Dari Krisis ke Harapan, Kisah Rangkul Ngaliyan Saat UMKM Bangkit dan Menyatukan Asa

FOLKSTIME.ID – Di sudut Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, denyut kehidupan para pelaku UMKM tak pernah benar-benar padam.

Bahkan ketika badai pandemi COVID-19 melumpuhkan banyak sektor, sekelompok warga justru memilih bertahan dan perlahan bangkit bersama dalam satu wadah bernama Rangkul, singkatan dari Rakyat Ngaliyan Kuliner.

Bagi Camat Ngaliyan, Moeljanto, Rangkul bukan sekadar komunitas. Ia adalah simbol semangat kolektif, gotong royong, dan optimisme yang tumbuh dari keterbatasan.

“Awalnya mereka datang dengan penuh keprihatinan. UMKM tidak bisa bergerak saat pandemi. Lalu muncul ide untuk menghimpun mereka. Dari situ kita dorong, kita resmikan, dan mereka mulai bergerak,” tutur Moeljanto, Selasa (5/5/2026).

Bertahan di Tengah Badai

Enam tahun lalu, saat pandemi Covid-19 berkobar, langkah Rangkul terasa berat. Aktivitas ekonomi terhenti, daya beli menurun, dan interaksi dibatasi. Namun di balik semua itu, ada tekad yang tak goyah.

Dipimpin oleh Suyatno, komunitas ini lahir dari keyakinan sederhana, UMKM harus tetap hidup.

Dengan segala keterbatasan, mereka mulai dari kecil. Puluhan pelaku usaha bergabung, mencoba peruntungan melalui penjualan daring hingga sistem COD. Namun yang menarik, mereka tak sepenuhnya meninggalkan aktivitas offline.

“Walaupun saat itu COVID belum selesai, mereka tetap jalan. Tertatih-tatih, tapi tidak menyerah,” kenang Moeljanto.

Dari Sembilan ke Ratusan Harapan

Kini, perjuangan itu berbuah manis. Rangkul berkembang pesat, dari sembilan anggota menjadi ratusan, sekitar 700 anggota saat ini. Kegiatan yang awalnya sederhana kini menjelma menjadi magnet ekonomi lokal.

Setiap Sabtu malam dan Minggu pagi, kawasan Ngaliyan berubah menjadi pusat keramaian. Ratusan pelaku UMKM membuka lapak dalam konsep “café day” dan “café night”, sebuah ruang interaksi yang tak hanya menjual produk, tetapi juga menghadirkan hiburan dan kebersamaan.

Dari sekitar 100 hingga 150 stan yang hadir setiap pekan, perputaran uang bisa mencapai Rp100 juta dalam satu akhir pekan. Dalam setahun, angka itu menembus hampir Rp5 miliar.

Angka yang bukan sekadar statistik, tetapi cerminan kerja keras dan kepercayaan diri yang tumbuh.

Lebih dari Sekadar Jualan

Yang membuat Rangkul berbeda adalah suasana yang mereka bangun. Ini bukan sekadar pasar kuliner.

Ada musik, seni tradisional seperti kuda lumping dan reog, hingga penampilan drum band yang menghidupkan suasana. Pengunjung datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk merasakan pengalaman.

Menariknya, Rangkul juga menjadi ruang inklusif. Tidak hanya pelaku UMKM dari Ngaliyan, tetapi juga dari wilayah lain seperti Kendal dan kecamatan sekitar turut ambil bagian.

“Ini energi positif. Dikelola dengan baik, dimanage dengan baik, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Moeljanto.

Masa Depan yang Terbentang

Ke depan, potensi Rangkul dinilai masih sangat besar. Pemerintah kecamatan melihat peluang untuk memperluas konsep ini ke wilayah lain seperti Mijen, Semarang Barat, hingga Tugu.

Targetnya pun optimistis, perputaran ekonomi bisa melampaui Rp3 miliar bahkan lebih dalam waktu dekat untuk skala pengembangan tertentu.

Namun bagi Moeljanto, nilai terbesar bukan hanya pada angka.

Melainkan pada bagaimana Rangkul mampu mengubah krisis menjadi peluang, ketakutan menjadi keberanian, dan keterbatasan menjadi kekuatan.

“Ini bukti bahwa dengan kolaborasi, dengan semangat, dan dukungan yang tepat, UMKM bisa bangkit. Bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya,” tegasnya.

Di Ngaliyan, kisah Rangkul adalah cerita tentang harapan yang dirawat bersama. Tentang orang-orang biasa yang memilih untuk tidak menyerah dan justru menemukan jalan untuk tumbuh, bersama.

Artikel Menarik Lainnya