FOLKSTIME.ID – Permainan egrang kembali mencuri perhatian dalam Festival Olahraga Masyarakat Kota (Forkot) Semarang 2026.
Puluhan pelajar adu ketangkasan menjaga keseimbangan di atas egrang bambu, Minggu (4/10/2026).
Salah satunya Cantika Triyanda Gifti, siswi kelas 8 SMP Negeri 39 Kota Semarang. Beberapa kali terjatuh saat perlombaan tak membuatnya menyerah.
Ia kembali bangkit dan melanjutkan pertandingan bersama timnya.Bagi Cantika, egrang bukan sekadar permainan yang menguji keseimbangan.
Permainan tradisional tersebut juga melatih kepercayaan diri sekaligus mengenalkan kembali budaya permainan Indonesia kepada generasi muda.
“Kegiatan ini tuh seru banget karena ini melatih daya kita kayak percaya diri sama kita bisa lebih mengenal permainan tradisional di Indonesia,” ujar Cantika.
Peserta lainnya, Rasyadan Zunur Thirafi, mengaku sudah mengenal egrang sejak duduk di kelas empat SD.
Ia biasa memainkan permainan tersebut bersama teman-temannya di Kelurahan Krobokan.
Namun, menurut siswa kelas 9 SMP Negeri 30 Semarang itu, permainan egrang kini semakin jarang ditemui. Karena itu, ia berharap kegiatan seperti Forkot lebih sering digelar.
“Harapannya untuk kegiatan kali ini lebih sering diadakan agar ramai juga ada kegiatan olahraga di Kota Semarang dan biar tidak terlupakan permainan tradisionalnya,” ungkap Rasyadan.
Lomba egrang menjadi salah satu kegiatan dalam Forkot 2026 yang digelar di sejumlah lokasi di Kota Semarang.
Perlombaan dilakukan secara estafet dengan setiap tim terdiri dari empat peserta. Forkot 2026 sendiri diikuti sekitar 3.000 pegiat olahraga masyarakat yang tergabung dalam 37 dari total 43 Induk Organisasi Olahraga (Inorga) KORMI Kota Semarang.
Berbagai jenis olahraga ikut ditampilkan, mulai dari olahraga tradisional, senam, dance, bela diri hingga komunitas sepeda tua.
Ketua KORMI Kota Semarang, Dyah Tunjung Pudyawati, mengatakan Forkot tidak hanya bertujuan mencari pemenang.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat agar menjadikan olahraga sebagai kebiasaan sehari-hari.
“Olahraga masyarakat hadir dengan semangat yang sederhana: bergerak, sehat, gembira, dan bersama-sama,” katanya.
Menurutnya, olahraga tradisional seperti egrang dan bakiak memiliki nilai penting karena tidak hanya mengajak masyarakat bergerak, tetapi juga menjaga permainan tradisional tetap dikenal.
Melalui Inorga Federasi Olahraga Tradisional Indonesia (Fortina), berbagai permainan tradisional mendapat ruang dalam Forkot sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya di Kota Semarang.
Selain olahraga masyarakat, Forkot juga menjadi bagian dari pembinaan pegiat olahraga.
Para juara dari masing-masing Inorga nantinya dipersiapkan mengikuti Festival Olahraga Masyarakat Daerah (Forda) Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung Desember mendatang.
Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Semarang, Didik Dwi Hartono, turut mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam mengikuti Forkot 2026.
“Mari kita sukseskan FORKOT Semarang 2026. Kegiatan ini milik kita bersama, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia, semuanya bersemangat mengikuti kegiatan olahraga,” ujar Didik.(Rin)













