FOLKSTIME.ID – Sebanyak 350 ekor satwa dari 52 jenis hewan dihadirkan oleh Gembira Loka Zoo melalui konsep kebun binatang mini di dalam mal yang dibuka di The Park Semarang menjelang musim libur sekolah, sebagai upaya memperluas edukasi satwa, konservasi, dan rekreasi keluarga dalam satu lokasi.
Kehadiran kebun binatang mini tersebut dinilai menjadi alternatif wisata edukasi baru yang dapat diakses masyarakat tanpa harus mengunjungi kebun binatang konvensional. Program itu juga digelar bertepatan dengan momentum liburan sekolah dan peringatan hari jadi Gembira Loka Zoo.
Atraksi wisata edukatif tersebut diharapkan mampu memperkuat daya tarik pariwisata Kota Semarang sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan selama periode libur pertengahan tahun.
“Ini dalam rangka liburan sekolah sekaligus ulang tahun Gembira Loka. Konsepnya sangat bagus karena memadukan edukasi, konservasi, dan rekreasi. Masyarakat tidak hanya melihat satwa, tetapi juga diajarkan cara mengamati nama, jenis, dan kebiasaan mereka,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriasari, saat pembukaan kegiatan di The Park Semarang, Jumat (12/6).
Menurut Indriasari, konsep kebun binatang mini di dalam pusat perbelanjaan dinilai mampu menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda bagi masyarakat Semarang maupun pengunjung dari luar daerah.
Ia menyebut tren kunjungan wisata di Kota Semarang terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Oleh karena itu, hadirnya atraksi baru tersebut diyakini dapat memberikan tambahan pilihan destinasi bagi keluarga selama masa liburan sekolah.
“Setelah okupansi hotel meningkat pada libur Mei lalu, tentu kami berharap kehadiran atraksi baru ini bisa semakin mendorong sektor pariwisata dan kunjungan wisatawan ke Kota Semarang,” ujarnya.
Ubah Persepsi Tentang Kebun Binatang
Sementara itu, Direktur Utama Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta, Tirtodiprojo, mengatakan konsep yang dihadirkan di dalam mal sengaja dirancang untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap kebun binatang.
Menurutnya, masih terdapat anggapan bahwa kebun binatang identik dengan kondisi kumuh, berbau, dan memiliki fasilitas yang kurang memadai. Melalui pameran satwa di dalam pusat perbelanjaan, persepsi tersebut ingin dipatahkan.
“Jadi kita ingin memperlihatkan bahwa kebun binatang itu jangan dipikir yang kumuh, kotor, bau, tidak berkembang, fasilitasnya enggak bagus. Gembira Loka ingin memperlihatkan, ternyata kebun binatang kalau di dalam sebuah mall bisa bersih, hewan-hewan juga terawat dan tidak stres,” ujarnya.
Konsep tersebut, lanjut dia, juga menjadi bukti bahwa standar pengelolaan satwa modern dapat diterapkan dengan tetap mengutamakan kebersihan, kenyamanan pengunjung, serta kesejahteraan hewan.
Kesejahteraan Satwa Jadi Prioritas
Dalam pelaksanaannya, kesejahteraan satwa disebut tetap menjadi perhatian utama. Seluruh kandang dan area pamer dirancang agar satwa dapat beradaptasi dengan baik selama kegiatan berlangsung.
Tirtodiprojo menegaskan bahwa kondisi satwa yang nyaman menjadi indikator penting dalam pengelolaan kebun binatang modern.
“Seperti contoh kalau binatangnya susah dicari dalam kandang dan dia diam berarti dia lebih enak dan nyaman. Jadi dengan demikian Gembira Loka lebih mengutamakan kesejahteraan satwa. Jadi kalau satwanya sudah sejahtera, otomatis perawatnya juga harus sejahtera,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Gembira Loka Zoo saat ini memiliki sekitar 1.500 ekor satwa dari 150 jenis dan mampu menarik kunjungan hingga satu juta orang setiap tahun.
Koleksi Baru dan Program Edukasi Interaktif
Selain menghadirkan ratusan satwa ke Semarang, Gembira Loka Zoo juga memperkenalkan perkembangan koleksi hewan terbaru yang dimiliki.
Dua satwa baru yang telah menjadi bagian koleksi tahun ini adalah Rubah Merah dan African Painted Dog. Salah satu fokus pengelola saat ini adalah proses adaptasi African Painted Dog yang tengah berlangsung di Gembira Loka Zoo.
“Saat ini African Painted Dog sudah mulai beradaptasi di Gembira Loka dan kami juga sedang menunggu kelahirannya. Karena kalau lahir di alamnya memang ada dinamika sosial yang unik. Nah inilah yang kita tunggu,” kata Tirtodiprojo.
Menyambut musim libur sekolah, berbagai program edukatif juga disiapkan untuk anak-anak. Tidak hanya diperkenalkan dengan beragam jenis satwa, pengunjung juga diberikan kesempatan mengenal profesi yang berkaitan dengan pengelolaan kebun binatang.
Program yang disiapkan meliputi edukasi dokter hewan cilik, pengenalan tugas keeper atau perawat satwa, hingga pembelajaran interaktif mengenai perawatan dan penanganan hewan.
“Jadi edukasi-edukasi yang perlu kami tampilkan secara interaktif maupun secara aktif, secara langsung juga. Termasuk kita menghadirkan mereka kalau ingin jadi profesi sebagai dokter cilik itu ada di tempat kita. Apa sih dokter itu yang harus dikerjakan? Kemudian sebagai keeper, keeper itu adalah perawat satwa. Apa yang harus dikerjakan? Nah, edukasi itu yang paling penting,” tegasnya.
Melalui konsep kebun binatang mini di dalam mal tersebut, edukasi satwa, konservasi, dan rekreasi keluarga diharapkan dapat dijangkau lebih luas, sekaligus menjadi magnet baru wisata libur sekolah di Kota Semarang.(tya)







