Dari 9 Menjadi Tujuh Ratusan Anggota Kisah Hangat Rangkul yang Tumbuh di Tengah Luka Pandemi

FOLKSTIME.ID Di balik riuhnya aktivitas kuliner di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, tersimpan sebuah kisah perjalanan yang lahir dari keterbatasan, tumbuh dari kepedulian, dan kini menjelma menjadi harapan bagi ratusan pelaku usaha kecil. Komunitas itu bernama Rakyat Ngaliyan Kuliner (Rangkul), sebuah gerakan sosial yang dirawat dengan semangat kebersamaan sejak masa paling gelap pandemi COVID-19.

Subastian Subrata, Kabid Edukasi dan Pengembangan Rangkul, mengenang awal perjalanan komunitas ini dengan nada yang pelan namun penuh makna.

Ia bercerita bahwa Rangkul bukan lahir dari kemewahan perencanaan, melainkan dari kegelisahan para pedagang kecil yang nyaris tak punya ruang bertahan di tengah pembatasan aktivitas.

“Waktu itu semuanya serba sulit. Warung dibatasi, UMKM seperti kehilangan napas. Kami mulai dari hal sederhana, saling tukar makanan, saling melarisi dagangan. Tidak ada yang besar di awal, hanya rasa saling menguatkan,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Dari kebiasaan sederhana itu, tumbuh sebuah gerakan sosial bernama Jumat Berkah. Sebuah inisiatif yang mengumpulkan sedekah, lalu mengalirkannya kembali dalam bentuk pembelian produk anggota UMKM, sebelum akhirnya disalurkan ke masjid, panti asuhan, hingga para pekerja jalanan seperti ojek online.

Dari tangan-tangan kecil itulah, kebaikan terus berputar. Makanan yang dibeli dari pelaku usaha anggota Rangkul tidak berhenti di meja dagang, tetapi menjelma menjadi paket kepedulian yang sampai ke mereka yang membutuhkan.Perjalanan Rangkul tidak selalu mulus.

Subastian mengakui, pada awal berdiri tahun 10 Oktober 2020, komunitas ini hanya beranggotakan 9 orang. Namun kini, jumlah itu tumbuh nyaris 700 anggota yang tersebar dan terus berkembang.

“Dulu bahkan perizinan butuh hampir dua tahun. Sulit sekali. Tapi kami tidak menyerah,” kenangnya.

Kini, Rangkul tak lagi sekadar komunitas sosial. Ia telah bertransformasi menjadi ekosistem pemberdayaan UMKM.

Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak seperti dinas terkait, hingga perbankan seperti BNI dan Bank Jateng Syariah, para anggota mendapatkan akses legalitas usaha seperti NIB, PIRT, sertifikasi halal, hingga pelatihan pengembangan usaha.

Subastian menyebut, kekuatan Rangkul justru bukan pada struktur yang kaku, melainkan pada relasi dan kepercayaan antaranggota.

Tidak ada pengurus bergaji, tidak ada sekat formal yang membatasi, hanya jejaring pertemanan yang tumbuh menjadi jalan rezeki.

Kini, dampaknya nyata. Transaksi kegiatan Rangkul disebut mencapai puluhan juta rupiah setiap minggu, bahkan bisa menembus ratusan juta jika ada event besar.

Namun lebih dari angka, yang lebih penting adalah perputaran ekonomi yang hidup di antara para pedagang kecil.

Di sela aktivitas ekonomi, Rangkul juga menjadi ruang sosial yang hangat. Ada kegiatan senam, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga aksi bersih lingkungan melalui lomba memancing yang sekaligus menjadi cara unik menjaga kebersihan area publik.

“Tujuan kami bukan hanya ekonomi. Tapi juga kebersamaan, kesehatan, dan lingkungan. Semua berjalan bersama,” tutur Subastian.

Kini, Rangkul bahkan kerap menjadi lokasi penelitian, pengabdian masyarakat, hingga skripsi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seperti Unissula, UIN, hingga Universitas Negeri Semarang.

Dari sebuah komunitas kecil yang lahir di masa pandemi, Rangkul tumbuh menjadi cerita tentang keteguhan, tentang tangan-tangan yang saling menggenggam di tengah ketidakpastian.

Dan di setiap langkahnya, selalu ada satu hal yang tetap sama: semangat untuk tidak membiarkan siapa pun berjalan sendirian.

Artikel Menarik Lainnya