FOLKSTIME.ID – Fenomena melamun saat berkendara kembali menjadi sorotan setelah meningkatnya kesadaran akan bahaya tunnel vision yang kerap dialami pengendara di tengah tekanan aktivitas harian. Dalam kondisi ini, pengendara secara fisik tetap mengemudi, namun fokus mentalnya teralihkan, sehingga risiko kecelakaan di jalan raya dinilai semakin tinggi.
Kondisi tersebut dijelaskan sebagai bagian dari beban mental (mental load) yang muncul akibat tekanan pekerjaan maupun persoalan pribadi. Ketika pikiran dipenuhi berbagai hal, tubuh secara otomatis memicu peningkatan hormon kortisol yang berperan dalam respons stres. Akibatnya, kelelahan fisik dan mental terjadi secara bersamaan dan berdampak pada menurunnya konsentrasi selama berkendara.
Dalam situasi tersebut, fokus pengendara tidak hanya menurun, tetapi juga mengalami penyempitan yang dikenal sebagai tunnel vision atau pandangan terowongan. Kondisi ini menyebabkan perhatian hanya tertuju pada objek di depan, sementara informasi penting dari sisi samping maupun spion cenderung terabaikan. Berdasarkan penelitian Payne et al. (1993), kemampuan pengambilan keputusan dapat menurun hingga 33 persen ketika kondisi ini terjadi, sehingga potensi kecelakaan meningkat secara signifikan.
Fokus Berkendara dan Ancaman Tunnel Vision
Fenomena tunnel vision disebut sebagai salah satu faktor tersembunyi yang kerap memicu kecelakaan lalu lintas, terutama di wilayah dengan mobilitas tinggi seperti perkotaan. Pengendara yang mengalami kondisi ini dinilai kehilangan kemampuan membaca situasi secara menyeluruh, sehingga respon terhadap perubahan mendadak menjadi lebih lambat.
“Motor yang kondisi prima dan perlengkapan berkendara yang mahal tetap tidak akan bisa menggantikan peran otak yang jernih. Berkendara sejatinya adalah sebuah dialog antara kita, mesin, dan lingkungan sekitar. Ketika kita tenang, kita mampu memproses informasi dengan lebih baik dan bereaksi lebih cepat,” ujar Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Oke Desiyanto.
Menurutnya, pendekatan Zen On Wheels atau teknik berkendara dengan kesadaran penuh (mindfulness) dapat diterapkan sebagai solusi untuk menjaga fokus selama perjalanan. Metode ini menekankan pentingnya kehadiran mental secara utuh di setiap momen berkendara.
Tips Menghindari Tunnel Vision Saat Berkendara
Upaya pencegahan terhadap tunnel vision dapat dilakukan melalui beberapa langkah sederhana yang berfokus pada pengendalian pikiran dan kesadaran tubuh. Salah satunya adalah melakukan ritual singkat sebelum berkendara dengan menarik napas dalam selama beberapa detik untuk menenangkan pikiran.
Selain itu, teknik pemindaian visual (scanning technique) disarankan untuk dilakukan secara aktif dengan menggerakkan mata setiap dua detik guna memantau kondisi sekitar, termasuk spion, panel instrumen, dan jarak pandang ke depan. Cara ini dinilai efektif untuk menjaga otak tetap responsif terhadap perubahan situasi.
Pengendara juga dianjurkan untuk mengelola dialog internal ketika pikiran mulai teralihkan, serta menyadari kondisi tubuh seperti ketegangan pada bahu atau genggaman stang yang terlalu kuat sebagai indikator stres. Dengan mengendurkan otot dan mengatur pernapasan, kondisi mental dapat kembali stabil.
Penerapan langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran berkendara sekaligus menekan angka kecelakaan yang dipicu oleh hilangnya fokus. Edukasi terkait keselamatan berkendara pun terus digencarkan sebagai bagian dari kampanye Safety Riding dan gerakan #Cari_Aman di kalangan masyarakat.(tya)







