Harga Pangan Semarang Tetap Stabil, Agustina Turun Tangan Kendalikan Lonjakan Harga Sayuran

FOLKSTIME.ID – Kondisi harga pangan Kota Semarang dipastikan masih berada pada kategori relatif aman meski kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas, sementara intervensi terhadap lonjakan harga sayur langsung dilakukan melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) Kempling Semar.

Hasil pemantauan yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang bersama Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) dan Tim Satgas Saber Harga dan Kualitas Pangan di Pasar Peterongan menunjukkan mayoritas bahan pangan pokok masih diperdagangkan pada level yang terkendali.

Sejumlah komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, gula pasir, telur ayam hingga cabai masih tercatat berada dalam rentang harga yang dinilai aman bagi masyarakat. Kenaikan harga yang terdeteksi disebut belum mengganggu stabilitas pasokan maupun daya beli warga.

“Harga semua komoditas penting yang dipantau pemerintah relatif aman. Memang ada kenaikan, tetapi masih dalam kondisi yang aman. Hanya bawang putih yang masih berada di atas HAP atau HET yang ditetapkan pemerintah,” kata Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng.

Menurut Agustina, langkah cepat telah diperintahkan kepada Dishanpan setelah diperoleh laporan mengenai kenaikan harga sayuran di Pasar Peterongan. Intervensi pasar dilakukan melalui armada Kempling Semar yang secara rutin menjual kebutuhan pokok dan sayuran dengan harga lebih terjangkau.

Program tersebut dijalankan sebagai upaya menjaga stabilitas harga pangan Kota Semarang sekaligus mengantisipasi kenaikan harga yang berpotensi terjadi pada beberapa komoditas hortikultura.

Intervensi Pasokan Sayuran Dipercepat

Upaya pengendalian harga tidak hanya dilakukan melalui operasi pasar, tetapi juga diperkuat dengan pemantauan harian yang dilaksanakan bersama Tim Satgas Saber Harga dan Kualitas Pangan.

Tim tersebut melibatkan unsur kepolisian, perangkat perdagangan daerah, hingga lembaga penyangga pangan pemerintah untuk memastikan distribusi dan stok kebutuhan pokok tetap tersedia di pasar tradisional.

“Berdasarkan pantauan di lapangan, harga pangan pokok masih dalam batas aman. Hanya bawang merah yang berada di atas HAP, tetapi masih bisa dikendalikan melalui operasi pasar,” ujar Agustina.

Dari hasil pemantauan terakhir, harga bawang merah tercatat mencapai Rp55.000 per kilogram atau sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp41.500 per kilogram.

Sementara itu, harga beras SPHP terpantau Rp60.000 per 5 kilogram, minyak goreng Rp23.000 per liter, telur ayam Rp27.000 per kilogram, gula pasir Rp18.500 per kilogram, bawang putih Rp40.000 per kilogram, ayam potong Rp27.000 per kilogram, tomat Rp12.000 per kilogram, wortel Rp15.000 per kilogram, cabai keriting Rp35.000 per kilogram, serta cabai rawit Rp55.000 per kilogram.

Gerakan Pangan Murah Dinilai Efektif

Efektivitas program Gerakan Pangan Murah dalam menjaga kestabilan harga dan pengendalian inflasi daerah turut disampaikan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih.

Menurut Endang, evaluasi yang dilakukan pemerintah pusat menunjukkan kondisi harga pangan di Kota Semarang relatif lebih stabil dibandingkan sejumlah daerah lainnya.

“Hasil monitoring dan evaluasi dari Badan Pangan Nasional menunjukkan harga pangan di Kota Semarang relatif lebih stabil dalam mendukung pengendalian inflasi,” jelas Endang.

Kenaikan harga sayuran yang sebelumnya dikeluhkan pedagang dan masyarakat juga telah ditindaklanjuti dengan penambahan pasokan dari berbagai mitra pemerintah.

Intervensi pasokan dilakukan melalui kolaborasi dengan Program PAK RAHMAN (Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman), Sayur Yuni, serta BUMD JTAB yang menyalurkan stok sayuran ke Pasar Peterongan.

“Pagi ini kami melakukan intervensi bersama mitra dengan menggelontorkan pasokan sayuran ke Pasar Peterongan sehingga harga sayuran bisa lebih terkendali,” kata Endang.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID — Gala premiere film “Jangan Buang Ibu” menjadi ruang pertemuan antara seni, kemanusiaan, dan harapan besar tentang masa depan industri kreatif Kota Semarang. Di balik gemerlap layar lebar dan antusiasme penonton yang memenuhi bioskop XXI Paragon Semarang, tersimpan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah karya film. Malam itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng hadir bersama jajaran Forkopimda, pelaku usaha, komunitas sosial, dan insan perfilman. Namun, kehadirannya bukan hanya untuk menyaksikan sebuah film. Di hadapan para tamu undangan, Agustina menegaskan visi besar bahwa Semarang siap menjadi rumah bagi tumbuhnya industri kreatif dan perfilman nasional. Film “Jangan Buang Ibu” garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu mengangkat kisah perjuangan seorang ibu tunggal yang mengorbankan banyak hal demi membesarkan anak-anaknya. Cerita yang sarat nilai kasih sayang dan pengorbanan tersebut berhasil menyentuh emosi penonton sekaligus mengingatkan bahwa kekuatan terbesar dalam kehidupan sering kali lahir dari ketulusan dan pengabdian. Bagi Agustina, pesan yang dibawa film tersebut memiliki relevansi dengan semangat pembangunan Kota Semarang. Menurutnya, sebuah kota tidak hanya dibangun melalui beton, jalan raya, dan gedung-gedung tinggi, tetapi juga melalui karya, gagasan, serta kreativitas yang mampu menginspirasi masyarakat. “Semarang tidak hanya ingin dikenal sebagai kota yang maju secara fisik, tetapi juga sebagai kota yang memberi ruang bagi lahirnya karya-karya kreatif yang menginspirasi. Kami ingin Semarang menjadi rumah yang nyaman bagi para sineas untuk berkarya dan berkolaborasi,” ujarnya. Selengkapnya… https://folkstime.id/agustina-semarang-rumah-industri-kreatif-dan-perfilman/ #agustina #semarang #jateng #sineas #film

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Artikel Menarik Lainnya