FOLKSTIME.ID – Transportasi publik di kawasan selatan aglomerasi Subosukawonosraten dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga daya beli masyarakat. Biaya perjalanan yang terjangkau dapat membantu pekerja berpenghasilan setara upah minimum mengurangi pengeluaran rutin untuk mobilitas.
Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jawa Tengah, Anastasia Yulianti, mengatakan kebutuhan tersebut semakin penting karena Surakarta, Sukoharjo, dan Wonogiri telah menjadi kawasan ekonomi yang saling terhubung.
Berdasarkan data BPS 2025 yang disampaikan Anastasia, Kota Surakarta memiliki sekitar 528 ribu penduduk, Kabupaten Sukoharjo sekitar 915 ribu jiwa, dan Kabupaten Wonogiri sekitar 1,05 juta jiwa.
Dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 2,5 juta jiwa, mobilitas masyarakat di tiga wilayah tersebut berlangsung setiap hari untuk berbagai kepentingan, mulai bekerja, sekolah, berdagang hingga mengakses layanan publik.
“Artinya, ada hampir 2,5 juta penduduk yang aktivitas ekonominya saling berkaitan di kawasan selatan Solo Raya. Mobilitas mereka sangat beragam, mulai dari buruh pabrik, ASN, pedagang, mahasiswa hingga pekerja sektor formal dan informal,” kata Anastasia.
Transportasi Murah Bisa Kurangi Beban Pengeluaran Pekerja
Anastasia mengatakan biaya perjalanan menjadi salah satu komponen yang perlu diperhitungkan oleh masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah. Jika seluruh perjalanan dilakukan menggunakan kendaraan pribadi, pengeluaran tidak hanya berasal dari bahan bakar, tetapi juga parkir dan perawatan kendaraan.
Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi ruang pendapatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lain, seperti pangan, pendidikan, kesehatan maupun belanja rumah tangga.
Karena itu, keberadaan transportasi umum dengan tarif terjangkau dinilai memiliki manfaat yang lebih luas dibandingkan sekadar menyediakan sarana perjalanan.
Trans Jateng Koridor Solo–Wonogiri dan KA Perintis Batara Kresna menjadi dua layanan yang dinilai memiliki peran dalam menekan biaya mobilitas masyarakat di kawasan tersebut.
Hampir 1,9 Juta Perjalanan Dilayani dalam Setahun
Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap angkutan umum tercermin dari jumlah pengguna kedua moda tersebut sepanjang 2025.
Trans Jateng Koridor Solo–Wonogiri tercatat mengangkut sekitar 1,54 juta penumpang dengan capaian load factor 110 persen. Sementara KA Perintis Batara Kresna melayani sekitar 353 ribu penumpang.
Jika digabungkan, kedua layanan tersebut mencatat hampir 1,9 juta perjalanan penumpang selama satu tahun.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memang membutuhkan transportasi umum massal yang terjangkau dan dapat diandalkan. Jadi, jangan melihat kedua moda ini hanya dari sisi jumlah penumpangnya, tetapi juga dari manfaat ekonominya bagi masyarakat,” ujar Anastasia.
Tarif juga menjadi salah satu faktor yang membuat transportasi publik dapat menjadi alternatif bagi masyarakat. Trans Jateng menetapkan tarif Rp5.000 bagi penumpang umum dan Rp1.000 bagi kelompok tertentu seperti buruh dan pelajar. Sementara tarif perintis KA Batara Kresna sebesar Rp4.000 per perjalanan.
Trans Jateng dan Batara Kresna Dinilai Tak Perlu Bersaing
Anastasia menilai Trans Jateng dan KA Batara Kresna memiliki karakter layanan yang berbeda sehingga keduanya lebih tepat dikembangkan sebagai moda yang saling melengkapi.
Trans Jateng memiliki keunggulan karena melayani banyak titik pemberhentian di sepanjang koridor jalan raya. Karakter tersebut membuatnya sesuai untuk perjalanan harian pekerja, pelajar, mahasiswa, ASN serta masyarakat yang melakukan aktivitas rutin.
Sementara Batara Kresna memiliki keunggulan perjalanan berbasis rel yang tidak bergantung pada kondisi kepadatan lalu lintas jalan raya. Kereta tersebut dapat menjadi pilihan perjalanan langsung antara Solo dan Wonogiri.
“Kalau dikelola secara terpadu, Trans Jateng dan Batara Kresna bukan saling mematikan. Justru bisa saling mengisi karena karakter pelayanannya berbeda,” jelasnya.
Stasiun dan Pasar Bisa Jadi Simpul Integrasi
Potensi integrasi kedua moda tersebut dapat dikembangkan di sejumlah titik yang menjadi pertemuan jalur bus dan kereta.
Anastasia menyebut Stasiun Wonogiri, Stasiun Sukoharjo dan kawasan Pasar Nguter sebagai beberapa lokasi yang dapat diperkuat sebagai simpul perpindahan moda.
Di Stasiun Wonogiri, misalnya, koneksi antara layanan Trans Jateng dengan stasiun dapat mempermudah penumpang kereta melanjutkan perjalanan ke berbagai wilayah di sekitar Wonogiri.
Stasiun Sukoharjo juga berpotensi dikembangkan sebagai titik perpindahan penumpang, sedangkan kawasan Pasar Nguter dinilai strategis karena berada di sekitar aktivitas perdagangan dan kawasan industri.
“Yang perlu dipikirkan bukan hanya bagaimana menyediakan bus dan kereta, tetapi bagaimana penumpang bisa berpindah moda dengan mudah, aman, nyaman dan tidak harus menunggu terlalu lama,” katanya.
Sinkronisasi Jadwal Jadi Kunci
Selain infrastruktur, integrasi jadwal dinilai menjadi faktor penting. Kedatangan dan keberangkatan Trans Jateng dapat diselaraskan dengan jadwal KA Batara Kresna sehingga waktu tunggu penumpang dapat ditekan.
Konsep timed transfer atau perpindahan moda terjadwal dapat diterapkan pada sejumlah simpul utama.
“Kalau kereta tiba, bus sudah siap. Begitu juga sebaliknya. Sederhana, tetapi dampaknya besar terhadap pengalaman masyarakat menggunakan transportasi publik,” tutur Anastasia.
Menurut dia, konektivitas tersebut juga dapat memperluas jangkauan transportasi publik menuju wilayah yang tidak dilalui jalur kereta.
Pada akhir pekan, misalnya, penumpang dapat menggunakan Batara Kresna menuju Wonogiri, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan Trans Jateng menuju kawasan lain yang tidak terjangkau jaringan rel.
Efeknya Bisa Meluas ke Ekonomi Lokal
Anastasia menilai pengurangan biaya mobilitas dapat memberikan dampak lanjutan terhadap ekonomi keluarga dan kawasan.
Ketika pengeluaran untuk perjalanan dapat ditekan, sebagian pendapatan masyarakat dapat dialihkan untuk kebutuhan lain. Dalam jangka lebih luas, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan aktivitas konsumsi di pasar lokal dan pusat perdagangan.
Penggunaan transportasi publik juga berpotensi mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi di jalur Solo–Sukoharjo–Wonogiri.
Hal tersebut menjadi penting karena koridor tersebut menjadi jalur pertemuan kendaraan pribadi, kendaraan industri hingga angkutan umum.
“Transportasi publik pada akhirnya bukan hanya persoalan memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Ada aspek ekonomi, keselamatan, pemerataan akses dan kualitas hidup masyarakat di dalamnya,” kata Anastasia.
Konektivitas Solo Raya Didorong Semakin Terintegrasi
Anastasia berharap pemerintah provinsi dan pemerintah daerah memperkuat koordinasi lintas wilayah dan lintas moda.
Menurutnya, konektivitas transportasi yang baik dapat memperkuat hubungan antara kawasan permukiman, pusat pendidikan, kawasan industri, perdagangan hingga destinasi wisata di Surakarta, Sukoharjo dan Wonogiri.
“Kalau transportasi publiknya terintegrasi, masyarakat tidak harus tinggal dekat dengan tempat kerja atau pusat aktivitas. Mereka bisa tetap tinggal di daerah asal dengan biaya mobilitas yang terjangkau. Ini yang kemudian bisa menjaga daya beli sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan secara lebih merata,” pungkasnya.


