
Kegiatan Baca Senyap yang digelar KPG di Gramedia Jalma Semarang berhasil menarik ratusan peserta dan puluhan komunitas literasi.
FOLKSTIME.ID – Di tengah derasnya arus informasi digital yang terus membanjiri ruang kehidupan masyarakat, sebuah pemandangan berbeda terlihat di Gramedia Jalma Semarang, Sabtu (13/6/2026). Ratusan anak muda, pegiat literasi, mahasiswa, hingga keluarga memilih duduk bersama dalam keheningan. Tidak ada panggung hiburan yang riuh. Tidak pula percakapan yang mendominasi ruangan.
Yang terdengar justru suara lembar demi lembar buku yang dibuka.
Melalui kegiatan bertajuk “Belajar Membaca, Merawat Nalar”, upaya untuk menghidupkan kembali budaya membaca telah dilakukan oleh Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Kegiatan Baca Senyap tersebut digelar bertepatan dengan peringatan 30 tahun KPG dan berhasil mempertemukan pembaca, komunitas literasi, serta pengelola ruang baca dalam satu ruang kolektif yang penuh makna.
Di saat perhatian publik semakin sering direbut oleh notifikasi media sosial dan banjir informasi instan, ruang untuk membaca secara mendalam dinilai semakin penting untuk dihadirkan.
Membaca Bersama untuk Menjaga Kewarasan Publik
Kegiatan Baca Senyap tidak sekadar dirancang sebagai agenda membaca bersama. Melalui forum tersebut, ruang refleksi dan ruang berpikir yang lebih tenang berupaya untuk dihadirkan.
Peserta diberikan kesempatan untuk membaca buku pilihannya masing-masing dalam suasana hening sebelum kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan interaksi antaranggota komunitas.
Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mengingatkan kembali bahwa membaca bukan hanya aktivitas akademik, melainkan juga cara merawat kemampuan berpikir kritis di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.
Manager Redaksi dan Produksi KPG, Christina M. Udiani, menegaskan bahwa hubungan antara penerbit, pembaca, komunitas, dan toko buku perlu terus dipelihara.
“Kami sangat berterima kasih karena ternyata penerbit juga bisa menemui pembaca, menemui komunitas, dan menemui toko buku. Satu keluarga besar yang harus tetap dirawat bersama untuk menjaga kewarasan kita supaya tetap bernalar dan berani bersikap,” kata Christina.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca, tetapi juga sebagai fondasi untuk membangun masyarakat yang mampu berpikir jernih dan mengambil sikap secara rasional.
Antusiasme Besar dari Komunitas Literasi Semarang
Besarnya minat masyarakat terhadap kegiatan literasi turut ditunjukkan melalui jumlah pendaftar yang melampaui ekspektasi penyelenggara.
Puluhan komunitas literasi dari berbagai wilayah Kota Semarang dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa gerakan membaca masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat.
Menurut data yang disampaikan penyelenggara, lebih dari 30 komunitas berpartisipasi dalam kegiatan itu. Sementara jumlah pendaftar tercatat mencapai lebih dari 2.600 orang.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kebutuhan akan ruang literasi masih sangat tinggi.
“Ternyata Semarang komunitasnya banyak. Yang mendaftar sekitar 2.625, dan yang hadir sekitar 400 sampai 500 orang. Karena satu pendaftar bisa datang bersama teman atau keluarganya,” ujar Christina.
Kehadiran ratusan peserta tersebut membuat Gramedia Jalma dipenuhi berbagai kelompok pembaca yang berasal dari latar belakang berbeda.
Mahasiswa duduk berdampingan dengan pekerja muda. Komunitas buku bertemu dengan keluarga yang membawa anak-anak mereka. Sebuah potret literasi yang jarang ditemukan dalam kehidupan perkotaan modern.
Literasi yang Tidak Berhenti pada Acara Seremonial
Kegiatan Baca Senyap diposisikan sebagai awal dari upaya yang lebih panjang dalam membangun budaya membaca.
Menurut Christina, ruang-ruang literasi yang telah tersedia perlu terus dihidupkan oleh komunitas agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Kami hanya memulai. Silakan dimanfaatkan. Ruang seperti ini bisa diaktifkan untuk berbagai kegiatan yang mendukung budaya membaca dan berdiskusi,” katanya.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan gerakan literasi tidak dapat hanya dibebankan kepada penerbit atau toko buku semata. Dukungan komunitas dan partisipasi masyarakat menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan gerakan tersebut.
Pengalaman Baru yang Dirasakan Anak Muda
Di antara ratusan peserta yang hadir, terdapat Rahmani Puspita Sari, mahasiswa Universitas Diponegoro asal Cilacap yang untuk pertama kalinya mengikuti kegiatan Baca Senyap.
Baginya, pengalaman membaca bersama memberikan kesan yang berbeda dibandingkan membaca secara individu.
Selain dapat menikmati buku dalam suasana yang tenang, kesempatan untuk bertemu orang-orang baru juga dirasakan sebagai nilai tambah yang penting.
“Seru sih. Aku pertama kali ikut baca senyap. Bisa ketemu kenalan baru dan baca buku baru. Sangat recommended buat teman-teman yang belum pernah ikut,” ujarnya.
Menurut Rahmani, kegiatan seperti ini menjadi ruang yang relevan bagi generasi muda yang sehari-hari terus dibombardir oleh informasi dari berbagai platform digital.
Ruang yang aman dan nyaman untuk membaca dinilai semakin dibutuhkan.
“Sangat membantu. Memberikan ruang yang aman dan nyaman untuk membaca buku. Apalagi di tengah kondisi yang membuat orang mudah lelah dengan informasi yang datang terus-menerus,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan fenomena yang banyak dirasakan generasi muda saat ini, yakni kelelahan informasi atau information overload yang muncul akibat paparan informasi tanpa henti.
Buku Fisik Masih Memiliki Tempat di Hati Pembaca
Di tengah semakin berkembangnya buku digital dan platform baca daring, buku fisik ternyata masih dipilih oleh sebagian besar pembaca.
Rahmani mengaku lebih nyaman membaca buku cetak karena memungkinkan interaksi yang lebih personal dengan isi bacaan.
“Kalau buku fisik saya lebih senang karena bisa mencatat dan menandai bagian-bagian penting saat membaca,” tuturnya.
Pilihan terhadap buku fisik tersebut menunjukkan bahwa pengalaman membaca tidak hanya berkaitan dengan isi buku, tetapi juga proses interaksi yang dibangun antara pembaca dan teks yang dibacanya.
Gramedia Jalma Dikembangkan Menjadi Ruang Ketiga
Di balik penyelenggaraan kegiatan Baca Senyap, terdapat konsep besar yang sedang dikembangkan Gramedia Jalma.
Perwakilan Community Specialist Gramedia Jalma, Pramudia Pangestu, menjelaskan bahwa tempat tersebut tidak hanya dirancang sebagai toko buku konvensional.
Konsep interaksi dan narasi sengaja dijadikan fondasi utama.
“Dasarnya kata Jalma itu berarti manusia. Karena itu interaksi dan bernarasi menjadi poin kunci. Di sini pelanggan tidak hanya membeli buku, tetapi juga bisa mendapatkan rekomendasi bacaan dan mengikuti berbagai aktivitas,” katanya.
Melalui konsep tersebut, Gramedia Jalma diharapkan dapat menjadi ruang yang mampu mempertemukan berbagai gagasan dan komunitas.
Beragam kegiatan dapat diselenggarakan, mulai dari diskusi buku, baca senyap, pemutaran film, hingga lokakarya kreatif.
Menjadi Tempat Bertemunya Ide-Ide Baru
Konsep yang diusung Gramedia Jalma mengarah pada pembentukan “ruang ketiga” atau third place.
Dalam konsep ini, masyarakat tidak hanya memiliki rumah sebagai ruang pertama dan kantor sebagai ruang kedua, tetapi juga membutuhkan ruang lain untuk berinteraksi secara sosial.
“Kami ingin Jalma menjadi ruang ketiga. Kalau ruang pertama adalah rumah dan ruang kedua kantor, maka ruang ketiga adalah tempat bertemu, bertukar cerita, dan melahirkan ide-ide kreatif,” ujar Pramudia.
Konsep ruang ketiga tersebut dinilai semakin relevan di tengah kehidupan urban yang sering kali membuat interaksi sosial menjadi terbatas.
Generasi Z Mendominasi Pengunjung
Sambutan positif terhadap konsep Gramedia Jalma terus ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah pengunjung.
Menurut Pramudia, generasi Z menjadi kelompok yang paling banyak memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Area membaca, ruang diskusi, hingga tempat bekerja bersama digunakan secara aktif sejak pagi hingga malam hari.
“Dari ragam pengunjung yang hadir, memang didominasi generasi Z karena ini menjadi ruang baru bagi mereka. Dari pagi sampai malam selalu ramai,” katanya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa anak muda masih memiliki minat tinggi terhadap aktivitas membaca dan belajar ketika ruang yang nyaman berhasil disediakan.
Literasi untuk Masa Depan yang Lebih Kritis
Kegiatan Baca Senyap di Gramedia Jalma Semarang pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda membaca bersama.
Melalui kegiatan tersebut, sebuah pesan penting telah disampaikan bahwa budaya membaca perlu terus diperkuat sebagai bagian dari pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Ketika informasi datang tanpa henti melalui layar gawai, kemampuan untuk membaca secara mendalam, memahami konteks, serta berpikir kritis menjadi semakin dibutuhkan.
Ratusan peserta yang memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku di Gramedia Jalma menunjukkan bahwa harapan terhadap masa depan literasi Indonesia masih tetap terjaga.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh arus informasi digital, keheningan yang diciptakan dalam kegiatan Baca Senyap justru menjadi cara untuk menjaga nalar tetap hidup.
Dan dari ruang-ruang seperti itulah, budaya berpikir kritis dapat terus dirawat oleh generasi muda Indonesia.(tya)
