Silayur Jadi Laboratorium Keselamatan Jalan Perbukitan, Dorong Standar Baru Transportasi Semarang

FOLKSTIME.ID – Kawasan Jalan Prof. Hamka (Turunan Silayur) kini mulai dipandang dari sudut yang berbeda: bukan semata sebagai ruas jalan rawan, melainkan sebagai “laboratorium terbuka” untuk pengembangan keselamatan jalan di wilayah berbukit perkotaan.

Pandangan ini mengemuka seiring meningkatnya perhatian terhadap hasil kajian teknis bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Dinas Perhubungan Kota Semarang yang memetakan secara detail karakteristik geometri jalan, lalu lintas campuran, hingga faktor lingkungan yang memengaruhi risiko di kawasan tersebut.

Pengamat transportasi Prof. Dr. Djoko Setijowarno menilai, pendekatan yang digunakan saat ini menunjukkan kemajuan penting dalam cara pemerintah daerah memahami keselamatan jalan secara ilmiah.

Menurutnya, Silayur memberi gambaran nyata bagaimana kompleksitas infrastruktur perkotaan harus ditangani dengan pendekatan rekayasa, bukan sekadar penanganan insidental.

“Ini contoh kasus yang sangat lengkap. Ada aspek kemiringan ekstrem, aktivitas industri, permukiman, sampai perilaku lalu lintas yang semuanya saling beririsan,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Dari hasil evaluasi KNKT, ruas jalan sepanjang sekitar 10 kilometer ini memiliki tingkat kelandaian yang mencapai 16 persen, jauh di atas standar ideal jalan di medan perbukitan.

Namun demikian, kondisi tersebut justru menjadi dasar penting untuk merancang sistem keselamatan yang lebih adaptif, seperti kebutuhan jalur penghentian darurat, pengaturan ulang akses median, hingga penguatan manajemen kendaraan berat.

Meski tantangan teknis cukup besar, sejumlah langkah mitigasi sudah mulai berjalan. Rambu peringatan, pembatasan jam operasional kendaraan besar, hingga sosialisasi keselamatan kepada pengemudi menjadi fondasi awal yang dinilai positif dalam membangun budaya keselamatan di lapangan.

Dalam perspektif perencanaan kota, kawasan sekitar Bukit Semarang Baru (BSB) juga mulai dilihat sebagai area yang membutuhkan penataan pertumbuhan yang lebih terukur.

Rekomendasi untuk menahan sementara ekspansi industri hingga tersedia jalur alternatif dianggap sebagai bagian dari strategi keseimbangan antara mobilitas dan keselamatan.

Lebih jauh, hasil kajian ini membuka peluang bagi Semarang untuk menjadi rujukan nasional dalam penanganan jalan menurun ekstrem di kawasan urban.

Dengan kombinasi data teknis, rekayasa lalu lintas, dan pengawasan berkelanjutan, Silayur diproyeksikan tidak hanya aman, tetapi juga menjadi model pembelajaran infrastruktur jalan perkotaan berbasis risiko.

Transformasi ini menunjukkan bahwa persoalan keselamatan jalan tidak selalu berakhir pada pembatasan, tetapi dapat berkembang menjadi inovasi tata kelola transportasi yang lebih maju dan berkelanjutan.

Artikel Menarik Lainnya