Konflik AS-Israel-Iran Memanas, Dino Patti Djalal Soroti Konsistensi Politik Luar Negeri RI

Sumber Instagram : @dinopattidjalal

Folkstime.id – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dino Patti Djalal, mengkritisi keras serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang, menurutnya, berpotensi memicu konflik berkepanjangan dan mengguncang stabilitas global.

Pernyataan itu disampaikan Dino melalui akun Instagram pribadinya, menyusul memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Menurut Dino, serangan tersebut bukan sekadar upaya menghentikan kapasitas nuklir Iran, melainkan memiliki tujuan lebih luas, yakni menumbangkan pemerintahan di Teheran.

Ia menilai, berbagai instrumen—baik militer, politik, sosial, hingga operasi intelijen—akan dikerahkan untuk mencapai tujuan tersebut.

“Ini akan menjadi konflik yang berkepanjangan. Pemerintah Iran tidak akan tinggal diam dan akan melakukan segala cara untuk melawan intervensi luar,” ujar Dino.

Ia menambahkan, berbeda dengan negara lain seperti Venezuela, Iran memiliki jejaring politik dan militer yang signifikan di sejumlah wilayah Timur Tengah. Kondisi itu, kata dia, berpotensi menyeret aktor-aktor lain dan memperluas dampak konflik ke luar wilayah Iran.

Dino juga menegaskan, sekalipun pemerintahan di Teheran akhirnya tumbang, hal itu tidak serta-merta memberikan pembenaran moral maupun hukum internasional atas aksi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.

Menurut dia, jika pola intervensi semacam itu dibiarkan, dunia berisiko terjerumus dalam konflik global yang lebih luas.

Dalam pandangannya, Iran merupakan pihak yang diserang, bukan pihak yang lebih dahulu menyerang Amerika Serikat maupun Israel. Ia menilai, kegagalan perundingan antara kedua negara tidak dapat dijadikan alasan pembenaran untuk melakukan serangan militer.

Dino juga menyinggung peran Oman sebagai mediator dalam perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menyebut, berdasarkan pernyataan otoritas Oman, sempat terdapat kemajuan signifikan dalam proses negosiasi tersebut.

Lebih lanjut, Dino mengkritik wacana Presiden Prabowo Subianto yang disebut siap terbang ke Teheran untuk menjadi penengah konflik. Ia menilai langkah tersebut tidak realistis.

Menurut Dino, secara historis Amerika Serikat jarang menerima mediasi pihak ketiga saat melakukan operasi militer. Selain itu, ia menilai hubungan Indonesia dan Iran dalam 15 bulan terakhir belum menunjukkan kedekatan yang cukup untuk membangun kepercayaan sebagai mediator.

Ia juga menyoroti kemungkinan Presiden Prabowo harus bertemu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai bagian dari upaya mediasi. Secara politik dan diplomatik, hal itu dinilai sulit dan berisiko di dalam negeri.

“Yang paling penting bagi Indonesia bukan mencari peran sebagai juru damai dalam konflik ini, tetapi menegaskan posisi secara jelas, tegas, dan lugas,” kata Dino.

Ia mendorong pemerintah Indonesia untuk konsisten menegakkan prinsip politik luar negeri bebas aktif dan norma hukum internasional, termasuk berani menyampaikan kritik terhadap negara adidaya apabila dinilai melanggar prinsip tersebut.

Dino juga menyarankan agar Presiden Prabowo mempertimbangkan untuk menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, guna menyampaikan sikap Indonesia serta meninjau ulang rencana pengiriman pasukan perdamaian dalam misi stabilisasi internasional di Gaza.

Menurut dia, langkah tersebut dapat menjadi pesan bahwa Indonesia adalah negara yang berprinsip dan tidak mudah diabaikan dalam percaturan politik global.

“Validasi sejarah jauh lebih penting daripada validasi dari Gedung Putih,” ujar Dino menutup pernyataannya. (Rin)

Artikel Menarik Lainnya