
Mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro berhasil menciptakan inovasi BioSil-C, paving block ramah lingkungan
FOLKSTIME.ID – Inovasi BioSil-C karya mahasiswa Vokasi Undip berhasil meraih Juara 2 Kompetisi Riset Perguruan Tinggi Kota Surakarta 2026. Paving block ramah lingkungan berbahan biochar tempurung kelapa dan nanosilika aktif ini dikembangkan sebagai solusi banjir perkotaan sekaligus mendukung pembangunan rendah karbon.
Ketika Limbah Kelapa Diubah Menjadi Harapan Baru bagi Kota
Di tengah meningkatnya ancaman banjir perkotaan dan berbagai persoalan lingkungan yang terus dihadapi banyak daerah di Indonesia, sebuah gagasan sederhana justru berhasil menarik perhatian para peneliti dan pemangku kebijakan.
Harapan tersebut lahir dari tangan dua mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip), yakni Luis Ibanez Sitinjak dan Fajar Daruwijaya. Melalui riset yang dikembangkan secara serius, limbah tempurung kelapa berhasil diubah menjadi material inovatif yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga diyakini mampu membantu mengurangi risiko banjir di kawasan perkotaan.
Inovasi tersebut diberi nama BioSil-C, sebuah paving block ramah lingkungan berbasis biochar tempurung kelapa dan nanosilika aktif yang dirancang untuk meningkatkan daya resap air sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan.
Atas penelitian tersebut, penghargaan Juara 2 dalam Kompetisi Riset Perguruan Tinggi Kota Surakarta Tahun 2026 berhasil diraih. Prestasi itu sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi mahasiswa vokasi mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Berawal dari Kegelisahan Melihat Genangan Air di Kota Solo
Ide BioSil-C tidak lahir begitu saja.
Riset tersebut dikembangkan setelah persoalan genangan air yang masih ditemukan di sejumlah titik Kota Surakarta diamati secara langsung. Fenomena tersebut dinilai sebagai masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan pembangunan saluran drainase semata.
Berbagai pendekatan konvensional selama ini memang telah diterapkan. Namun, daya serap tanah yang terus menurun akibat pembangunan perkotaan dinilai menjadi faktor yang turut memperparah terjadinya genangan dan banjir.
Dari kondisi itulah sebuah pertanyaan kemudian muncul.
Bagaimana jika material infrastruktur kota justru dirancang untuk membantu air kembali masuk ke dalam tanah?
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab melalui pengembangan BioSil-C yang menggabungkan teknologi biochar tempurung kelapa dengan nanosilika aktif.
Melalui pendekatan tersebut, air hujan diharapkan dapat lebih cepat diresapkan ke dalam tanah sehingga limpasan permukaan dapat dikurangi secara signifikan.
BioSil-C, Inovasi Paving Block Ramah Lingkungan Berbasis Biochar Tempurung Kelapa
Dalam penelitian yang dilakukan, tempurung kelapa yang selama ini sering dianggap sebagai limbah dimanfaatkan sebagai bahan baku utama pembuatan biochar.
Material biochar diketahui memiliki struktur pori yang tinggi sehingga kemampuan penyerapan air dapat ditingkatkan. Selain itu, keberadaan biochar juga memungkinkan terjadinya proses adsorpsi terhadap berbagai zat pencemar yang terbawa oleh aliran air permukaan.
Keunggulan inilah yang kemudian dipadukan dengan nanosilika aktif untuk menghasilkan paving block yang tidak hanya kuat secara mekanis, tetapi juga memiliki fungsi ekologis.
Melalui teknologi tersebut, dua manfaat sekaligus dapat diperoleh.
Pertama, infiltrasi air ke dalam tanah dapat ditingkatkan sehingga risiko banjir perkotaan berpotensi ditekan.
Kedua, kualitas lingkungan dapat diperbaiki karena kandungan biochar mampu membantu menyerap logam berat yang terbawa limpasan air hujan.
Dengan kata lain, BioSil-C tidak hanya berfungsi sebagai material konstruksi, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengelolaan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan.
Mendukung Kota Hijau dan Pembangunan Rendah Karbon
Keunggulan BioSil-C tidak berhenti pada kemampuannya mengurangi genangan air.
Dalam kajian yang dilakukan tim peneliti, penggunaan biochar juga dinilai mampu memberikan kontribusi terhadap upaya penurunan emisi karbon.
Material berbasis biomassa tersebut diketahui memiliki potensi penyimpanan karbon yang lebih baik dibandingkan bahan konvensional. Oleh karena itu, jejak karbon yang dihasilkan selama proses produksi dapat ditekan secara signifikan.
Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan, penggunaan BioSil-C berpotensi mengurangi jejak karbon hingga lebih dari 50 persen dibandingkan paving block konvensional.
Potensi tersebut membuat inovasi ini dinilai selaras dengan agenda pembangunan rendah karbon yang saat ini tengah didorong di berbagai daerah.
Tidak mengherankan apabila BioSil-C kemudian menjadi salah satu inovasi yang mendapat perhatian khusus dalam Kompetisi Riset Perguruan Tinggi Kota Surakarta Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surakarta.
Proses Panjang di Balik Sebuah Prestasi
Di balik penghargaan yang diterima, terdapat proses penelitian panjang yang harus dilalui. Berbagai pengujian dan penyempurnaan konsep dilakukan agar inovasi tersebut dapat diterapkan secara nyata.
Dalam proses tersebut, pendampingan diberikan oleh dosen pembimbing, Dr. Ir. Fahmi Arifan.
Melalui arahan dan evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan, konsep awal yang masih berupa gagasan sederhana akhirnya berhasil dikembangkan menjadi penelitian yang memiliki nilai implementasi tinggi.
Berbagai tantangan juga harus dihadapi selama proses riset berlangsung.
Mulai dari proses formulasi material, pengujian karakteristik biochar, hingga analisis potensi penerapan di lingkungan perkotaan harus dilakukan secara cermat agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Bukti Mahasiswa Vokasi Mampu Melahirkan Solusi Nyata
Bagi Fahmi Arifan, keberhasilan yang diraih oleh Luis dan Fajar menjadi bukti bahwa mahasiswa vokasi memiliki kemampuan besar dalam menghasilkan inovasi yang aplikatif.
Menurutnya, riset tidak semestinya hanya berhenti di ruang laboratorium atau menjadi sekadar dokumen akademik.
Sebaliknya, riset harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sehari-hari.
“Ini bukan hanya soal memenangkan kompetisi, tetapi bagaimana mahasiswa mampu melihat masalah nyata di masyarakat dan menawarkan solusi yang bisa diterapkan. Luis dan Fajar membuktikan bahwa inovasi kampus bisa menjadi bagian dari perubahan,” ungkap Fahmi Arifan.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menciptakan inovator muda yang mampu menjembatani kebutuhan industri, lingkungan, dan masyarakat.
Dari Tempurung Kelapa Menuju Masa Depan Kota Berkelanjutan
Bagi Luis Ibanez Sitinjak, penghargaan yang diterima bukanlah tujuan akhir.
Riset yang dilakukan justru dipandang sebagai langkah awal untuk menghadirkan solusi lingkungan yang lebih luas.
Ia berharap inovasi yang dikembangkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk melihat limbah sebagai sumber daya yang memiliki nilai tambah.
Selain itu, konsep pembangunan kota yang lebih hijau juga diyakini dapat diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin menunjukkan bahwa solusi lingkungan bisa dimulai dari hal yang dekat dengan masyarakat, bahkan dari limbah yang sering dianggap tak berguna. Harapannya, konsep ini bisa menjadi inspirasi untuk pembangunan kota yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujar Luis.
Pernyataan tersebut mencerminkan semangat generasi muda yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada dampak sosial yang dapat dihasilkan dari sebuah penelitian.
Penghargaan Diserahkan pada Puncak HUT Kota Surakarta 2026
Atas keberhasilan tersebut, penghargaan Juara 2 Kompetisi Riset Perguruan Tinggi Kota Surakarta Tahun 2026 diserahkan secara langsung oleh Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto.
Penyerahan penghargaan dilakukan dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kota Surakarta yang berlangsung pada 17 Juni 2026.
Momentum tersebut menjadi simbol penting bahwa riset mahasiswa semakin mendapatkan ruang dalam pembangunan daerah.
Inovasi yang lahir dari kampus kini tidak lagi dipandang sebagai gagasan teoritis semata, melainkan sebagai bagian dari solusi masa depan yang dapat diterapkan untuk menjawab berbagai tantangan perkotaan.
Ketika Perubahan Besar Berawal dari Sebuah Tempurung Kelapa
Kisah BioSil-C menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Limbah tempurung kelapa yang selama ini dianggap tidak bernilai berhasil diubah menjadi inovasi yang menawarkan solusi bagi banjir perkotaan, pengelolaan lingkungan, dan pengurangan emisi karbon.
Melalui riset yang dilakukan oleh Luis Ibanez Sitinjak dan Fajar Daruwijaya, sebuah pesan penting kembali ditegaskan: masa depan kota yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan dapat dibangun melalui kreativitas, ilmu pengetahuan, dan keberanian untuk berpikir berbeda.
Dari sepotong tempurung kelapa, lahir harapan baru bagi lingkungan. Sebuah bukti bahwa riset mahasiswa Indonesia mampu menjadi bagian dari perubahan besar yang dibutuhkan bangsa.(mus)
