Pemerintah Kota Semarang memperluas penerima bisyaroh penggerak keagamaan menjadi 9.992 orang pada 2026. Modin, guru mengaji, guru RA, Madin hingga marbot mendapat perhatian lebih.

Pemerintah Kota Semarang memperluas penerima bisyaroh penggerak keagamaan menjadi 9.992 orang pada 2026. Modin, guru mengaji, guru RA, Madin hingga marbot mendapat perhatian lebih.

FOLKSTIME.ID – Penghargaan terhadap para penggerak keagamaan di Kota Semarang tidak lagi hanya diwujudkan melalui ucapan terima kasih. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, perhatian tersebut mulai diperluas melalui peningkatan jumlah penerima bisyaroh yang hampir menyentuh angka 10 ribu orang pada 2026. Kebijakan tersebut dinilai menjadi langkah nyata Pemerintah Kota Semarang dalam memperkuat pelayanan sosial berbasis masyarakat sekaligus memberikan penghargaan kepada mereka yang selama puluhan tahun mengabdikan diri tanpa banyak sorotan.

Jumlah penerima bisyaroh yang sebelumnya tercatat sebanyak 6.572 orang pada 2025 kini telah ditingkatkan menjadi 9.992 orang pada 2026. Penambahan ribuan penerima itu dilakukan agar semakin banyak modin, guru mengaji, guru Madrasah Diniyah, guru Raudhatul Athfal hingga petugas kemakmuran masjid dapat memperoleh perhatian dari pemerintah daerah.

Kebijakan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan di Kota Semarang tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik, tetapi juga diselaraskan dengan penguatan sumber daya manusia yang selama ini menjadi penjaga nilai-nilai sosial, keagamaan, dan kemanusiaan.

“Kami ingin negara hadir melalui Pemerintah Kota Semarang untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang selama ini mengabdikan diri melayani masyarakat dengan penuh keikhlasan. Peran modin, guru mengaji, guru madrasah, marbot, dan seluruh penggerak keagamaan sangat besar dalam menjaga harmoni sosial dan membangun karakter masyarakat. Sudah selayaknya mereka mendapatkan perhatian,” ujar Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.

Pengabdian yang Selama Ini Bekerja dalam Sunyi

Di berbagai sudut Kota Semarang, keberadaan modin maupun guru mengaji sering kali tidak banyak diperhatikan. Namun ketika masyarakat menghadapi musibah, ketika anak-anak mulai belajar membaca Al-Qur’an, hingga saat kegiatan keagamaan berlangsung di lingkungan, mereka selalu hadir tanpa mengenal waktu.

Pengabdian tersebut selama bertahun-tahun dijalankan sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat. Kini, dedikasi tersebut mulai diberikan penghargaan melalui kebijakan Pemerintah Kota Semarang berupa bisyaroh yang cakupannya terus diperluas.

Bagi Pemerintah Kota Semarang, para penggerak keagamaan telah menjadi mitra strategis dalam menjaga kerukunan, memperkuat karakter generasi muda, sekaligus membangun kehidupan sosial yang harmonis di tingkat kampung maupun kelurahan.

Jumlah Penerima Bisyaroh Meningkat Signifikan

Perluasan penerima bisyaroh dilakukan hampir di seluruh kelompok penerima. Guru Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) menjadi kelompok dengan penambahan terbesar.

Jumlah guru LPQ yang menerima bisyaroh telah dinaikkan dari 3.000 orang menjadi 4.000 orang. Guru Madrasah Diniyah (Madin) juga ditingkatkan dari sebelumnya 1.000 orang menjadi 1.390 orang.

Sementara itu, perhatian terhadap petugas kemakmuran masjid atau marbot juga semakin diperluas. Jumlah penerima yang sebelumnya sebanyak 531 orang kini telah bertambah menjadi 885 orang, bahkan ditargetkan mampu mencapai 1.000 penerima pada 2027.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan bisyaroh tidak bersifat stagnan, melainkan terus disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan masyarakat yang semakin berkembang.

Guru RA Akhirnya Mendapatkan Perhatian

Salah satu kebijakan yang dinilai paling bermakna adalah dimasukkannya guru Raudhatul Athfal (RA) sebagai penerima bisyaroh.

Selama ini kelompok guru RA yang tergabung dalam Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) belum pernah memperoleh bantuan tersebut. Pada 2026, sebanyak 320 guru RA akhirnya mulai menerima bisyaroh dari Pemerintah Kota Semarang.

Kebijakan tersebut menjadi bentuk pengakuan bahwa pendidikan usia dini berbasis keagamaan juga memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter generasi penerus Kota Semarang.

Modin Menjadi Garda Terdepan Pelayanan Kemanusiaan

Perhatian khusus juga diberikan kepada para modin yang selama ini menjadi bagian penting dalam pelayanan masyarakat.

Selain memperoleh bisyaroh sebesar Rp1 juta setiap bulan yang disalurkan secara triwulanan, keberadaan modin juga terus diperkuat melalui peningkatan kapasitas.

Komitmen tersebut disampaikan Agustina saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Paguyuban Pengurus Jenazah Semarang (P2JS)/Modin Kota Semarang periode 2026–2031 sekaligus membuka Pelatihan Pemulasaraan Jenazah bagi modin se-Kota Semarang di Rumah Dinas Wali Kota Semarang.

Sebanyak 18 pengurus P2JS periode 2026–2031 resmi dikukuhkan dengan Widodo Lestari, S.Ag. sebagai ketua. Pada kesempatan yang sama, pelatihan pemulasaraan jenazah juga mulai dilaksanakan secara bertahap selama dua hari agar dapat diikuti seluruh sekitar 1.000 modin di Kota Semarang.

Penghargaan untuk Tugas Kemanusiaan

Menurut Agustina, tugas seorang modin bukan sekadar melakukan pemulasaraan jenazah.

Mereka juga hadir memberikan ketenangan kepada keluarga yang sedang kehilangan anggota keluarganya. Peran tersebut dinilai memiliki nilai kemanusiaan yang sangat tinggi sehingga sudah sepatutnya diberikan penghargaan oleh pemerintah.

“Saya berkomitmen bahwa semua modin harus dapat bisyaroh ini. Mereka menjalankan tugas kemanusiaan yang sangat mulia, hadir mendampingi warga di saat-saat paling sulit. Pemerintah Kota harus memberikan dukungan dan penghargaan yang layak atas pengabdian tersebut,” tegas Agustina.

Dalam pandangan Pemerintah Kota Semarang, pelayanan yang dilakukan para modin telah menjadi bagian dari sistem pelayanan sosial masyarakat yang selama ini berjalan secara gotong royong.

Pembangunan Tidak Hanya Berupa Infrastruktur

Selama beberapa tahun terakhir, pembangunan daerah umumnya lebih banyak diukur melalui pembangunan jalan, jembatan, gedung maupun fasilitas publik lainnya.

Namun melalui perluasan bisyaroh penggerak keagamaan, arah pembangunan Kota Semarang mulai menunjukkan dimensi yang lebih luas. Penguatan sumber daya manusia, pelayanan sosial, pendidikan keagamaan, hingga penghargaan kepada relawan kemasyarakatan kini ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan kota.

Kebijakan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa investasi sosial dianggap sama pentingnya dengan pembangunan fisik.

Komitmen Akan Terus Diperluas

Pemerintah Kota Semarang memastikan evaluasi terhadap program bisyaroh akan terus dilakukan.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk, berkembangnya kawasan permukiman, serta meningkatnya kebutuhan pelayanan masyarakat di tingkat kelurahan, cakupan penerima bisyaroh juga direncanakan akan terus diperluas.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat keberadaan para penggerak keagamaan sebagai ujung tombak pelayanan sosial yang selama ini bekerja dekat dengan masyarakat.

Dengan hampir 10.000 penerima pada 2026, program bisyaroh tidak hanya menjadi bentuk bantuan finansial. Lebih dari itu, kebijakan tersebut telah menjadi simbol bahwa dedikasi, keikhlasan, dan pengabdian para modin, guru mengaji, guru Madrasah Diniyah, guru Raudhatul Athfal, serta marbot dihargai oleh negara melalui Pemerintah Kota Semarang.

Di tengah pesatnya pembangunan perkotaan, perhatian terhadap mereka yang menjaga nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan menjadi pesan bahwa kemajuan Kota Semarang tidak hanya dibangun dengan beton dan aspal, tetapi juga melalui ketulusan orang-orang yang setiap hari mengabdi untuk masyarakat.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID – Ledakan hebat disertai kebakaran mengguncang sebuah pabrik di Kawasan Industri Candi, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Rabu (1/7/2026) sekitar pukul 09.56 WIB. Peristiwa yang diduga dipicu meledaknya tabung sterilisasi itu menewaskan satu orang pekerja dan menyebabkan tujuh pekerja lainnya mengalami luka bakar. Kapolsek Ngaliyan, Kompol Aliet Alphard, mengatakan ledakan terjadi saat aktivitas produksi sedang berlangsung. «”Untuk sementara, saat proses produksi berlangsung diduga tabung sterilisasi meledak lalu memicu kebakaran. Korban satu orang meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka bakar,” kata Aliet.» Seluruh korban telah dievakuasi ke RS Tugurejo Semarang untuk mendapatkan perawatan. Hingga kini polisi masih menyelidiki penyebab pasti ledakan. Aparat juga belum memastikan jenis produksi pabrik tersebut, termasuk informasi yang menyebut pabrik memproduksi bahan herbal. Lokasi kejadian telah dipasang garis polisi dan operasional pabrik dihentikan sementara. Penanganan kasus selanjutnya dilimpahkan ke Satreskrim Polrestabes Semarang yang akan mendalami penyebab ledakan, kondisi operasional, hingga perizinan perusahaan. #semarang #viral #jateng #semarangviral #kerja

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

4 thoughts on “Bisyaroh Penggerak Keagamaan Kota Semarang Diperluas, Hampir 10.000 Penerima Jadi Bukti Komitmen Wali Kota Agustina Menguatkan Pelayanan Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *