Enam Bulan Terendam Banjir, Warga Sayung Kidul Menjerit, Luapan Sungai Rendam Permukiman, Kepala Desa Tak Pernah Datang

FOLKSTIME.ID – Derita panjang dialami warga pesisir di Desa Sayung Kidul RT 02/RW 03, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Selama kurang lebih enam bulan, permukiman mereka terendam banjir akibat luapan sungai yang tak kunjung surut.

Kondisi diperparah karena daratan desa yang rendah membuat air terus menggenang dan sulit surut.

Jeritan warga ini disampaikan oleh Ziddan Kaffi, perwakilan warga Sayung Kidul, yang mengaku sudah kehabisan cara untuk meminta perhatian pemerintah dan pihak terkait.

“Kami di sini sudah terendam banjir kurang lebih enam bulan. Saya berniat meminta tolong dan mengajak teman-teman media untuk meliput, menyuarakan kondisi desa kami agar bisa jadi atensi pihak-pihak terkait,” ujar Ziddan Kaffi kepada wartawan,Jum’at (24/4/2026).

Menurut Ziddan, banjir yang merendam desa karena sungai meluap ke area persawahan lalu mengalir ke permukiman warga.

“Iya mas, air sungai meluap ke sawah, lalu nimbal ke desa yang daratannya rendah,” jelasnya.

Kondisi di lapangan pun semakin memprihatinkan. Foto yang ia kirimkan dua minggu lalu bahkan sudah tak lagi menggambarkan keadaan terkini karena ketinggian air terus bertambah.

“Itu foto dua minggu lalu, sekarang airnya sudah sepaha orang dewasa,” katanya.

Warga sebenarnya tak tinggal diam. Dengan segala keterbatasan, mereka berusaha melakukan penanganan seadanya.

Sebuah mesin pompa telah disiapkan dan dana swadaya warga digunakan untuk membeli material padas guna pengurukan.

Namun upaya itu seolah tak berarti ketika debit air kembali meningkat.

“Mesin pompa ada satu, sama ada dana buat beli padas untuk penggurukan, tapi baru sedikit karena keburu banjir besar lagi,” ungkapnya.

Yang membuat keadaan semakin ironis, di tengah penderitaan berkepanjangan ini, warga merasa seperti berjuang sendiri.

Bahkan, menurut Ziddan, sosok yang seharusnya paling dekat dengan rakyat justru belum pernah datang meninjau langsung.

“Kepala desanya aja nggak pernah ke sini,” ucapnya lirih.

Kini, akses menuju lokasi pun tak lagi mudah. Jalanan yang dulu bisa dilalui kendaraan kini berubah menjadi aliran air.

Siapa pun yang ingin melihat langsung kondisi warga, harus menggunakan perahu rakitan.

“Kalau mau ke sini kabarin, nanti naik perahu rakitan,” kata Ziddan.

Di tengah bencana yang tak kunjung surut, warga Sayung Kidul hanya berharap suara mereka tak ikut tenggelam bersama genangan air.

Sebab yang perlahan hanyut bukan hanya sawah, jalan, dan rumah mereka, tetapi juga harapan akan hadirnya perhatian dari para pemangku kebijakan.

Artikel Menarik Lainnya