Beras dan Cabai Dominasi Temu Bisnis Pangan Jateng, Puluhan Peluang Kerja Sama Antardaerah Dibuka

FOLKSTIME.ID – Komoditas beras dan cabai tercatat sebagai produk pangan paling diminati dalam Temu Bisnis Kerja Sama Antardaerah (KAD) Intra Provinsi Jawa Tengah yang digelar di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (10/6/2026), dengan puluhan peluang kerja sama perdagangan pangan antardaerah berhasil dipetakan untuk memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas harga di Jawa Tengah.

Sebanyak 111 produsen dan 99 offtaker atau pembeli bahan pokok penting dipertemukan dalam forum yang diselenggarakan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah tersebut. Pertemuan langsung antara pelaku usaha pangan itu diarahkan untuk memperkuat rantai pasok sekaligus mempercepat distribusi komoditas strategis antardaerah.

Berdasarkan data yang dihimpun selama kegiatan berlangsung, beras menjadi komoditas dengan jumlah peminat tertinggi dari kalangan offtaker sebanyak 30 peminat. Posisi berikutnya ditempati cabai dengan 25 peminat, minyak goreng 24 peminat, bawang merah 13 peminat, jagung empat peminat, serta telur tiga peminat.

“Kami mencoba mempertemukan produsen bahan pangan pokok dengan para offtaker sehingga kebutuhan antarwilayah dapat dipenuhi dengan lebih baik,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M Nur Nugroho.

Distribusi Pangan Diperkuat

Melalui forum tersebut, proses distribusi pangan dinilai dapat dibuat lebih efektif karena produsen dan pembeli dipertemukan secara langsung dalam satu wadah bisnis. Efisiensi rantai pasok disebut menjadi faktor penting dalam menjaga keterjangkauan harga bahan pokok di masyarakat.

Menurut Nur Nugroho, kebutuhan pangan antardaerah akan lebih mudah dipenuhi apabila komunikasi antara produsen dan pembeli dapat dilakukan secara langsung. Dengan pola tersebut, biaya distribusi diharapkan dapat ditekan sehingga pergerakan barang menjadi lebih cepat.

“Efisiensi distribusi menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas harga pangan. Dengan mempertemukan kedua pihak, proses penyaluran hasil produksi diharapkan menjadi lebih cepat dan biaya distribusi dapat ditekan,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, hasil pertemuan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan transaksi jangka pendek, tetapi juga melahirkan komitmen kerja sama yang berkelanjutan.

“Kami berharap muncul transaksi maupun komitmen kerja sama jangka panjang yang dapat memperkuat ketahanan pangan Jawa Tengah,” katanya.

Untuk mendukung keberlanjutan kerja sama tersebut, basis data produsen dan offtaker juga disiapkan oleh TPID Jawa Tengah sehingga koordinasi antarpelaku usaha dapat dilakukan secara lebih optimal.

Cabai dan Beras Mendominasi Pasokan

Dari sisi produsen, komoditas cabai menjadi yang paling banyak ditawarkan dalam temu bisnis tersebut. Sebanyak 33 produsen cabai tercatat mengikuti kegiatan tersebut.

Sementara itu, beras dipasok oleh 28 produsen, jagung oleh 25 produsen, bawang merah oleh 20 produsen, telur ayam oleh empat produsen, serta minyak goreng oleh dua produsen.

Besarnya jumlah produsen dan pembeli yang hadir dinilai menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap komoditas pangan strategis sekaligus memperlihatkan peluang perdagangan yang masih terbuka luas di tingkat antardaerah.

Data pemetaan kerja sama juga menunjukkan Kabupaten Klaten dan Kota Semarang menjadi wilayah dengan potensi kebutuhan kerja sama terbesar, masing-masing mencapai 11 peluang kerja sama.

Adapun Banjarnegara, Banyumas, Kendal, dan Wonosobo tercatat memiliki tujuh potensi kerja sama yang dapat dikembangkan melalui skema perdagangan pangan antardaerah.

Demak dan Grobogan Jadi Sentra Potensial

Pada sisi daerah produsen, Kabupaten Demak dan Grobogan muncul sebagai wilayah dengan peluang kerja sama terbanyak. Masing-masing daerah tercatat memiliki sembilan potensi kerja sama yang dapat dikembangkan dengan daerah lain di Jawa Tengah.

Kabupaten Batang dan Brebes menyusul dengan tujuh potensi kerja sama yang berpeluang diwujudkan melalui kemitraan antara produsen dan offtaker.

Pemetaan tersebut dinilai penting sebagai dasar pengembangan jaringan distribusi pangan yang lebih merata sehingga pasokan bahan pokok dapat dijaga di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Gubernur Tekankan Prioritas Pemenuhan Kebutuhan Daerah

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa perdagangan pangan di dalam provinsi perlu terus diperkuat mengingat Jawa Tengah merupakan salah satu lumbung pangan nasional.

Menurutnya, kebutuhan masyarakat Jawa Tengah harus dipastikan terpenuhi terlebih dahulu sebelum pasokan pangan dikirimkan ke daerah lain.

Kerja sama antara pemerintah daerah, produsen, dan pelaku usaha disebut menjadi fondasi penting dalam menjaga ketersediaan bahan pokok sekaligus mengendalikan inflasi daerah.

“Sebagai lumbung pangan nasional, Jawa Tengah harus mampu memastikan kebutuhan masyarakatnya terpenuhi sebelum memasok daerah lain,” tegas Ahmad Luthfi.

Sejumlah Kesepakatan Strategis Ditandatangani

Selain agenda temu bisnis, sejumlah kerja sama strategis juga ditandatangani dalam kegiatan tersebut. Salah satunya dilakukan antara Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Kalingga Makmur Sejahtera Kabupaten Jepara dengan Gapoktan Karya Manunggal Kabupaten Rembang untuk komoditas beras.

Kesepakatan kerja sama juga dibangun di wilayah Banyumas Raya yang mencakup komoditas cabai, beras, jagung, bawang merah, serta minyak goreng.

Melalui kerja sama tersebut, jaringan distribusi pangan di Jawa Tengah diharapkan semakin kuat sehingga stabilitas harga bahan pokok dapat terus dijaga, sementara ketahanan pangan daerah dapat diperkuat melalui sinergi antardaerah yang berkelanjutan.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID – Inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dikembangkan di Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, diapresiasi langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat, saat dilakukan peninjauan ke Kebun Bulusan Edu Park, Selasa (2/6). Praktik pengelolaan sampah organik melalui teknologi BIOWASH PROMIC yang dikembangkan Yayasan Peduli Lingkungan Penghijauan Melindungi Bumi dari Polusi dinilai telah menunjukkan keberhasilan penerapan ekonomi sirkular berbasis masyarakat yang mampu menghasilkan manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomi. Dalam kunjungan tersebut, proses pengolahan sampah organik menjadi media tanam, pupuk, dan nutrisi tanaman ramah lingkungan diperlihatkan secara langsung kepada Menteri Lingkungan Hidup. Kawasan Kebun Bulusan Edu Park juga ditunjukkan sebagai pusat edukasi lingkungan, urban farming, penghijauan, serta pemberdayaan warga. Gerakan pengelolaan sampah yang berawal dari lingkungan RT 04 RW 04 Kelurahan Bulusan itu dinilai berhasil berkembang menjadi contoh nyata pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang sejalan dengan konsep ekonomi sirkular nasional. “Dari RT di Kota Semarang melahirkan satu gagasan bahwa ternyata sampah itu menguntungkan dan itulah ekonomi sirkular. Sampah bukan masalah, bahkan bisa menjadi bagian dari peningkatan kegiatan ekonomi,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat. Selengkapnya.. https://folkstime.id/menteri-lh-takjub-dengan-inovasi-sampah-warga-bulusan-semarang-dari-rt-jadi-motor-ekonomi-sirkular-nasional/ #menteri #lingkungan #semarang #jateng #sampah

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Artikel Menarik Lainnya