Folkstime.id – Pemerintah Kota Semarang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersiap mengajukan bantuan pemasangan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) khusus tanah gerak dan longsor kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Langkah ini ditempuh menyusul meningkatnya kerawanan di sejumlah wilayah perbukitan di Ibu Kota Jawa Tengah.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto, mengungkapkan bahwa hingga saat ini perangkat EWS yang dimiliki Pemkot masih terfokus pada deteksi banjir. Sementara untuk potensi tanah gerak maupun longsor, sistem khusus belum tersedia.
“Kita memang belum memiliki EWS untuk sistem peringatan dini tanah gerak atau longsor. Yang ada saat ini masih difokuskan untuk banjir,” ujar Endro, Kamis (26/2).
Menurutnya, kebutuhan EWS longsor menjadi mendesak karena beberapa kawasan di Semarang masuk kategori rawan. Wilayah seperti Gunungpati, Jangli, hingga Sadeng tercatat memiliki kontur tanah labil dan berada di area perbukitan yang berpotensi mengalami pergerakan tanah saat curah hujan tinggi.
Endro menjelaskan, di tingkat Provinsi Jawa Tengah, baru dua daerah yang telah dilengkapi EWS untuk mendeteksi potensi tanah longsor dan pergerakan tanah. Perangkat tersebut terpasang di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di lereng Gunung Lawu, serta di Kabupaten Cilacap.
“Di Jawa Tengah sendiri, setahu kami baru ada dua wilayah yang sudah memiliki EWS tanah longsor, yakni di Karanganyar dan Cilacap,” jelasnya.
Melihat kondisi geografis Semarang yang sebagian wilayahnya berupa perbukitan dan memiliki riwayat kejadian longsor, BPBD kini menjalin komunikasi dengan Pemprov Jawa Tengah untuk memperoleh dukungan teknis maupun anggaran pemasangan EWS.
“Kita sedang berkoordinasi dan mencoba meminta dukungan dari Pemprov. Kalau dilihat dari potensi yang ada, Semarang ini cukup rentan,” tegas Endro.
Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, juga menyoroti meningkatnya kejadian tanah gerak dan longsor dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut, muncul anggapan di masyarakat bahwa peningkatan tersebut berkaitan dengan gempa yang terjadi di Pacitan beberapa waktu lalu.
“Apakah benar ada kaitannya dengan gempa di Pacitan atau tidak, itu masih perlu kajian lebih lanjut. Yang jelas kita tetap harus waspada,” ujarnya.
Menurut Agustina, terlepas dari penyebabnya, pemerintah daerah harus meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di titik-titik yang telah dipetakan sebagai zona rawan. Pemkot akan memperkuat langkah mitigasi, mulai dari pemantauan lapangan, sosialisasi kepada warga, hingga koordinasi lintas instansi.
“Yang terpenting sekarang adalah kesiapsiagaan. Kita harus stand by dan memastikan seluruh perangkat siap menghadapi potensi bencana,” tegasnya.
Pemkot juga mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat hujan deras berlangsung dalam durasi lama. Warga diminta segera melaporkan tanda-tanda retakan tanah, pergeseran struktur bangunan, atau suara gemuruh dari lereng kepada aparat setempat maupun BPBD.
Dengan pengajuan EWS longsor ini, diharapkan sistem deteksi dini dapat memberikan peringatan lebih cepat kepada masyarakat sehingga risiko korban jiwa dan kerugian material akibat tanah gerak maupun longsor dapat ditekan.(tya)







