Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin mengajak masyarakat melestarikan Makam Kiai Jungke sebagai warisan ulama abad ke-17.

Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin mengajak masyarakat melestarikan Makam Kiai Jungke sebagai warisan ulama abad ke-17.

FOLKSTIME.ID – Keberadaan Makam Kiai Jungke di Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, didorong untuk terus dilestarikan sebagai bagian dari jejak sejarah penyebaran Islam di Kota Semarang sekaligus dikembangkan menjadi destinasi wisata religi yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, saat menghadiri Pengajian Akbar Haul sekaligus Peresmian Makam Kiai Jungke di Jalan Gendingan, Sabtu (27/6) malam. Situs makam tokoh yang juga dikenal sebagai Kiai Nayawangsa atau Sayyid Husain itu dinilai menyimpan nilai sejarah, spiritual, dan budaya yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Keberadaan makam ulama penyebar Islam pada abad ke-17 tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa perkembangan Kota Semarang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan para ulama dalam membangun kehidupan masyarakat melalui dakwah dan nilai-nilai keagamaan. Pelestarian situs sejarah itu juga dinilai mampu memperkuat identitas kawasan Semarang Tengah sebagai wilayah yang kaya warisan budaya Islam.

“Kita bisa berdiri di tengah kota dengan masyarakat yang makin baik hari ini, itu semua tidak lepas dari perjuangan dakwah yang beliau lakukan pada masa lampau. Warga Pandansari harus bangga karena di wilayah ini dimakamkan seorang tokoh besar. Tugas kita bersama adalah mengikuti jejak sekaligus meneladani perjuangan beliau,” kata Iswar Aminuddin.

Menurut Iswar, upaya nguri-uri makam para ulama tidak cukup dimaknai sebagai pelestarian fisik semata, tetapi juga harus diiringi dengan upaya menjaga nilai perjuangan, sejarah, dan ajaran yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Renovasi Makam Kiai Jungke disebut telah dirintis sejak beberapa tahun lalu melalui dukungan dan swadaya masyarakat. Komitmen warga dalam menjaga situs bersejarah tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mempertahankan keberadaan warisan budaya di tengah pesatnya pembangunan perkotaan.

“Saya sangat berterima kasih kepada seluruh panitia dan warga yang telah nguri-uri makam beliau. Renovasi ini sudah kita komunikasikan sejak lama, bahkan sebelum masa pandemi. Komitmen masyarakat menjaga aset sejarah seperti ini patut kita dukung bersama,” ujarnya.

Selain memiliki nilai sejarah dan keagamaan, kawasan Makam Kiai Jungke juga dipandang memiliki potensi besar sebagai tujuan wisata ziarah di Kota Semarang. Peningkatan jumlah peziarah diyakini akan memberikan dampak positif terhadap tumbuhnya berbagai usaha masyarakat, mulai dari kuliner, perdagangan, hingga layanan pendukung wisata religi.

Potensi ekonomi tersebut dinilai perlu diimbangi dengan penataan kawasan, pengelolaan yang baik, serta kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Iswar juga mengingatkan bahwa Semarang Tengah masih menyimpan banyak makam ulama dan tokoh penyebar Islam yang keberadaannya belum seluruhnya terawat. Oleh karena itu, pelestarian situs-situs sejarah tersebut dinilai menjadi tanggung jawab bersama agar tidak hilang akibat perkembangan kota.

“Semarang Tengah ini menyimpan banyak jejak sejarah para ulama. Saya mendengar masih ada makam-makam tua yang kondisinya belum terawat dengan baik. Mari kita jaga bersama agar warisan sejarah Kota Semarang tetap lestari dan dapat dikenalkan kepada generasi mendatang,” tegasnya.

Momentum haul Kiai Jungke juga diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi awal tumbuhnya kegiatan keagamaan yang berlangsung secara rutin di lingkungan masyarakat. Aktivitas seperti pengajian, selawatan, hingga majelis taklim dinilai mampu mempererat hubungan sosial sekaligus meningkatkan daya tarik wisata religi di kawasan Pandansari.

“Kalau rutinan seperti pengajian atau selawatan terus dihidupkan, insyaallah silaturahmi antarwarga makin kuat, keberkahan akan hadir, dan aktivitas ziarah juga akan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar Pandansari,” pungkas Iswar. (tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID- Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyiapkan wajah baru kawasan Simpang Lima melalui revitalisasi Lingkar Luar yang kini tengah berlangsung. Penataan dilakukan untuk menghadirkan ruang publik yang lebih nyaman, hijau, tertata, ramah pejalan kaki, sekaligus tetap mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. “Simpang Lima adalah wajah Kota Semarang. Karena itu kami ingin menghadirkan kawasan yang lebih nyaman untuk berjalan kaki, lebih teduh, lebih bersih, bebas genangan, sekaligus tetap menjadi pusat kegiatan ekonomi dan rekreasi masyarakat,” ujar Agustina, Jumat (26/6). Revitalisasi meliputi pembangunan jalur pedestrian yang lebih lebar dan ramah disabilitas, sistem drainase baru untuk mengurangi genangan, serta IPAL bawah tanah bagi kawasan kuliner agar limbah pedagang diolah sebelum masuk ke saluran drainase. “Kami ingin kawasan kuliner tetap berkembang, tetapi juga semakin bersih dan ramah lingkungan,” tegasnya. Pemkot juga memastikan ruang hijau tetap terjaga. Pohon-pohon yang dipindahkan sementara ke Kebun Bibit Sampangan akan ditanam kembali setelah proyek selesai. Sementara itu, PKL direlokasi ke shelter depan eks E-Plaza hingga revitalisasi yang ditargetkan rampung pada akhir Desember 2026. “Ketika revitalisasi ini selesai, masyarakat akan memiliki ruang publik yang lebih nyaman untuk beraktivitas, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, maupun menikmati kawasan kuliner,” pungkas Agustina. #semarang #simpanglima #jatenggayeng #semaranghits #agustina

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

1 thought on “Makam Kiai Jungke Diresmikan, Wakil Wali Kota Semarang Dorong Wisata Ziarah Jadi Penggerak Ekonomi Warga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *