Mak Jah Bertahan di Desa yang Tenggelam: Rumah Apung Jadi Harapan Terakhir Penjaga Mangrove Sayung Demak

FOLKSTIME.ID – Bentang daratan di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, kini telah banyak yang ditelan laut. Wilayah yang dulunya dikenal sebagai kawasan pertanian subur, perlahan telah berubah menjadi hamparan air akibat abrasi dan rob yang terus terjadi sejak awal 2000-an.

Di tengah perubahan itu, satu sosok masih bertahan. Pasijah, yang akrab disapa Mak Jah, telah dikenal sebagai penjaga terakhir mangrove Sayung Demak. Kehidupan yang keras telah dijalani, sementara pilihan untuk pergi telah berkali-kali dihadapkan.

Namun, tanah kelahiran tetap dipertahankan.

“Dulu desa ini awalnya petani, ada sawah, palawija, semuanya ada. Tapi sejak tahun 2000 mulai sering kena rob. Lama-lama airnya makin naik,” tutur Mak Jah, Jumat (24/4/2026).

Desa yang Ditinggalkan, Perlawanan yang Dilahirkan

Sekitar tahun 2010, kondisi desa telah semakin memburuk. Rumah-rumah telah terendam, lahan pertanian telah hilang, dan ratusan kepala keluarga telah memilih untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Dari sekitar 200 keluarga, kini hanya satu yang tersisa.

Keputusan untuk bertahan telah diambil oleh Mak Jah, saat sebagian besar warga memilih pergi. Di tengah keterbatasan, langkah kecil mulai dilakukan. Bibit mangrove dikumpulkan, ditanam, dan dirawat secara mandiri.

Upaya itu tidak dilakukan sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit.

“Saya tanam sedikit demi sedikit. Karena kurang bibit, saya buat sendiri. Alhamdulillah berkembang. Ada juga yang kirim dari jauh,” kata Mak Jah.

Kini, kawasan yang sempat rusak telah mulai dipulihkan. Mangrove telah tumbuh dan berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi, sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut.

Mangrove yang Dihidupkan, Harapan yang Ditanam

Ekosistem pesisir yang sempat terancam kini perlahan telah dihidupkan kembali. Ikan, kepiting, udang, hingga burung telah kembali ditemukan di sekitar kawasan tersebut.

Perjuangan Mak Jah tidak hanya dilihat sebagai upaya bertahan hidup, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Julukan “Kartini Laut Sayung” pun telah disematkan kepadanya.

Namun, kehidupan di tengah laut tidaklah mudah.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, perjalanan harus ditempuh menggunakan perahu selama 15 hingga 30 menit. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan sepeda menuju pasar.

“Kalau ombak besar ya sulit. Kadang tidak bisa tidur. Tapi saya sudah terbiasa, yang penting sehat dan bisa bekerja,” ujarnya.

Rumah Apung, Solusi di Tengah Ancaman Rob Demak

Ancaman tidak hanya datang dari laut, tetapi juga dari kondisi tempat tinggal. Rumah Mak Jah telah beberapa kali diperbaiki dan ditinggikan menggunakan material seadanya.

Dalam kondisi tersebut, bantuan akhirnya diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui program rumah apung.

Rumah tersebut dirancang sebagai solusi adaptif bagi wilayah yang terus terdampak rob, khususnya di Sayung Demak.

“Aealnya saya dipanggil, katanya mau dibantu rumah. Saya minta anak yang mengurus. Alhamdulillah langsung diberikan,” ungkap Mak Jah.

Keberadaan rumah apung telah memberikan harapan baru. Tempat tinggal yang lebih aman kini dapat digunakan saat air pasang tinggi datang.

“Senang sekali, kalau rob besar bisa dipakai untuk tinggal. Saya akan tetap merawat mangrove ke depan,” katanya.

Program Rumah Apung Jawa Tengah yang Terus Dikembangkan

Program rumah apung tidak hanya diberikan kepada Mak Jah. Upaya tersebut telah dijalankan secara kolaboratif oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Demak, serta dukungan dari sektor perbankan.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, menyampaikan bahwa solusi adaptif terus dikembangkan untuk wilayah pesisir yang terdampak abrasi.

“Pada 2026, jumlahnya ditargetkan bertambah menjadi 20 unit, dengan mayoritas pembangunan difokuskan di Desa Timbulsloko dan sebagian di Desa Bedono. 17 unit diantaranya bersumber dari APBD Provinsi Jateng,” ungkapnya.

Sebelumnya, hingga akhir 2025, sebanyak 15 unit rumah apung telah dibangun melalui berbagai skema pendanaan, termasuk CSR dan APBD.

Keteguhan yang Menjadi Benteng Terakhir

Di tengah gempuran abrasi Demak yang belum mereda, langkah kecil yang telah dilakukan Mak Jah menjadi simbol keteguhan. Mangrove yang ditanam telah menjadi benteng alami, sementara harapan terus dijaga di tengah keterbatasan.

Perjuangan itu belum selesai. Gelombang besar masih kerap datang dan merusak bibit yang baru ditanam. Namun, usaha tidak dihentikan.

“Kalau tidak saya tanami, mungkin sudah habis dari dulu,” ucapnya.(mus)

Artikel Menarik Lainnya