Ngabuburit Anti-Mainstream di Gunungpati, 30 Peserta Panjat Dinding Saat Puasa di Unwahas

FOLKSTIME.ID – Menjelang waktu berbuka puasa, arena bouldering Kampus 2 Universitas Wahid Hasyim dipenuhi peserta yang mengikuti kegiatan “Ngabuburit Climbing”.

Sekitar 30 peserta dari berbagai latar belakang, mulai mahasiswa pecinta alam hingga masyarakat umum, memanfaatkan waktu sore Ramadan dengan olahraga panjat dinding. Kegiatan ini diinisiasi Mahasiswa Pecinta Alam Mahapawha Unwahas sebagai ajang silaturahmi sekaligus aktivitas produktif selama berpuasa.

Di antara peserta, perhatian tertuju pada Anjani Rengganis (6), siswi taman kanak-kanak yang tampak serius menyusuri jalur panjat. Kedua tangannya dilapisi bubuk magnesium untuk menjaga daya cengkeram pada pijakan dan pegangan dinding.

Meski sedang berpuasa, Anjani tetap bersemangat menyelesaikan lintasan.

“Capek, nanti kan buka,” ucapnya singkat sambil tersenyum, Rabu 4 Maret 2026

Ia mengaku baru menjalani puasa setengah hari. Namun hal itu tidak menyurutkan minatnya berlatih. “Suka, dan sudah lama latihan di sini,” katanya.

Tak hanya Anjani, sang adik Kerinci Maharani (5) juga ikut ambil bagian. Keduanya menjadi peserta termuda dalam kegiatan tersebut.

Ketua penyelenggara, Ainun Khotib, menjelaskan kegiatan ini diikuti sekitar 30 orang. Mayoritas peserta berasal dari organisasi mahasiswa pecinta alam (Mapala) sejumlah kampus di Semarang. Selain itu, ada pula dua mahasiswa Fakultas Kedokteran dan beberapa peserta umum.

“Tujuan utama kami lebih ke silaturahmi antar-Mapala. Selain itu supaya puasanya tidak hanya diisi dengan tidur. Jadi sore hari kita isi dengan olahraga panjat sambil menunggu azan Maghrib, lalu buka bersama,” ujar Ainun.

Menurutnya, olahraga ringan menjelang berbuka dapat menjadi alternatif ngabuburit sehat selama Ramadan. Peserta dibebaskan memanjat tanpa target khusus, sehingga tetap aman meski dalam kondisi berpuasa.

“Secara kondisi sebenarnya sama saja seperti hari biasa. Bedanya energi kita lebih sedikit karena asupan makan berkurang. Tapi itu tidak mengurangi semangat. Kalau capek ya istirahat. Tidak ada target khusus,” jelasnya.

Salah satu peserta, Dina Rahayu dari Mapala Institut Teknologi dan Statistika Bisnis Muhammadiyah Semarang, mengaku merasakan sensasi berbeda saat memanjat dalam kondisi perut kosong.

“Seru banget. Di atas itu takut tapi seru. Ini kedua kalinya manjat. Memang belum sampai top, baru setengah. Tadi sedikit lagi sampai atas, tapi kuat kok walau puasa,” ungkap Dina.

Ia menilai rasa takut saat berada di ketinggian justru menjadi tantangan tersendiri yang membuat olahraga panjat semakin menarik.

Panitia memastikan kegiatan berlangsung aman, terutama bagi peserta anak-anak. Mereka tidak diwajibkan mengikuti sesi berat seperti tes ketahanan atau latihan intensif sebagaimana jadwal reguler atlet.

“Untuk anak-anak lebih ke permainan dan fun climbing. Kami tidak masukkan ke program berat. Biar mereka tetap asyik, tidak jenuh, dan tetap bisa bergerak meski puasa,” kata Ainun.

Ainun menambahkan, perkembangan olahraga panjat tebing di Kota Semarang menunjukkan tren yang stabil. Ketersediaan fasilitas latihan serta pembinaan terjadwal dinilai mendukung regenerasi atlet secara berkelanjutan.

“Di Semarang sudah ada pemusatan latihan. Latihannya juga terjadwal dan ada pelatihnya. Jadi perkembangan panjat tebing di sini cukup baik dan terjaga,” ujarnya.

Kegiatan “Ngabuburit Climbing” ini menjadi agenda perdana yang direncanakan berlangsung rutin setiap Ramadan.

“Insyaallah akan kami adakan setiap tahun. Supaya Ramadan tetap produktif dan sehat,” tutupnya.

Momentum tersebut menunjukkan bahwa puasa bukan halangan untuk tetap aktif. Dengan pengaturan intensitas dan waktu yang tepat, panjat dinding dapat menjadi pilihan olahraga ngabuburit sehat bagi mahasiswa maupun masyarakat umum di Semarang.(tya)

Artikel Menarik Lainnya