FOLKSTIME.ID – Ribuan jamaah memadati halaman Pondok Pesantren Darul Ulum Tragung, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang pada Minggu (3/5/2026).
Sekitar 3.000 orang dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta hadir dalam pelantikan JATMA Aswaja kabupaten/kota, menciptakan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual sekaligus kebangsaan.
Sejak pagi, arus jamaah terus berdatangan. Mereka duduk bersaf, larut dalam lantunan zikir dan doa, menandai bahwa pelantikan ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan peristiwa batin yang mengikat kebersamaan.
Di tengah suasana itu, Rais Aam JATMA Aswaja, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, menyampaikan tausiyah yang menitikberatkan pada pentingnya menjaga hati di tengah kehidupan modern.
Ia mengajak jamaah untuk kembali pada kekuatan tauhid sebagai fondasi utama.Menurutnya, zikir bukan hanya ritual, tetapi jalan panjang untuk membentuk kepekaan batin.
Ia mengingatkan bahwa manusia kerap sibuk merawat fisik, namun abai terhadap kebersihan hati.
“Setiap hari kita membersihkan tubuh, tapi kapan kita membersihkan hati?” ujarnya, menggugah kesadaran jamaah.
Pesan yang disampaikan terasa relevan dengan kondisi saat ini, ketika arus informasi begitu deras dan sering kali memicu perpecahan.
Habib Luthfi menekankan pentingnya menjaga lisan agar tidak menjadi sumber konflik.
“Ngomong itu harus dipikir, apakah akan memecah umat atau tidak,” pesannya.
Suasana semakin semarak saat pesan kebangsaan disampaikan. Ia menegaskan bahwa spiritualitas harus berjalan beriringan dengan komitmen menjaga keutuhan negara.
“NKRI harga mati,” tegasnya, disambut gema takbir dan tepuk tangan jamaah.
Hadir pula Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen dan Bupati Batang M Faiz Kurniawan yang turut menyaksikan pelantikan tersebut, memperlihatkan dukungan pemerintah terhadap peran thariqah dalam kehidupan sosial.
Sementara itu, Sekjen JATMA Aswaja Helmy Faishal Zaini menegaskan bahwa pelantikan ini menjadi langkah penting untuk memperkuat jaringan organisasi.
Ia menyebut JATMA Aswaja kini telah hadir di sembilan provinsi dengan ratusan cabang.
Tidak hanya itu, organisasi juga mulai mengembangkan program ekonomi berbasis komunitas, seperti sektor pertanian jagung, padi, dan tebu, sebagai upaya meningkatkan kemandirian jamaah.
Pelantikan di Batang pun menjadi gambaran nyata bagaimana thariqah bertransformasi, tidak hanya menjaga tradisi zikir, tetapi juga merawat persatuan dan mendorong kemandirian umat.
Di antara gema doa dan zikir yang mengalun, satu pesan terasa kuat: dari hati yang bersih, persatuan dapat tumbuh, dan dari persatuan itulah kekuatan umat dibangun.







