Tanggul Kali Plumbon Jebol Dini Hari, Pemkot Semarang Turun Tangan Bersihkan Lumpur dan Percepat Perbaikan

FOLKSTIME.ID – Pemerintah Kota Semarang bergerak cepat menangani dampak jebolnya tanggul Kali Plumbon di wilayah Mangkang Kulon yang terjadi pada Rabu (4/3) sekitar pukul 02.00 WIB. Luapan air sempat menggenangi permukiman warga sebelum akhirnya surut dan menyisakan lumpur di sejumlah titik.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa meski pengelolaan sungai merupakan kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), pemerintah kota tetap bertanggung jawab membantu warga yang terdampak.

“Memang itu milik BBWS. Namun jebolnya tanggul memberi dampak kepada warga Kota Semarang yang tinggal di sekitarnya. Jam 2 pagi tadi air masuk, sekarang sudah tinggal lumpurnya dan itu sudah dibersihkan. Jadi kita berbagi tugas, di sini membenahi, di sana juga melakukan penanganan,” ujar Agustina di lokasi, Rabu (4/3).

Sejak pagi, petugas gabungan dari dinas terkait dikerahkan untuk membersihkan lumpur yang mengendap di jalan lingkungan dan rumah warga. Selain pembersihan, Pemkot juga melakukan perbaikan darurat pada sejumlah sarana dan prasarana yang rusak akibat terjangan air.

Langkah tersebut, kata Agustina, merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah daerah untuk meringankan beban warga, sembari menunggu penanganan teknis pada struktur tanggul oleh pihak berwenang.

Agustina mengungkapkan, proyek normalisasi Kali Plumbon sebenarnya telah direncanakan oleh pemerintah pusat melalui kementerian terkait. Namun, pelaksanaannya sempat tertunda sejak masa pandemi Covid-19.

“Mudah-mudahan dengan hadirnya PUPR dan BBWS di lokasi, kalau anggarannya sudah ada ya segera diturunkan. Karena kewajiban Kota Semarang itu hanya meringankan dampaknya. Untuk normalisasi sungai yang menjadi kewenangan BBWS memang sempat tertunda setelah Covid. Mudah-mudahan tahun ini bisa diperbaiki,” katanya.

Ia berharap percepatan realisasi anggaran dapat menjadi solusi permanen agar kejadian serupa tidak kembali terulang, terutama saat curah hujan tinggi.

Selain Mangkang Kulon, Pemkot juga menyoroti potensi kerawanan di wilayah Rowosari yang secara geografis memiliki kontur lebih rendah. Kondisi tersebut membuat kawasan itu berisiko mengalami genangan jika terjadi luapan air.

“Ya, nanti pasti akan dilakukan penanganan khusus, karena itu seperti mangkok, posisinya lebih rendah. Harus ada upaya membuat tanggul paling tidak. Dari struktur bangunan yang kita lihat, sepertinya dimiringkan prosesnya. Mudah-mudahan kita bisa lebih mengantisipasi,” jelasnya.

Menurutnya, penguatan tanggul dan penataan struktur bangunan menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi bencana hidrologi di kawasan tersebut.

Ke depan, Pemkot Semarang berkomitmen membenahi sistem drainase di sejumlah titik rawan. Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperlebar saluran air serta mengatur kembali jalur aliran agar debit air dapat mengalir optimal tanpa meluap ke permukiman.

“Nanti di depan akan kita buat saluran yang lebih lebar dan mengatur kembali alirannya supaya air bisa dikembalikan ke jalurnya. Karena jalur air tetaplah jalur air, dan itu menjadi prioritas kita,” tegas Agustina.

Pemerintah kota juga mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, sembari memastikan koordinasi lintas instansi terus diperkuat guna meminimalkan dampak banjir di wilayah pesisir dan dataran rendah Kota Semarang.(tya)

Artikel Menarik Lainnya