FOLKSTIME.ID — Momentum peringatan Hari Kartini dimanfaatkan untuk menghadirkan pendekatan pelayanan yang lebih inklusif melalui kegiatan bertajuk Telkomsel Prestige Customers Gathering yang diselenggarakan di Hotel Wahid Prime Salatiga. Dalam kegiatan tersebut, ruang dialog bersama pelanggan telah dibuka guna menggali pengalaman penggunaan layanan sekaligus memperkuat hubungan berbasis kepercayaan.
Kegiatan ini tidak hanya dirancang sebagai ajang pertemuan formal, melainkan sebagai wadah interaksi yang memungkinkan pelanggan untuk menyampaikan pengalaman secara langsung. Suasana yang hangat dan tidak berjarak turut diciptakan melalui konsep santai, mulai dari jamuan makan siang hingga hiburan musik yang mengiringi jalannya acara.
Partisipasi pelanggan dari berbagai segmen layanan, seperti pengguna postpaid Kartu Halo, prepaid Simpati dan by.U, serta IndiHome, telah dihadirkan untuk memberikan perspektif yang beragam. Pengalaman yang disampaikan pun mencakup apresiasi atas kemudahan layanan hingga catatan evaluasi yang dianggap perlu diperbaiki ke depan.
GM Mobile Consumer Business Regional Jawa Tengah & DIY, Gamada, menyampaikan, “Kami ada di sini untuk mendengar langsung experience yang dialami pelanggan, baik hal yang positif maupun hal yang kurang. Ini semua agar layanan Telkomsel lebih baik ke depannya,” katanya Selasa (21/4/2026)
Ruang Dialog Pelanggan Diperkuat
Melalui forum tersebut, pendekatan pelayanan yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pelanggan, telah ditunjukkan. Masukan yang diterima disebut akan dijadikan bagian dari proses evaluasi berkelanjutan.
Kehadiran ruang komunikasi yang terbuka dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun hubungan jangka panjang. Interaksi yang terjadi tidak semata berfokus pada layanan, tetapi juga pada upaya menciptakan kedekatan emosional antara perusahaan dan pelanggan.
Komitmen Tingkatkan Layanan
Upaya peningkatan kualitas layanan disebut akan terus dilakukan dengan menjadikan setiap masukan sebagai dasar pengembangan ke depan. Dalam konteks tersebut, pelayanan sepenuh hati tidak hanya dimaknai sebagai slogan, melainkan diwujudkan melalui keterbukaan dalam menerima kritik dan saran.
Pada akhirnya, hubungan antara penyedia layanan dan pelanggan dinilai tidak hanya dibangun melalui teknologi, tetapi juga melalui kepercayaan dan perhatian yang berkelanjutan. Momentum Hari Kartini pun dimaknai sebagai pengingat pentingnya menghadirkan ruang bagi setiap suara untuk didengar dan dipahami.(tya)







