.

“Ajang seperti Peksimida menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, kemampuan berekspresi, sekaligus memperluas jejaring antarseniman muda,” tuturnya.

Komitmen pembinaan, lanjut Ahmad Ripai, akan terus diperkuat agar kemampuan anggota Teater Gema semakin berkembang dan mampu bersaing pada kompetisi seni tingkat regional maupun nasional.

Sementara itu, dewan juri menegaskan bahwa penilaian monolog tidak hanya didasarkan pada kemampuan berbicara di atas panggung, tetapi juga mempertimbangkan kualitas keaktoran secara menyeluruh.

Juri Budi Sadewo mengatakan proses penilaian pertunjukan seni memiliki tantangan tersendiri karena aspek rasa harus diterjemahkan menjadi nilai secara objektif.

“Menilai rasa menjadi angka itu sesuatu beban buat kami. Namun, kami berusaha seobjektif mungkin karena kadang rasa itu bisa juga dilihat menjadi nominal,” katanya.

Ia menilai dasar-dasar latihan keaktoran masih perlu diperkuat oleh sebagian peserta karena tubuh merupakan instrumen utama yang dimiliki seorang aktor saat membangun karakter.

“Dasar-dasar latihan keaktoran itu menjadi penting karena seorang aktor tidak punya alat apa-apa kecuali badan,” ujarnya.

Budi Sadewo juga mengingatkan seluruh peserta agar tidak menjadikan hasil perlombaan sebagai tujuan akhir dalam proses berkesenian.

“Untuk yang menang maupun yang belum menang, percayalah bahwa menang dan kalah adalah irama kematian. Imbang berimbang adalah irama kehidupan,” ungkapnya.

Penilaian terhadap kemampuan memahami naskah turut disampaikan juri Budi Riswandi. Menurutnya, kebebasan mengadaptasi naskah tetap dimungkinkan, namun pemahaman terhadap teks harus menjadi pondasi utama dalam membangun karakter.

“Seorang aktor itu yang paling penting sadar terhadap teks. Mau diadaptasi, mau diintermedialitas, mau alih wahana itu bebas, tetapi kesadaran teks itu menjadi penting,” katanya.

Ia menjelaskan pemahaman terhadap konteks zaman, latar sosial, kondisi psikologis tokoh, hingga hubungan sebab akibat dalam cerita harus diterjemahkan secara utuh agar penampilan terlihat logis dan meyakinkan.

“Apakah tokohnya mengalami gangguan jiwa, depresi, atau anxiety, itu harus dibedakan. Tanpa itu, saya kira kita masih akan berjalan di tempat,” ujarnya.

Meski demikian, apresiasi tetap diberikan kepada seluruh peserta yang telah menunjukkan perkembangan selama kompetisi berlangsung.

“Namun, 33 peserta semuanya sudah sangat berhasil. Salut untuk teman-teman semua,” ucapnya.

Juri Hanindawan Sutikno menambahkan bahwa tata ruang menjadi salah satu elemen penting dalam pertunjukan monolog karena mampu membangun imajinasi penonton sekaligus memperkuat karakter yang dimainkan.

“Ruang itu untuk sebuah pertunjukan sangat penting,” katanya.

Menurut Hanindawan, ketelitian sutradara dalam menentukan arah komunikasi tokoh juga menjadi faktor yang menentukan keberhasilan sebuah pementasan.

“Ruang aktor atau sutradara itu harus detail. Tokoh itu berbicara kepada siapa? Ini penting,” tandasnya.

Raihan Juara II Peksimida Jawa Tengah 2026 yang diperoleh Teater Gema UPGRIS dinilai menjadi bukti bahwa pembinaan seni pertunjukan di lingkungan perguruan tinggi terus berkembang. Prestasi tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya karya-karya teater mahasiswa yang semakin kompetitif serta memperkuat eksistensi UPGRIS pada ajang seni tingkat regional maupun nasional.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID– Satpol PP Kota Semarang menertibkan empat lapak usaha rosok di Jalan Kolonel Sugiyono, Kamis (16/7/2026). Penertiban dilakukan karena kawasan tersebut tengah dibangun pedestrian dan menjadi pintu masuk destinasi wisata Kota Lama. Sebagian barang rosok yang digelar di bahu jalan turut diamankan petugas. Kepala Satpol PP Kota Semarang, Kusnandir, mengatakan penataan dilakukan setelah sosialisasi berulang kepada para pelaku usaha. “Jalan Kolonel Sugiyono merupakan pintu masuk Kota Lama sehingga harus ditata. Kami sudah berkali-kali mengimbau pelaku usaha untuk memindahkan usahanya,” ujar Kusnandir. Ia menegaskan kawasan tersebut akan disterilkan melalui kerja bakti dan patroli rutin agar lapak rosok tidak kembali bermunculan. #semarang #kotalama #satpolpp #jateng #semaranghits

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *