• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
Sabtu, Oktober 3, 2026
  • Login
Folkstime.id
Advertisement
  • News
  • Daerah
  • Semarang
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • News
  • Daerah
  • Semarang
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Teknologi
No Result
View All Result
Folkstime.id
No Result
View All Result

Kisah Inspiratif Siti Lailiyah Raih Doktor di UIN Walisongo di Kala Harus Mengasuh Tiga Anak sambil Menyusui

Muso by Muso
29 September 2026
in News
0
Kisah Inspiratif Siti Lailiyah Raih Doktor di UIN Walisongo di Kala Harus Mengasuh Tiga Anak sambil Menyusui
Kisah Inspiratif Siti Lailiyah Raih Doktor di UIN Walisongo di Kala Harus Mengasuh Tiga Anak sambil Menyusui
0
SHARES
263
VIEWS

FOLKSTIME.ID – Pengalaman sebagai ibu ternyata ikut membentuk cara pandang Siti Lailiyah dalam melihat dunia pendidikan.

Di tengah kesibukannya mengajar dan membesarkan tiga anak, ia justru meneliti bagaimana karakter peserta didik dibentuk melalui lingkungan pendidikan, keluarga, dan masyarakat.

Perjalanan akademik itu akhirnya mengantarkan Lailiyah meraih gelar doktor bidang Studi Islam dari UIN Walisongo Semarang.

Lailiyah dinyatakan lulus dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam, Senin (28/9/2026). Ia tercatat sebagai doktor ke-453 yang diluluskan UIN Walisongo.

Disertasinya berjudul “Penerapan Eco-Sosio-Pedagogis dalam Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Melalui Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Wonosobo.”

Penelitian tersebut bukan hanya berbicara mengenai proses belajar di ruang kelas. Lailiyah menemukan bahwa pembentukan karakter moderat pada anak berlangsung melalui lingkungan yang lebih luas.

Budaya sekolah, keteladanan guru, kegiatan ekstrakurikuler, keluarga, hingga kehidupan sosial di sekitar peserta didik menjadi bagian yang saling berkaitan dalam proses tersebut.

Temuan itu kemudian melahirkan Model Eco-Sosio-Pedagogis Internalisasi Moderasi Beragama melalui Pendidikan Agama Islam (ESPIMB-PAI).

Model tersebut menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya dibebankan kepada guru atau sekolah. Dibutuhkan ekosistem pendidikan yang melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Gagasan tersebut menjadi semakin menarik karena Lailiyah sendiri menjalani kehidupan sebagai seorang ibu dari tiga anak.

Menjadi Ibu Sekaligus Mahasiswi S3

Saat memulai pendidikan doktoral, Lailiyah tidak hanya berhadapan dengan tuntutan akademik. Ia juga merupakan dosen tetap Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo dan harus menjalankan tanggung jawab sebagai istri serta ibu.

Salah satu anaknya bahkan masih bayi ketika ia mengikuti perkuliahan S3 di UIN Walisongo.

Kondisi tersebut membuat aktivitas akademiknya harus disesuaikan dengan kebutuhan anak.

“Kuliah doktor ketika punya bayi perlu perjuangan lebih, terutama saat harus meninggalkan bayi saat kuliah, kuliah sambil pumping ASI. Belum lagi saat harus menginap karena masuk pagi, mau tidak mau anak bayi diajak serta,” ungkap Lailiyah.

Tidak hanya menghadiri perkuliahan, ia juga harus menyelesaikan penelitian dan disertasi sembari tetap mengajar dan mengurus keluarga.

“Mengerjakan disertasi dengan dobel peran, mahasiswi S-3, wanita karier yang mengajar di UNSIQ, menjadi istri, dan seorang ibu dari tiga anak yang masih kecil-kecil,” katanya.

Menurut Lailiyah, kesibukan akademik tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi pendampingan kepada anak.

Ia tetap berusaha menyediakan waktu untuk mengikuti perkembangan pendidikan anak-anaknya.

“Sambil menyelesaikan disertasi tetap harus meluangkan waktu untuk anak-anak,” ujarnya.

Salah satu hasil pendampingannya terlihat dari anak pertamanya yang kini berusia 9 tahun. Saat duduk di kelas 4 SD, anak tersebut telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz.

Bagi Lailiyah, pencapaian itu bukan akhir. Ia masih harus terus mendampingi anaknya melakukan murojaah agar hafalan tetap terjaga.

“Ini menjadi PR besar saya untuk terus membersamai anak agar lebih giat dalam murojaah menjaga hafalannya, karena masih kecil jadi ibu yang mengatur waktu sang anak,” tuturnya.

Prestasi Akademik Bukan Target Utama

Perjalanan pendidikan Lailiyah sebenarnya sudah dipenuhi berbagai pencapaian sejak jenjang sebelumnya.

Saat menempuh S1, ia menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3,95. Ia bahkan menulis skripsi menggunakan bahasa Arab meski mengambil Program Studi Pendidikan Agama Islam.

Pada jenjang S2, ia kembali menjadi wisudawan terbaik dengan IPK tinggi sekaligus menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.

Namun, ketika memasuki jenjang doktoral, Lailiyah justru memilih memasang target yang sederhana.

“Saat kuliah S-3 tidak berharap lebih selain menyelesaikan kuliah dan mendapatkan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat,” katanya.

Baginya, menyelesaikan pendidikan dengan membawa ilmu yang bermanfaat jauh lebih penting dibanding mengejar pencapaian akademik tertentu.

“Dulu waktu kuliah S-1 dan S-2 selalu menjadi wisudawan terbaik. S-1 wisudawan terbaik dengan IPK 3,95 dan menulis skripsi memakai bahasa Arab, padahal prodi saya PAI. Kuliah S-2 wisudawan terbaik dengan IPK tinggi dan hafal Al-Qur’an,” ujarnya.

“Untuk S-3 tidak berharap banyak, yang penting bisa selesai dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah,” lanjutnya.

Moderasi Beragama Dimulai dari Lingkungan Anak

Penelitian Lailiyah berangkat dari persoalan kehidupan beragama di Indonesia, khususnya tantangan intoleransi, sikap eksklusif, serta kemampuan masyarakat dalam mengelola keberagaman.

Untuk melihat persoalan tersebut dari lingkungan pendidikan dasar, ia melakukan penelitian di sejumlah Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Wonosobo.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus multisitus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen dengan melibatkan kepala sekolah, guru PAI, guru kelas, siswa, orang tua, serta pihak terkait.

Hasilnya menunjukkan bahwa sikap moderat pada peserta didik tidak terbentuk hanya dari materi pelajaran.

Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan alami setiap hari. Karena itu, keteladanan guru, kebiasaan di sekolah, interaksi dengan teman, kegiatan ekstrakurikuler, serta dukungan keluarga ikut berpengaruh terhadap pembentukan karakter.

Guru PAI, menurut penelitian tersebut, memiliki peran penting melalui pembelajaran yang dialogis, reflektif, kontekstual, partisipatif, dan berbasis keteladanan.

Temuan inilah yang kemudian dirumuskan dalam Model ESPIMB-PAI.

Lulus dan Menjadi Doktor ke-453

Dalam sidang promosi doktor, disertasi Lailiyah diuji oleh tim akademik UIN Walisongo.

Sidang dipimpin Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. sebagai ketua sidang sekaligus penguji, sedangkan Prof. Dr. H. Ikhrom, M.Ag. menjadi sekretaris sidang dan penguji.

Promotor disertasi adalah Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed., St., dengan ko-promotor Dr. H. Mustopa, M.Ag.

Adapun penguji lainnya terdiri atas Dr. Hj. Imroatul Azizah, M.Ag. sebagai penguji eksternal, Prof. Dr. Syamsul Ma’arif, M.Ag., Dr. Nur Khoiri, M.Ag., dan Dr. Dwi Istiyani, M.Ag.

Setelah menjalani sidang, Lailiyah dinyatakan memenuhi persyaratan akademik untuk memperoleh gelar doktor.

“Disertasi yang bersangkutan dinyatakan lulus. Kepadanya diberikan gelar doktor dalam bidang Studi Islam sebagai doktor ke-453 yang telah diluluskan UIN Walisongo,” kata Musahadi.

Musahadi mengingatkan Lailiyah agar gelar akademik yang diperoleh diikuti dengan tanggung jawab untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Tolong jaga nama baik almamater. Jika menyebarkan kebaikan, maka UIN Walisongo akan kebagian bau harumnya,” pesannya.

Pendidikan Ibu dan Masa Depan Anak

Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag., turut memberikan apresiasi atas keberhasilan Lailiyah menyelesaikan studi doktoral.

Menurut Muhyar, perjuangan tersebut tidak sederhana karena Lailiyah harus membagi perhatian antara pendidikan, pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab sebagai ibu.

“Saya tahu, itu tidak mudah. Itu prestasi yang tidak semua orang mampu mencapainya. Untuk itu, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Dr. Lailiyah dan UNSIQ Wonosobo, tempat Dr. Lailiyah mengabdi,” ujarnya.

Muhyar berharap pencapaian tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas dan menjadi inspirasi bagi perempuan, khususnya para ibu yang tetap ingin mengembangkan pendidikan dan kapasitas diri.

“Semoga prestasinya membawa kemajuan bersama dan menginspirasi para ibu lainnya,” katanya.

Di luar kampus, Lailiyah juga aktif dalam sejumlah organisasi, di antaranya Jam’iyyah Mudarasatil Qur’an Lil Hafidzat (JMQH) Kabupaten Wonosobo, Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz (JQH) PCNU Wonosobo, serta ICMI Mojotengah Wonosobo.

Kini, setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Lailiyah membawa pulang bukan hanya gelar akademik. Ia juga membawa hasil penelitian tentang bagaimana pendidikan, keluarga, dan lingkungan dapat bersama-sama membentuk karakter anak.

Sebuah perjalanan akademik yang dimulai dari ruang kuliah, tetapi terus beririsan dengan kehidupan sehari-hari sebagai seorang ibu.

Muso

Muso

Browse by Category

  • Bisnis
  • Daerah
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Lifestyle
  • News
  • Semarang
  • Sports
  • Teknologi
  • Travel
  • Travel

Recent News

Ilustrasi Logo Nahdlatul Ulama
Ilustrasi Logo Nahdlatul Ulama

Pengurus PBNU 2026-2031 Era Gus Kikin Resmi Diumumkan, Ini Susunan Lengkapnya

2 Oktober 2026
Kabinet Merah Putih Kembali Dirombak, Prabowo Geser 18 Pejabat

Kabinet Merah Putih Kembali Dirombak, Prabowo Geser 18 Pejabat

2 Oktober 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Folkstime.id - Akurat Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • News
  • Daerah
  • Semarang
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Teknologi

© 2026 Folkstime.id - Akurat Terpercaya